SULUT – Riuh rendah tepuk tangan di ruang Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sulawesi Utara, 11 April lalu, bukan sekadar seremoni politik biasa. Bagi dr. Michaela Elsiana Paruntu, MARS, atau yang akrab disapa MEP, momen itu adalah penanda babak baru dalam sebuah perjalanan yang penuh warna dan ujian.
Terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Utara periode 2026-2030, Michaela kini memikul tanggung jawab besar. Ia bukan lagi sekadar “adik dari Tetty Paruntu” atau sosok yang sempat viral karena ketegaran hatinya menghadapi badai domestik beberapa tahun silam. Kini, ia adalah nakhoda utama partai berlambang beringin di Bumi Nyiur Melambai.
Latar belakangnya sebagai seorang dokter (MARS) membawa warna tersendiri dalam gaya kepemimpinannya. Rekan-rekannya di DPRD Sulut, tempat ia menjabat sebagai Wakil Ketua, sering menyebut Michaela sebagai sosok yang tenang namun presisi—layaknya seorang dokter yang sedang mendiagnosis masalah sebelum mengambil tindakan.
“Politik bagi saya adalah bentuk pelayanan yang lebih luas. Jika di rumah sakit saya menyembuhkan pasien, di politik kita berupaya menyembuhkan kebijakan yang belum berpihak pada rakyat,” ujar Michaela dalam sebuah kesempatan bincang santai.
Lahir dari keluarga politisi tangguh putri dari mendiang Jopie Paruntu dan Jenny Tumbuan, Michaela sadar betul bahwa ekspektasi publik sangat tinggi. Namun, ia berhasil membuktikan kapasitasnya melalui perolehan suara yang signifikan di Dapil Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara pada Pemilu lalu.
Keberhasilannya naik kelas dari Ketua DPD II Minsel menjadi Ketua DPD I Provinsi menunjukkan kepercayaan akar rumput yang solid. Di bawah kepemimpinannya, Golkar Sulut diharapkan mampu melakukan regenerasi kader dan merangkul pemilih muda dengan pendekatan yang lebih humanis dan modern.
Banyak orang masih mengingatnya sebagai sosok wanita kuat yang menghadapi cobaan hidup dengan kepala tegak. Ketenangan yang ia tunjukkan di masa sulit dahulu kini bertransformasi menjadi kewibawaan seorang pemimpin. Bagi banyak perempuan di Sulawesi Utara, MEP adalah simbol resilience, kemampuan untuk bangkit kembali lebih kuat setelah dijatuhkan oleh keadaan.
Kini, tugas berat menanti di depan mata, mengawal kemenangan partai di Pilkada mendatang dan memastikan aspirasi warga Sulut tersampaikan di gedung cengkih. Dengan stetoskop politiknya, Michaela Paruntu siap mendengarkan denyut nadi masyarakat dan meramu “resep” terbaik bagi kemajuan daerahnya.
The Power of MEP: Babak Baru Michaela Paruntu










