Example floating
Example floating
MANADOPOLITIK/PEMERINTAHANSULAWESI UTARA

Taufik Tumbelaka, Menjaga Warisan Sang Ayah Melalui Nalar Kritis

×

Taufik Tumbelaka, Menjaga Warisan Sang Ayah Melalui Nalar Kritis

Sebarkan artikel ini

MANADO – Di sebuah sudut kedai kopi yang riuh di pusat Kota Manado, seorang pria tampak serius menatap layar ponsel. Sesekali ia menyeruput kopi hitamnya, lalu menyapa hangat siapa saja yang melintas. Ia adalah Taufik Manuel Tumbelaka, sosok yang suaranya nyaris tak pernah absen dari dinamika politik Sulawesi Utara.

Bagi banyak orang, nama “Tumbelaka” adalah nama besar. Taufik adalah putra dari FJ Tumbelaka, Gubernur pertama Sulawesi Utara yang legendaris. Namun, alih-alih berlindung di bawah bayang-bayang nama besar sang ayah untuk mengejar jabatan politik praktis, Taufik memilih jalan yang lebih terjal: menjadi pengamat yang independen.

Taufik adalah seorang alumni Universitas Gajah Mada, tepatnya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) angkatan 1986. Di sana, ia tidak hanya belajar teori politik di dalam kelas, tetapi juga mengasah nalar kritisnya di Gelanggang Mahasiswa UGM, sebuah tempat legendaris yang melahirkan banyak aktivis besar.

Darah organisasi mengalir deras dalam dirinya. Pengalamannya selama di Yogyakarta ia bawa pulang ke Sulawesi Utara. Taufik tercatat sebagai sosok kunci yang menghidupkan kembali jaringan alumni “Kampus Biru” di daerahnya. Ia adalah pendiri sekaligus Ketua pertama Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Cabang Manado. Di bawah komandonya, organisasi ini menjadi salah satu yang paling aktif di Sulut dengan puluhan kegiatan sosial mandiri.

Namun, Taufik tidak membatasi dirinya pada lingkungan eksklusif alumni. Ia merambah ke akar rumput melalui organisasi kemasyarakatan dan adat. Ia pernah dipercaya mengemban jabatan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Barisan Masyarakat Adat (Barmas) Sulawesi Utara. Pengalaman ini memberinya perspektif unik tentang bagaimana politik formal bersinggungan dengan tatanan adat dan budaya lokal di Bumi Nyiur Melambai.

Melalui lembaga Tumbelaka Academic Centre (TAC), Taufik memposisikan dirinya sebagai “wasit” di tengah lapangan hijau politik Bumi Nyiur Melambai. Ia tidak segan-segan mengkritik kebijakan yang dianggapnya tidak berpihak pada rakyat, mulai dari isu transparansi dana publik hingga netralitas aparat dalam Pemilu.

“Kritik itu bukan benci, tapi bentuk kepedulian. Kita butuh pemerintahan yang sehat, dan kesehatan itu datang dari kontrol publik yang kuat,” ujarnya dalam satu kesempatan wawancara.

Belakangan ini, ia sangat vokal mengenai isu manajemen talenta di birokrasi. Baginya, penempatan pejabat bukan soal kedekatan, melainkan kapasitas. Ia percaya bahwa Sulut memiliki SDM yang luar biasa, namun seringkali terhambat oleh sistem yang belum transparan.

Di balik analisisnya yang tajam dan terkadang “pedas”, Taufik dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Ia kerap terlihat berdiskusi dengan berbagai kalangan, mulai dari aktivis mahasiswa, wartawan, hingga pejabat yang baru saja ia kritik.

Kehadirannya di media massa baik cetak, online maupun elektronik menjadi rujukan penting bagi masyarakat yang ingin memahami politik dengan bahasa yang lebih sederhana. Ia mampu membedah isu global, seperti dampak konflik Timur Tengah bagi ekonomi daerah, dengan cara yang relevan bagi warga lokal.

Menjadi pengamat di daerah dengan tensi politik tinggi seperti Sulawesi Utara tentu bukan tanpa risiko. Namun, Taufik tetap teguh. Baginya, menjaga integritas adalah cara terbaik menghormati warisan ayahnya.

Di bawah lampu jalan Manado yang mulai berpijar, Taufik Tumbelaka terus berjalan dengan tas selempangnya membawa tumpukan gagasan dan keberanian yang tak kunjung padam.