Example floating
Example floating
HEADLINEMANADOPOLITIK/PEMERINTAHANSULAWESI UTARA

Bukan Sekadar Singa Podium, Ini Sisi Humanis Ketua DPC Gerindra Manado Louis Schramm

×

Bukan Sekadar Singa Podium, Ini Sisi Humanis Ketua DPC Gerindra Manado Louis Schramm

Sebarkan artikel ini

MANADO – Riuh rendah suara khas perkotaan Manado siang itu mendadak larut dalam diskusi hangat di sebuah sudut pemukiman warga. Di tengah kerumunan, berdiri seorang pria berkacamata dengan pembawaan tenang namun tegas. Ia mendengarkan dengan saksama setiap keluhan warga, mulai dari persoalan drainase yang tersumbat hingga peliknya biaya pendidikan anak-anak kurang mampu.

Pria itu adalah Louis Carl Schramm, S.H., M.H. Bagi sebagian orang, namanya mungkin fiktif di atas kertas suara. Namun bagi masyarakat Manado, sosok yang akrab disapa Louis ini adalah penyambung lidah yang nyata di Gedung Cengkih markas DPRD Sulawesi Utara.

Di panggung politik lokal, legislator yang kini dipercaya mengomandoi barisan sebagai Ketua Fraksi Gerindra DPRD Sulut sekaligus Ketua DPC Gerindra Kota Manado ini dijuluki “Singa Podium”. Julukan itu bukan tanpa alasan. Ketika berbicara di podium parlemen memimpin fraksinya, narasinya tajam, runut, dan berapi-api jika sudah menyangkut hak-hak rakyat kecil dan perlindungan tenaga kerja lokal. Namun, jika temui ia di luar ruang sidang, Anda akan mendapati sosok diplomat yang hangat dan merangkul semua golongan.

Politik sebagai Alat Hukum dan Pengawal Anggaran
Bagi Louis, hukum dan politik bukanlah dua ruang yang terpisah. Latar belakangnya sebagai seorang pengacara senior dan penyandang gelar Magister Hukum membentuk cara pandangnya dalam memimpin fraksi partai berlambang kepala garuda tersebut. Tanggung jawabnya semakin kokoh seiring keaktifannya memimpin meja legislasi dan menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sulut yang membidangi kesejahteraan rakyat, mulai dari pendidikan hingga kesehatan.

Tak hanya di meja komisi, ketajaman Louis dalam membedah kebijakan juga diuji di dapur utama keuangan daerah. Sebagai salah satu personel Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sulut, ia menjadi salah satu benteng utama dalam menyisir dan mengawal alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Di sinilah integritasnya diuji, memastikan setiap rupiah uang rakyat dikembalikan untuk program yang menyentuh langsung hajat hidup orang banyak.

“Bagi saya, politik adalah alat hukum untuk mencapai keadilan,” ujar Louis dalam sebuah bincang-bincang santai baru-baru ini.

Ia percaya bahwa produk hukum dan postur anggaran yang dilahirkan oleh parlemen harus berdampak langsung pada dompet dan piring makan rakyat. “Jika hukum tidak bisa menyejahterakan rakyat melalui kebijakan dan anggaran, maka kita gagal sebagai wakil rakyat,” tegasnya tanpa ragu.

Palu Pansus dan Blueprint Masa Depan Sulut
Jika ada momen ikonik yang mempertegas julukan “Singa Podium” sekaligus kepiawaian hukumnya, itu terjadi saat ruang sidang utama Gedung Cengkih memanas. Louis dipercayakan sebagai Ketua Panitia Khusus (Pansus) yang memimpin pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulawesi Utara Tahun 2025–2029.

Membahas arah pembangunan Sulut untuk lima tahun ke depan bukanlah perkara mudah. Di bawah kepemimpinannya, ruang Pansus bertransformasi menjadi arena adu gagasan yang dinamis namun tetap terukur. Momen ikonik tercatat ketika Louis dengan ketegasan intelektualnya menolak draf yang dinilai kurang berpihak pada perlindungan tenaga kerja lokal dan kelestarian lingkungan lingkungan hidup.

