Example floating
Example floating
BOLMONG RAYAPOLITIK/PEMERINTAHANSULAWESI UTARA

Merajut Harmoni di Banjar Buana Kerta: Sentuhan Tulus Angelia Wenas Menjemput Aspirasi Warga Mopugad

×

Merajut Harmoni di Banjar Buana Kerta: Sentuhan Tulus Angelia Wenas Menjemput Aspirasi Warga Mopugad

Sebarkan artikel ini

BOLMONG – Bagi masyarakat Banjar Buana Kerta di Desa Mopugad, Kabupaten Bolaang Mongondow, nama pemukiman mereka bukan sekadar deretan aksara. Dalam filosofi Hindu, Banjar berarti balai, Buana adalah alam kehidupan, dan Kerta membawa makna kesejahteraan serta keharmonisan.

Di tempat yang penuh kedamaian inilah, Anggota DPRD Sulawesi Utara, Angelia R. Wenas (ARW), memilih untuk melabuhkan langkahnya dalam agenda Reses II Masa Persidangan Ketiga Tahun 2026, yang berlangsung sepanjang 1 hingga 4 Agustus 2026.

Bagi Angelia, turun ke daerah pemilihan (dapil) Bolaang Mongondow Raya bukan sekadar rutinitas menggugurkan kewajiban konstitusional. Kehadirannya di tengah warga adalah jembatan hati untuk mempererat tali silaturahmi yang sempat berjarak oleh kesibukan parlemen.

“Kehadiran di tengah masyarakat bukan sekadar menjalankan amanah sebagai Anggota DPRD, tetapi juga membangun kedekatan dan memastikan setiap suara rakyat menjadi bagian dari perjuangan di legislatif,” ungkapnya dengan penuh ketulusan.

Di bawah keteduhan suasana desa, dialog mengalir tanpa sekat. Warga Mopugad memanfaatkan momentum ini untuk menumpahkan harapan-harapan mereka yang selama ini terpendam. Di sektor pertanian, para petani merindukan pasokan bibit tanaman yang berkualitas demi keberlanjutan hajat hidup mereka.

Tak jauh berbeda, para peternak lokal juga menyuarakan kecemasan mereka terhadap ancaman penyakit, mendambakan adanya bantuan bibit hewan sekaligus formula konkret penanganan virus yang kerap mengintai ternak warga. Selain itu, denyut nadi perekonomian desa juga sangat bergantung pada infrastruktur, di mana perbaikan jembatan dan fasilitas balai desa menjadi poin krusial yang mendesak untuk segera dibenahi.

Namun, reses kali ini menyisakan cerita yang berbeda dan menyentuh hati warga. Menyadari bahwa ketukan pintu birokrasi dan anggaran pemerintah sering kali membutuhkan proses yang tidak sebentar, Angelia memilih tidak menutup mata atas kebutuhan mendesak warganya. Melalui kantong pribadinya, legislator Sulut ini menyalurkan bantuan nyata yang langsung menyentuh aspek ritual dan sosial keagamaan masyarakat setempat.

Satu unit freezer diserahkan khusus untuk mendukung keperluan pemulasaraan jenazah umat Hindu di Banjar Buana Kerta. Tak hanya itu, senyum bahagia juga terpancar dari ibu-ibu yang tergabung dalam Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Banjar Buana Kerta saat menerima bantuan dana pribadi untuk pengadaan kebaya persembahyangan. Bantuan ini menjadi angin segar yang menjaga martabat sekaligus kekhusyukan ritual ibadah mereka.

“Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah, kepedulian tidak boleh berhenti,” tutur Srikandi Partai Demokrat ini. Ia meyakini bahwa esensi tertinggi dari sebuah pengabdian politik tidak melulu soal angka di atas kertas kebijakan, melainkan seberapa besar ketulusan hati untuk hadir, mendengar, dan berbagi di saat masyarakat membutuhkan bantuan instan.

Pertemuan hari itu mungkin telah usai, namun jejak kepedulian yang ditinggalkan di Desa Mopugad menanamkan harapan baru. Bagi warga Banjar Buana Kerta, kedatangan Angelia Wenas bukan sekadar kunjungan pejabat politik, melainkan pembuktian bahwa di tengah dinamika kekuasaan, masih ada ketulusan yang murni bergerak demi kemakmuran dan keharmonisan sesama. Karena pada akhirnya, pengabdian yang sejati memang tidak diukur dari seberapa besar yang diberikan, melainkan dari seberapa dalam manfaat itu meresap dan dirasakan oleh masyarakat luas.