Pumpun Warga BMR, Tradisi atau Gengsi ??

  • Whatsapp
Pusat Perbelanjaan. /Ist

Kotamobagu, detiKawanua.com – Kota Manado memang masih menjadi ‘surga’ belanja warga Bolaang Mongondow Raya (BMR). Menariknya, sudah menjadi kebiasaan masyarakat BMR, mulai H-10 hingga H-2 Hari Raya Idul Fitri akan ‘menyerbu’ Kota Manado. Bahkan,  tak jarang tradisi ‘ba pumpun’ ini sering dijadikan bahan candaan.

Bacaan Lainnya

“Karena di Manado lebih banyak pilihan, terutama fashion. Ada kesan, orang BMR khusus lebaran ingin mengenakan pakaian atau celana ber-merk. Terlebih anak muda. Inginnya menggunakan produk-produk, quicksilver, spiderbilt, volcom, dan banyak lagi merk yang tidak ada di Kotamobagu,” kata Anto Potabuga, warga Desa Upai, Kotamobagu Utara.

Ia mengaku memboyong keluarganya melestarikan ‘tradisi ba pumpun’ ke Manado, Sabtu (04/07). Dengan menyewa mobil, ia pagi-pagi sudah berangkat ke Manado, tujuan ke kawasan Mega Mas dan Mantos. Ia mengaku mengambil waktu bapumpun lebih awal bertepatan dengan cairnya gaji ke 13 dan gaji bulan Juli. “Sejak dulu saya berbelanja ke Manado jika mendekati lebaran. Yang pastinya beli kebutuhan saat lebaran nanti,” ungkap Anto.

Kebiasaan warga BMR untuk lebih memilih membeli keperluan lebaran di luar daerah alias ba pumpun, karena kemudahan mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Bahkan, sejumlah warga mengakui, mereka harus mengantongi minimal Rp2 juta per kepala jika ingin berbelanja di Manado. Nah, jika dihitung 6.720 warga yang berbelanja dengan pengeluaran Rp2 juta, maka uang warga BMR yang dibelanjakan di Manado sekitar Rp13,5 miliar.

Bahkan, pengamat ekonomi, Mustari Talamati SE ME, mengatakan, kurangnya stategi dagang, membuat pertokoan dan distro di Kotamobagu kalah bersaing dari pertokoan di Manado.

“Sudah barangnya kurang lengkap, strategi dagang juga tidak terlalu baik. Harusnya pertokoan dan distro di Kotamobagu bisa menerapkan strategi diskon yang menarik bagi masyarakat. Kalau barangnya bagus-bagus dan diskonnya tinggi pasti masyarakat tidak mudah beralih ke daerah lain. Selain itu, alasan rekreasi juga membuat masyarakat pergi ke Manado,” jelas Talamati.

“Selain itu, faktor gengsi juga yang menjadi alasan utama. Jika Jakarta
hanya dekat, palingan lebih memilih ke Jakarta ketimbang Manado, supaya
gengsinya lebih tinggi” (David Budiman, Pengusaha Muda BMR)

Ia berharap, Pemerintah Kotamobagu bisa memikirkan langkah pasti untuk mengantisipasi hal ini. “Cobalah pemerintah menarik investor untuk membangun pusat perbelanjaan yang lengkap dan tempat rekreasi yang menarik. Dengan begitu niat mereka untuk keluar daerah pasti berkurang. Kalau fasilitas di Kotamobagu begini terus, maka budaya seperti ini tak akan pernah hilang dan imbasnya perputaran uang di Kotamobagu tak akan pernah meningkat,” ujar salah satu Dosen STIE Widya Darma ini.

Sementara, menurut salah salah satu pengusaha muda BMR, David Budiman, budaya ‘ba pumpun’ bukan lagi sebagai bentuk memenuhi kebutuhan keperluan hari raya, tapi lebih kepada menghambur-hamburkan uang.

“Untuk ongkos transportasi saja, masyarakat harus habiskan ratusan ribu, apalagi untuk berbelanja dan pasti tak mereka akan berbelanja dalam jumlah besar dan itu sudah dikategorikan pemborosan,” ujarnya.

Ia juga membantah jika faktor utama masyarakat BMR lebih memilih berbelanja diluar daerah, karena sulitnya mendapat kebutuhan di daerah sendiri. Ditegaskan, semua kebutuhan masyarakat di hari raya telah terpenuhi di Kotamobagu dan harga serta jenis barangnnyapun tak ada perbedaan.

“Kenapa juga harus pergi ke daerah tetangga sedangkan di daerah sendiri semua barang sudah tersedia dengan lengkap. Barang-barang yang disini juga kan asalnya dari sana, jadi tak ada bedanya,” kata Ko’ Fanny, sapaan akrabnya.

Lanjutnya, selengkap apapun dan semurah apapun harga barang di daerah sendiri, budaya ini sulit dihilangkan jika kesadaran diri masyarakat untuk mengakui kualitas barang di daerah sendiri masih kurang.

“Selain itu, faktor gengsi juga yang menjadi alasan utama. Jika Jakarta hanya dekat, palingan lebih memilih ke Jakarta ketimbang Manado, supaya gengsinya lebih tinggi,” canda pria low profile ini.

Meski belum ada data real berapa masyakat BMR yang bapumpun ke Manado, Kepala Seksi BPS, Abdul Kango mengakui, rupiah orang BMR di belanjakan pasti milyaran rupiah. “Kebanyakan masyarakat yang berbelanja rata-rata dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Sedangkan masyarakat ekonomi menengah kebawah lebih memilih di daerah sendiri. Makanya besaran dana yang dikeluarkan cukup besar,” ungkapnya. (*/rbm/vkg)

Pos terkait