FPG Walk Out, Raski Sebut MJP ‘Pandang Enteng’

  • Whatsapp

Sulut, detiKawanua.com – Fraksi Partai Golkar (FPG) DPRD Sulut Walk Out dari rapat konsultasi pembahasan Ranperda Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Covid-19.

Diketahui, dalam rapat konsultasi ranperda Covid-19 berbagai pendapat dan hujan interupsi hingga berpuncak pada FPG yang meninggalkan rapat konsultasi disebabkan oleh anggota DPRD Komisi IV, Melky Jachin Pangemanan (MJP) yang mengatakan bahwa hanya 3 Fraksi memasukkan pandapat akhir, sedangkan Fraksi Golkar dan Demokrat belum memasukan pendapat akhir Fraksi.

Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh MJP, sontak membuat Ketua FPG Raski Mokodompit tersinggung dan mengajak semua anggota DPRD Fraksi Golkar yang hadir secara fisik maupun virtual untuk meninggalkan rapat yang dipimpin Ketua DPRD Sulut Fransiscus Andi Silangen.

“Semua Fraksi Golkar baik fisik maupun virtual segera meninggalkan rapat,” ajak Rasky Momodompit, Senin (22/02) bertempat diruang Paripurna DPRD.

Lanjutnya, berarti dalam ranperda ini Golkar tidak diperlukan lagi. “Sekarang kita keluar dari rapat ini,” tegas Raski Mokodompit sambil berdiri langsung meninggalkan ruangan yang diikuti 2 anggota FPG Careig Runtu dan Winsulangi Salindeho.

Ketika diwawancarai oleh sejumlah awak media di luar ruangan, Legislator dapil Bolmong raya ini menjelaskan sikap Walk Out bukan karena tidak diakomodirnya catatan-catatan FPG dalam pembahasan ranperda Covid-19.

“Ini terlalu ‘Pandang enteng’. Tadi disampaikan hanya 3 Fraksi yang memasukan pendapat akhir, berarti Golkar tidak dipakai lagi. Kalau memang Fraksi Partai Golkar tak lagi dipandang, kenapa kita harus disitu,” tukasnya.

Ia menambahkan, kalimat MJP seolah-olah tidak membutuhkan fraksi Golkar, karena dari 5 Fraksi yang ada di DPRD hanya Fraksi Golkar dan Demokrat yang tidak memasukkan pendapat akhir.

“Bahasanya kan jelas, kalau sudah ada 3 fraksi ya lanjut saja, berarti mereka tidak membutuhkan fraksi Golkar dan Fraksi yang satunya lagi. Nah kalau kami sudah tidak dibutuhkan, kalau begitu kami meninggalkan ruang rapat,” Imbuhnya.

Menurutnya, perkataan MJP bisa menciptakan permusuhan. “Kalau kita orang berpendidikan kita tahu mana yang harus disampaikan dalam forum rapat dan mana yang tidak boleh. Mana kalimat-kalimat berteman dan mana kalimat-kalimat mengajak pada permusuhan,” tandasnya.

(Enda)

Pos terkait