Sambil sesekali mengoreksi diksi hukum dalam naskah akademik Perda secara detail, ia berhasil menyelaraskan ego sektoral berbagai instansi. Ketegasannya mengetuk palu persetujuan RPJMD menjadi bukti nyata bahwa ia bukan sekadar pandai berorasi, melainkan seorang arsitek kebijakan yang visioner bagi Bumi Nyiur Melambai.

Akar Rumput dan Penguatan Partai
Nakhoda Gerindra di Ibu Kota Provinsi kini berada di genggamannya. Sebagai Ketua DPC Gerindra Kota Manado, Louis tidak sekadar mengonsolidasikan struktur partai di atas kertas. Ia membawa mesin partai bergerak dinamis hingga ke tingkat ranting dan anak ranting di lorong-lorong kota.

Bagi para kader di Manado, ia adalah figur pemimpin yang memberi teladan. Keberhasilannya menjaga soliditas partai di tingkat kota berbanding lurus dengan intensitasnya menyerap aspirasi warga secara langsung. Jabatan struktural ini memperkokoh posisinya sebagai politisi yang tidak hanya kuat di level kebijakan makro, tetapi juga mengakar kuat di basis massa paling bawah.

Matang di Organisasi, Merawat Toleransi
Kelihaian Louis di panggung politik tidak lepas dari tempaan panjang di dunia organisasi. Selain aktif di organisasi profesi hukum yang mengasah ketajaman advokasinya, ia juga mengakar kuat di organisasi sosial-keagamaan.

Sulawesi Utara kesohor sebagai salah satu laboratorium toleransi terbaik di Indonesia, dan Louis mengambil peran aktif untuk merawat predikat tersebut. Ujian kepemimpinan sosial-religiusnya terbukti lewat sukses besar saat ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum Panitia Pelaksana Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik I Provinsi Sulawesi Utara.

Perhelatan akbar yang sukses diselenggarakan pada November 2025 lalu itu menjadi bukti nyata kemampuannya dalam merangkul keberagaman. Di bawah komandonya, acara tersebut bukan sekadar ritual kompetisi seni keagamaan, melainkan menjelma menjadi panggung budaya megah yang merekatkan sekat-sekat perbedaan dan merajut harmoni antar-golongan di jazirah utara selebes.

“Dia tahu kapan harus tegas sebagai politisi, ketua fraksi, dan ketua Pansus, dan kapan harus lembut sebagai seorang bapak dan sahabat bagi semua pemeluk agama,” ujar salah satu warga Manado.

Tak sampai disitu, kepeduliannya pada akar budaya dan kearifan lokal tecermin nyata saat ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (Portina) Provinsi Sulawesi Utara Masa Bakti 2025–2029. Di bawah nakhodanya, olahraga tradisional lokal tidak lagi sekadar masa lalu, melainkan dipacu kembali sebagai identitas pemersatu generasi muda di tengah arus modernisasi.


Menatap Horison 2029
Masa jabatan DPRD periode 2024–2029 kini perlahan merayap menuju garis akhir. Di warung-warung kopi hingga ruang diskusi para pengamat politik di Manado, nama Louis Carl Schramm mulai ramai diperbincangkan.

Dengan modal kepemimpinan ganda yang solid menakhodai Fraksi Gerindra di DPRD Sulut, mengawal anggaran di Banggar, memimpin Pansus strategis makro, serta bergerak di berbagai lini organisasi kemasyarakat, spekulasi mengenai langkah politiknya ke depan mulai menghangat. Apakah sang Singa Podium akan melompat ke ranah eksekutif dalam Pilkada mendatang? Ataukah ia akan membawa pemikiran hukumnya ke tingkat yang lebih tinggi di Senayan, Jakarta?

Louis sendiri memilih tetap membumi dan fokus menuntaskan sisa pengabdiannya. Perjalanan politiknya masih panjang, dan publik Sulawesi Utara kini tengah menanti, terobosan dan kejutan apa lagi yang akan dihadirkan oleh pengacara yang kini menjadi tumpuan harapan rakyat Manado ini.