Kajian Steering Committee (SC) RAKERWIL DPW BKPRMI Sulut 2026
Penulis : Syarif Aif Darea (Ketua SC)
Thomas S. Kuhn berpendapat paradigma adalah cara pandang dunia yang kita anggap normal. Selama paradigma itu tidak diguncang, kita akan terus mengulang kesalahan yang sama dan menyebutnya sebagai tradisi. (The Structure of Scientific Revolutions).
Krisis Pemuda Remaja Masjid hari ini tak lain adalah terjebak dalam paradigma normal yang usang. Sebagai pelengkap, bukan pusat. Maka memulai gerakan dari pijakan ini, memang bukan sekadar memperbanyak program seremonial, atau reposisi struktural, peran atau semacamnya.
Yang dibutuhkan adalah revolusi cara pandang atau biar keren dan terkesan aktivisme, kita gunakan istilah Revolusi Paradigma. Mengutip Foucault tentang Episteme yaitu sistem pengetahuan tak terlihat yang mengatur apa yang dianggap benar dan salah di sebuah zaman. Dimana episteme lama menempatkan pemuda remaja pada stigma belum matang, harus patuh jangan berpendapat, sudah membentuk yang oleh Gramsci disebut hegemoni.
Hegemoni kultural, saya ingin mengatakan itu, dimana harus tunduk pada episteme lama, menjadikan masjid menjadi ruang yang sempit, tak lagi inklusif. Peribadatan bahkan menjadi seremonial dan ajang pamer keshalehan simbolik.
Dari cara pandang itulah kita harus merevolusi. Membongkar episteme lama itu, tarik paksa pada episteme profetik: Islam tidak pernah mengenal kasta, turunan dan usia dalam kebenaran. Dimana Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, menceritakan kejayaan sebuah peradaban (asabiyah) selalu digerakkan oleh solidaritas kelompok muda dengan energi kolektif untuk membangun.
Revolusi itu harus menciptakan ruang akselerasi: eksistensi. Martin Heidegger membedakan antara Sein (sekadar ada) dan Dasein (keberadaan yang menyadari dan memberi makna). Banyak orang hari ini hanya Sein di masjid jasadnya ada, tapi jiwanya tidak mengada. Datang, shalat, pulang. Maka dibutuhkan pemahaman eksistensi secara ontologis, adalah mengubah Sein menjadi Dasein: pemuda remaja yang keberadaannya melekat dengan masjid. Masjid bukan sekedar tempat yang ia kunjungi, tapi menjadi identitas yang ia bawa.
Mungkin ini yang dimaksud Al-Farabi tentang Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota Utama). Kota ideal tidak dibangun dari batu, tapi dari manusia-manusia yang menjadikan kebajikan sebagai mode of being-nya. Remaja masjid harus menjadi warga kota utama itu. Dan pada garis bawahnya adalah pertanyaan filosofis bukan lagi “Sudahkah kamu ke masjid?”, tapi “Sudahkah masjid menjadi dirimu?”
Selanjutnya pada ruang epistemologis. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed mengkritik pendidikan model bank : ustadz menabung ilmu, jamaah hanya menerima. Model ini mematikan nalar kritis. Di banyak kajian remaja masjid, yang terjadi adalah model bank ini. Remaja dianggap gelas kosong. Padahal dalam tradisi Islam, epistemologi tidak pernah monolog.
Imam Al-Ghazali mengajarkan syak (keraguan metodis) sebagai jalan menuju yakin. Imam Syafi’i berkata, “Pendapatku benar tapi bisa salah, pendapat orang lain salah tapi bisa benar.” Kedepan, ceramah satu arah wajib menjadi Halaqah Dialektika. Remaja boleh bertanya tentang ateisme, tentang cinta, tentang depresi, tentang crypto. Masjid harus jadi tempat paling aman untuk pertanyaan paling berbahaya.
Kemudian, dari menghafal dalil menjadi memahami Maqashid. Jangan hanya ajarkan “ini haram”, tapi ajarkan mengapa syariat itu melindungi akal, jiwa, dan masa depan. Secara aksiologis : Dari Saleh Ritual menjadi saleh Revolusioner. Ini yang paling penting. Selama ini, aksiologi (sistem nilai) remaja masjid berhenti di nilai kesalehan privat: shalat tepat waktu, tilawah lancar. Ali Syariati menyebut ini sebagai “Islam Individual”. Padahal yang dibutuhkan adalah “Islam Ideologis” — Islam yang menjadi kekuatan pembebas.
Pergeseran cara pandang aksiologis ini akan merubah definisi shaleh: Rajin ibadah untuk masuk surga sendirian. Yang seharusnya menjadi, Ibadahnya adalah bahan bakar untuk menyelesaikan masalah umat. Begitulah Al-Qur’an menetapkan konsep khalifah, bukan sekadar hamba, tapi juga wakil Tuhan untuk mengelola kehidupan. Pemuda Remaja masjid tidak cukup hanya khusyuk di mihrab, tapi harus tangguh di pasar, di kampus, di media sosial, di ruang-ruang krisis sosial, dimana saja.
