SULUT – Riuh rendah suara mesin perahu tempel menjadi musik harian bagi masyarakat di Kepulauan Sitaro. Namun bagi Normans Luntungan, ST, MBA, bunyi itu bukan sekadar bising, melainkan pengingat akan janji yang ia bawa dari jauh.
Pria bergelar Master of Business Administration (MBA) lulusan University of Technology Sydney (UTS) ini memilih jalan yang tak biasa. Alih-alih menetap di kenyamanan kota besar atau meniti karier korporat di Australia, Normans memilih pulang. Tujuannya satu: mewakili suara-suara dari perbatasan utara Indonesia di Gedung Cengkih, sebutan populer untuk kantor DPRD Sulawesi Utara.
Latar belakangnya sebagai Sarjana Teknik dan mantan Site Manager di salah satu perusahaan konstruksi ternama di Indonesia membentuk pola pikir yang presisi. Namun, politik menuntut lebih dari sekadar hitungan angka; politik menuntut hati.
“Membangun infrastruktur di daratan itu teknis, tapi membangun harapan di kepulauan itu soal keberpihakan,” ujar Normans saat kesempatan bicara santai diruang kerjanya.
Di Partai Perindo, ia dipercaya memegang kendali strategis sebagai Wakil Ketua DPW Sulut bidang Pemenangan Pemilu. Namun, di lapangan, sosoknya lebih dikenal sebagai pribadi yang tak segan turun ke dermaga-dermaga kecil untuk mendengar keluhan nelayan tentang sulitnya distribusi hasil laut.
Di Sitaro, ia kini tengah fokus mengonsolidasikan kekuatan partai dengan target ambisius: enam kursi DPRD pada pemilu mendatang. Strateginya sederhana namun mengena, yakni memperkuat struktur hingga ke akar rumput dan memastikan setiap kader hadir di tengah kesulitan masyarakat.
Duduk di Komisi II DPRD Sulut yang membidangi ekonomi dan keuangan, Normans membawa misi besar untuk Dapil Nusa Utara (Sangihe, Talaud, Sitaro). Baginya, ketimpangan ekonomi antara daratan utama Sulawesi Utara dengan wilayah kepulauan harus dipangkas lewat kebijakan yang pro-rakyat.
Persoalan pupuk bagi petani pala di Sitaro, akses pendidikan di pelosok Talaud, hingga stabilisasi harga ikan menjadi menu utama dalam setiap agenda resesnya. Ia tidak datang hanya untuk berbicara, tapi lebih banyak mencatat.
Kehadiran Normans di legislatif periode 2024-2029 dianggap sebagai representasi “politisi intelektual” yang dibutuhkan daerah. Dengan bekal pendidikan internasional, ia mampu membedah anggaran dengan tajam, namun tetap mampu berkomunikasi dengan bahasa yang membumi saat berhadapan dengan konstituennya.
Langkah Normans Luntungan adalah sebuah potret tentang pulang. Pulang untuk mengabdi, pulang untuk membangun, dan yang paling penting, pulang untuk memastikan bahwa warga di ujung utara Indonesia tidak lagi merasa ditinggalkan.
Menjembatani Nusa Utara: Jejak Langkah Normans Luntungan dari Sydney ke Gedung Cengkih










