MINUT – Riuh rendah suara pujian membubung tinggi, menembus atap bangsal raksasa di Desa Pinilih, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara. Di bawah naungan bangunan luas itu, lautan manusia berseragam kaus senada berdiri rapat, nyaris tanpa celah. Sebanyak 27.000 pasang mata anak muda dari berbagai penjuru daerah menyatukan hati dalam pembukaan Youth Teens Camp (YTC) GPdI Sulawesi Utara 2026.
Di sudut panggung, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara sekaligus panitia penyelenggara, Hillary Julia Tuwo, berdiri terpaku. Matanya berkaca-kaca. Memori masa kecilnya mendadak berputar kembali seperti rol film lama.
“Saya tumbuh dan besar di perkemahan GPdI,” kenang Hillary dengan suara bergetar. “Ada momen haru yang luar biasa ketika saya melihat sekitar 27.000 anak muda duduk di bangsal ini. GPdI semakin bertumbuh pesat. Bahkan, bangsal sebesar ini terasa tidak cukup lagi. Masih banyak anak-anak kita yang belum mendapat kesempatan masuk ke dalam karena kapasitas yang sudah benar-benar penuh,” ujarnya, Rabu (01/07/2026).
Bagi Hillary, perkemahan ini bukan sekadar agenda tahunan gereja. Ini adalah ruang sakral tempat karakternya dibentuk sejak kecil, dan kini ia menyaksikannya bertransformasi menjadi sebuah gerakan spiritual masif bagi generasi Z dan Alfa di Bumi Nyiur Melambai.
Keharuan perkemahan tahun ini terasa berlipat ganda. Acara yang berlangsung dari 29 Juni hingga 3 Juli 2026 ini mendapat perhatian langsung dari panggung tertinggi negara. Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, hadir langsung di tengah-tengah ribuan pemuda untuk membuka kegiatan secara simbolis di sela-sela kunjungan kerjanya di Sulawesi Utara.
Kehadiran orang nomor dua di Indonesia itu seolah menjadi angin segar dan validasi besar bagi perjuangan panitia. Wapres Gibran berdiri di hadapan puluhan ribu remaja, memberikan apresiasi tinggi terhadap cara anak muda di Sulawesi Utara menghabiskan waktu libur mereka.
Menurut Pak Wapres, pemandangan di Pinilih ini adalah bukti nyata bahwa anak-anak muda kita mampu membentengi diri. Di tengah gempuran arus digitalisasi dan tantangan zaman, mereka memilih mempergunakan waktu libur untuk kegiatan yang sangat positif: memperkuat karakter spiritualitas melalui perkemahan. Pemerintah melihat ini sebagai modal penting menuju Indonesia Emas 2045.
Di luar bangsal utama, ratusan peserta yang tidak kebagian tempat di dalam tetap setia mendengarkan jalannya acara melalui pengeras suara. Cuaca Minahasa Utara yang kadang terik dan kadang berangin tak menyurutkan semangat mereka.
Selama lima hari, puluhan ribu peserta ini diisolasi dari rutinitas harian untuk mengikuti berbagai kelas intensif. Mulai dari kelas penguatan iman, pelatihan kepemimpinan, hingga diskusi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Mereka diajarkan untuk tidak hanya menjadi jemaat yang taat di dalam gereja, tetapi juga menjadi agen perubahan yang berdampak di masyarakat, sekolah, dan dunia kerja.
Melihat antusiasme yang begitu meledak, Hillary Tuwo menyimpan harapan besar agar momentum ini menjadi titik balik bagi kemajuan generasi muda ke depan. Keterbatasan ruang fisik bangsal hari ini justru menjadi simbol bahwa kerinduan anak muda untuk belajar dan bertumbuh sudah tidak bisa lagi dibendung oleh dinding-dinding bangunan.
“Semakin jaya dan maju anak muda GPdI,” ucap Hillary menutup kalimatnya dengan senyuman bangga, melepas pandangannya kembali ke arah lautan manusia yang terus menggemakan nyanyian syukur di bawah langit Pinilih. Perkemahan mungkin akan usai dalam beberapa hari, namun api spiritualitas yang menyala di hati 27.000 anak muda ini dipastikan akan terus menyala saat mereka kembali ke daerah masing-masing.
Menangis Haru di Bangsal Pinilih: Kisah Hillary Tuwo dan Riuh 27 Ribu Jiwa Muda di Perkemahan GPdI










