MANADO – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Penatua Dr. Royke O. Roring, menggelar kegiatan Reses Masa Persidangan Ketiag Tahun 2026 di Kecamatan Wanea, Kota Manado, Senin (3/8/2026). Bertempat di Gereja GMIM Viadolorosa Wanea, pertemuan tatap muka ini menjadi wadah krusial bagi masyarakat dari berbagai kelurahan termasuk Wanea, Tanjung Batu, dan Pakowa untuk menyuarakan langsung keluhan pelayanan publik dan usulan pembangunan.
Dalam jaring aspirasi yang berlangsung dinamis dan interaktif tersebut, warga serta tokoh masyarakat memaparkan sejumlah persoalan mendasar yang berdampak langsung pada keselamatan dan kesejahteraan hidup sehari-hari.
Sektor infrastruktur menjadi salah satu sorotan utama. Mantan Kepala Lingkungan (Pala) Wanea Lingkungan 5, Arnold Josephus, mengkritik keras proyek renovasi badan jalan dan drainase yang dikerjakan oleh pihak pemborong/PPK Perkim. Proyek tersebut dinilai kurang maksimal dan berpotensi memicu kerusakan fasilitas umum yang lebih parah akibat genangan air yang tidak mengalir lancar.
Keluhan senada datang dari warga Lingkungan 3 Buha/Bumi Nyiur. Mereka mencemaskan kondisi saluran drainase sepanjang 40 meter yang kini dalam kondisi kritis dan rawan ambrol. Masalah ini diperparah dengan kondisi jalan rusak di sekitarnya yang kerap memicu bahaya kecelakaan bagi pengendara yang melintas.
Selain masalah air, masalah kegelapan juga membayangi warga. Minimnya fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) di sejumlah lorong pemukiman dikeluhkan karena membuat lingkungan menjadi rawan terhadap potensi gangguan keamanan pada malam hari. Warga pun mendesak adanya penanganan drainase kawasan perumahan yang komprehensif demi memutus siklus banjir tahunan, serta menuntut transparansi akses bantuan dana tanggap bencana bagi korban terdampak musibah.
Di sektor pelayanan sosial, warga menyampaikan keprihatinan mendalam atas kualitas layanan kesehatan di rumah sakit. Salah satu kasus yang mencuat adalah adanya pasien dalam kondisi kritis yang dipulangkan terlalu cepat oleh pihak rumah sakit. Warga berharap pemerintah tegas mendorong peningkatan mutu pelayanan medis tanpa adanya tindakan diskriminasi terhadap pasien.
Sementara di bidang pendidikan, aturan sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)khususnya di SMA Negeri 1 Manado kembali menuai kritik. Sistem tersebut dinilai membingungkan dan sering kali menutup kesempatan bagi siswa berprestasi yang tinggal di luar wilayah zonasi sekolah. Di samping itu, masyarakat mengusulkan agar pemerintah daerah menyediakan program bantuan penyelesaian studi bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Menanggapi rentetan keluhan tersebut, Royke O. Roring menegaskan komitmen penuhnya sebagai wakil rakyat untuk mengawal setiap poin aspirasi. Ia menyatakan akan memilah seluruh usulan tersebut berdasarkan ranah kewenangan institusi, baik yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Sulut maupun Pemerintah Kota Manado.
“Masa reses adalah tempat dan forum resmi bagi kami untuk mendengar, menampung, dan memperjuangkan suara warga. Baik perbaikan infrastruktur jalan, drainase, penerangan, hingga evaluasi layanan kesehatan dan pendidikan, semuanya akan kami klasifikasikan sesuai kewenangannya untuk diteruskan ke dinas terkait agar segera ditindaklanjuti,” ujar mantan Bupati Minahasa tersebut secara tegas.
Kegiatan reses ditutup dengan kesepakatan dan komitmen bersama antara pihak legislatif dan perwakilan masyarakat untuk terus mengawal jalannya realisasi pembangunan di wilayah Kecamatan Wanea agar tepat sasaran dan menjawab kebutuhan riil warga.
Royke Roring Serap Aspirasi di Wanea, Warga Keluhkan Soal Drainase Rusak, Pelayanan RS, hingga Zonasi PPDB