Sebagai pembaca Muhammad Iqbal , dia menggambarkan tentang Khudi — Ego yang tercerahkan. Pemuda yang sangat modern dalam skill, tapi sangat tradisional dalam prinsip. Yang bisa membuat konten TikTok dakwah sekeren selebgram, tapi qiyamul lail-nya tidak putus. Inilah selanjutnya disebut oleh Malik Bennabi sebagai syarat kebangkitan: perpaduan antara ide dan manusia. Ide Islam sudah sempurna, yang kurang adalah manusia yang mampu membumikannya dengan bahasa zamannya.
Jika Thomas Kuhn benar bahwa revolusi paradigma lahir ketika anomali sudah tak bisa ditutupi, maka anomali kita sudah jelas: masjid-masjid megah tapi sepi, dan pemuda remaja cerdas tapi galau arah. Maka revolusi ini adalah keniscayaan.
Mari kembali pada obsesi Masjid dari sekadar tempat sujud menjadi laboratorium peradaban — tempat di mana para pemuda remajanya dengan segala kegalauan dan potensinya, ditempa menjadi arsitek masa depan. Karena pada akhirnya, seperti kata Pramoedya Ananta Toer: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran.”
Transformasi di Era Digital Pada Dunia Mundial
Pemuda remaja masjid harini berada pada sebuah dunia yang oleh sosiolog Prancis Jacques Ellul disebut La Technique, dunia di mana teknologi bukan lagi alat, tapi sudah menjadi tuhan baru.
Dunia ini sering disebut Dunia Mundial — dari kata mondialisation, global yang mendunia, tanpa batas, tanpa pusat. Dan memang kita sedang hidup disebuah desa global yang kehilangan Jiwa.
Marshall McLuhan 60 tahun lalu sudah meramalkan: teknologi akan membuat dunia menjadi Global Village — desa global. Ramalannya benar. Hari ini remaja masjid di Manado bisa live TikTok dengan remaja masjid di Maroko dalam satu detik. Namun McLuhan tidak memprediksi: desa ini sangat berisik, tapi sangat sepi.
Byung Chul Han, filsuf Korea-Jerman, menyebut fenomena ini sebagai The Burnout Society. Kita terkoneksi dengan semua orang, tapi tidak terhubung dengan diri sendiri. Remaja masjid hari ini bukan kekurangan informasi, tapi kelebihan distraksi. Bukan kekurangan akses, tapi kekurangan arah.
Inilah paradoks digital yang harus kita pahami.
Dulu, untuk sesat orang harus keluar rumah. Sekarang, kesesatan itu masuk lewat genggaman. Dulu, masjid bersaing dengan pasar. Sekarang, masjid bersaing dengan algoritma. Algoritma TikTok, Instagram, dan YouTube bekerja dengan satu filsafat: Jika kamu tidak bisa mengendalikan perhatianmu, maka kamulah produknya. Ini yang dikritik Shoshana Zuboff sebagai Surveillance Capitalism — kapitalisme yang memanen perilaku manusia.
Lalu di mana posisi Remaja Masjid di tengah peperangan memperebutkan perhatian ini ?. Mari kita bongkar tiga Ilusi digital yang agar tidak menjadi korban di era digital tentu dengan kacamata filsafat.
Pertama Ilusi Kebenaran : Dari Logos Menjadi Likes, Jean Baudrillard memperkenalkan istilah Hyperreality — keadaan di mana yang palsu terasa lebih nyata daripada yang nyata. Di media sosial, kebenaran tidak lagi ditentukan oleh dalil dan data (logos), tapi oleh jumlah likes dan views. Banyak remaja lebih percaya pada Ustadz TikTok 30 detik yang viral, daripada kitab kuning yang dikaji 30 tahun. Kebenaran menjadi demokratis, tapi dangkal.
Remaja Masjid harus mengembalikan logos. Pemuda remaja masjid harus menjadi kurator kebenaran. Meminjam konsep Al-Kindi dan Al-Farabi, kita harus menghidupkan kembali tradisi tabayyun — verifikasi. Bukankah Qur’an sudah mengingatkan pada ayat anti hoax, QS. Al-Hujurat: 6 “Jika datang orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti.” Pemuda remaja masjid di era digital harus menjadi fact-checker peradaban.
Kedua, Ilusi Kebahagiaan : Dari Eudaimonia Menjadi Dopamin, Aristoteles mengatakan tujuan hidup adalah Eudaimonia, kebahagiaan hakiki karena hidup bermakna dan berbudi luhur dan selayaknya itu perlu proses panjang. Dunia digital menawarkan kebalikannya: kebahagiaan instan berbasis dopamin. scroll, like, dopamine. scroll lagi. Inilah yang disebut Yuval Noah Harari dalam Homo Deus, manusia modern menukar makna dengan kenikmatan. Sejurus melahirkan generasi yang cemas, mudah insecure, dan cepat depresi. Sebab membandingkan behind the scene hidupnya dengan highlight reel hidup orang lain, frustasi.
