SULUT – Aksi unjuk rasa ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi “Sulut Menyambut Revolusi” di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada Rabu sore, 17 Juni 2026, berakhir dengan kericuhan. Massa aksi yang tak terkendali terlibat saling dorong dengan aparat hingga menyebabkan robohnya pagar pembatas utama gedung dewan.
Merespons tindakan anarkis tersebut, Anggota Komisi I DPRD Sulut, Hillary Julia Tuwo, menyatakan keprihatinan yang mendalam. Sebagai salah satu legislator muda yang selama ini konsisten membuka ruang dialog dengan generasi muda, Hillary sangat menyesalkan terjadinya pengrusakan fasilitas negara tersebut.
Hillary menegaskan bahwa pintu DPRD Sulut selalu terbuka lebar untuk mendengar dan mengawal 16 tuntutan mahasiswa, termasuk polemik lokal seperti transparansi draf Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), evaluasi program Trans Manado, hingga tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan kampus. Namun, ia menyayangkan mengapa perjuangan gagasan yang murni harus dinodai oleh aksi fisik yang merugikan.
“Kami sangat menyayangkan adanya pengrusakan fasilitas publik seperti robohnya pagar gedung dewan hari ini. Fasilitas ini dibangun menggunakan uang rakyat, dan merusaknya justru mencederai niat baik serta esensi dari perjuangan yang dibawa oleh adik-adik mahasiswa sendiri,” ujar Hillary Tuwo.
Menurut Hillary, tindakan merobohkan pagar dan pelemparan botol ke arah aparat keamanan yang berujung pada penyemprotan water cannon sebenarnya bisa dihindari jika massa aksi mengedepankan jalur audiensi yang damai.
Meskipun kecewa dengan kerusakan fisik yang terjadi, Hillary memastikan bahwa fungsi pengawasannya di Komisi I tidak akan terhenti. Pihaknya akan tetap memilah tuntutan mahasiswa, terutama yang bersinggungan langsung dengan kepentingan ekonomi masyarakat Sulut, seperti jaminan ketersediaan BBM bersubsidi dan penolakan pengelolaan sepihak program MBG kampus.
“Sebagai perwakilan rakyat, saya tidak memusuhi mahasiswa. Krisis lapangan kerja, pasokan BBM, dan isu HAM yang mereka bawa adalah hal riil. Tapi tolong, sampaikanlah dengan cara yang cerdas dan elegan, tanpa anarkisme,” tambah legislator dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tersebut.
Hillary juga mengimbau koordinator lapangan aksi untuk melakukan evaluasi internal agar pergerakan mahasiswa ke depan tidak mudah tersusupi oleh oknum-oknum provokator.
Pagar DPRD Sulut Roboh Akibat Demo Ricuh, Hillary Tuwo: Sampaikan Aspirasi Tanpa Harus Merusak Fasilitas Publik