Untuk itu, Transformasi remaja masjid adalah mengembalikan sumber dopamin: dari validasi netizen, menjadi validasi langit. Dari flexing duniawi, menjadi dzikir yang menenangkan. Inilah yang dalam tasawuf disebut hijrah dari syahwat menuju mujahadah.
Ketiga, Ilusi Komunitas: Dari Ummah Menjadi Followers, Manuel Castells, dalam The Rise of the Network Society, berkata: di era digital, kekuasaan ada pada mereka yang menguasai jaringan. Dunia mundial membuat kita punya 5.000 followers, tapi tidak punya 5 orang yang datang saat kita berduka. Kita punya komunitas digital, tapi kehilangan ummah — komunitas yang berjiwa, bertanggung jawab, dan saling menanggung.
Strategi Transformasi : Menjadi Digital Khalifah, Bukan Digital Qabilah
Menghadapi kenyataan tiga ilusi tadi, Kita tidak boleh menjadi anti-teknologi. Dalam kaidah fiqih: Al-ashlu fil asya’ al-ibahah — hukum asal segala sesuatu adalah boleh. Teknologi adalah netral, tergantung siapa yang menggunakannya. Pemuda remaja Masjid harus bertransformasi dari Digital Qabilah (Suku Digital) — yang hanya menjadi konsumen dan korban algoritma — menjadi Digital Khalifah — pemimpin di ruang digital.
Perlu kita merumuskan formula praktisnya: Dari Konsumen Konten Menjadi Produsen Peradaban (Content Creator Peradaban). Jangan hanya mengonsumsi ceramah. Produksilah. Dunia mundial butuh wajah Islam Sulawesi Utara yang toleran, kreatif, dan cerdas.
Masjid harus punya Media Lab: Studio mini untuk podcast, editing video dakwah 1 menit, desain poster. Kuasai bahasa zaman: Storytelling, bukan ceramah. Thread Twitter/X yang mendalam, bukan hanya status “galau islami”.
Kelabui Algoritma menjadi hati : Gerakan Offline yang otentik. Algoritma tidak bisa mengalahkan kehangatan. Buat program yang tidak bisa didigitalkan. Semisal Ngobrol Perkara Iman (Ngopi) di warkop setelah Isya, membahas kesehatan mental, percintaan dalam Islam, cara menghadapi orang tua. Gerakan Masjid peduli data: Ajarkan remaja tentang etika digital, bahaya judi online, pinjol, dan pornografi dalam perspektif fiqih kontemporer.
Epilog : Dari Global yang Bising Menjadi Lokal yang Berdampak
Kajian yang menjadi essay ini adalah bahagian dari diskusi mendalam Steering Comitte untuk Rapat Kerja DPW BKPRMI Sulawesi Utara. Kajian inilah yang menjadi landasan filosofis serta gagasan kontemporer untuk dirujuk menjadi aksi dalam kerja-kerja kepengurusan masa khidmat kedepan.
Merujuk ulang Marshall McLuhan, dia bilang “Think Globally, Act Locally”. Dunia mundial membuat kita pusing memikirkan Gaza, Amerika, dan Eropa, tapi lupa tetangga sebelah masjid yang kelaparan. Menjadi digital khalifah harusnya kita taktis menggunakan jaringan global untuk memperkuat aksi lokal.
Live streaming kajian dari masjid-masjid di Sulawesi Utara, untuk menginspirasi dunia, tapi juga menggunakan WhatsApp Group untuk menggerakkan kerja bakti pemeliharaan masjid, bakti sosial, peduli pada realitas sosial yang memilukan. Lebih aktif menyantuni anak yatim fakir miskin dan janda. Kegiatan-kegiatan yang lebih menghangatkan keakraban dan kepedulian semacam Festival Remaja Masjid dan Jambore.
Dunia mundial tidak akan menunggu kita siap. Ia terus berjalan. Jika dulu, Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi menguasai ilmu pengetahuan dunia karena mereka menguasai bahasa ilmu pada zamannya (Yunani dan Sanskerta). Maka hari ini, kader-kader BKPRMI di Sulawesi Utara harus menguasai bahasa ilmu pada zamannya : bahasa coding, bahasa desain, bahasa algoritma. Karena pada hakikatnya, dakwah adalah penerjemahan. Menerjemahkan kebenaran yang abadi ke dalam bahasa yang dipahami zaman.
Revolusi paradigma telah kita mulai di dalam masjid. Transformasi digital adalah medan jihad kita. Jika tidak, kita akan menjadi seperti yang diramalkan Nietzsche: menjadi generasi terakhir yang berdoa di dalam museum bernama masjid. Na’udzubillah.








