Sulut, detiKawanua.com – Jurnalis Independen Pemprov Sulawesi Utara (JIPS) menggelar Program Ngopi (Ngobrol Pintar) di Museum Sulawesi Utara, Jumat (19/6/2026). Kegiatan yang dihadiri para anggota JIPS tersebut mengangkat tema “Pariwisata dan Kebudayaan sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Utara.”
Hadir sebagai narasumber Kepala Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Sulawesi Utara, dr. Kartika Devi Tanos, MARS, dan Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Yorry Rommy Lesawengan, M.Tr.AP. Turut hadir Koordinator JIPS Ronald Rompas, Sekretaris Rahman Ismail, serta anggota JIPS.
Dalam pemaparannya, Kartika Devi Tanos menegaskan sektor pariwisata memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah karena menghasilkan multiplier effect bagi berbagai sektor usaha.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Sulut Yulius Selvanus dan Wagub Victor Mailangkay terus memberikan dukungan terhadap pengembangan pariwisata melalui revitalisasi sejumlah destinasi wisata milik pemerintah provinsi serta peningkatan konektivitas transportasi.
“Kita sudah melihat beberapa destinasi wisata milik Provinsi Sulawesi Utara direvitalisasi sejak tahun lalu dan akan dilanjutkan tahun ini. Selain itu, konektivitas juga terus diperkuat melalui jalur udara, laut maupun darat,” ujar Kartika.
Ia menjelaskan peningkatan aksesibilitas tersebut didukung oleh hadirnya penerbangan internasional, kunjungan kapal pesiar (cruise), hingga konektivitas darat melalui jalur Trans Sulawesi yang memudahkan wisatawan menjangkau berbagai destinasi.
Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), lanjut Kartika, menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Utara mengalami peningkatan sekitar 120 persen secara tahunan dibandingkan tahun 2025.
Meski demikian, kunjungan wisatawan nusantara mengalami penurunan yang dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi geopolitik global dan meningkatnya biaya transportasi udara.
“Kami bersama para pemangku kepentingan pariwisata terus mencari solusi. Salah satunya melalui kerja sama dengan PHRI dan pelaku usaha untuk menghadirkan promosi hotel maupun diskon di sejumlah destinasi wisata sehingga tetap menarik bagi wisatawan,” katanya.
Kartika juga mengungkapkan Sulawesi Utara saat ini memiliki sekitar 127 desa wisata yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Namun, pihaknya menerapkan seleksi ketat dalam promosi desa wisata agar hanya destinasi yang benar-benar siap menerima kunjungan wisatawan yang dipasarkan secara luas.
“Jangan sampai wisatawan datang lalu kecewa. Karena itu kami hanya akan mempromosikan desa wisata yang memang direkomendasikan dan dinilai siap oleh pemerintah kabupaten dan kota,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Sulut Rommy Lesawengan menegaskan bahwa kebudayaan merupakan salah satu kekuatan utama yang dapat menopang pertumbuhan sektor pariwisata Sulawesi Utara. Karena itu, revitalisasi Museum Sulawesi Utara tidak hanya ditujukan sebagai pusat edukasi, tetapi juga sebagai destinasi wisata budaya yang modern dan menarik.
Menurut Rommy, museum yang telah direvitalisasi kini menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung melalui pemanfaatan teknologi digital, ruang imersif yang menampilkan perjalanan sejarah Sulawesi Utara, ruang musik tradisional, hingga ruang kuliner yang memperkenalkan kekayaan makanan khas daerah.
“Kami berharap museum ini bisa menjadi salah satu destinasi yang direkomendasikan oleh Dinas Pariwisata kepada operator wisata. Di sini pengunjung bisa melihat representasi tiga wilayah budaya besar Sulawesi Utara, yakni Minahasa, Nusa Utara, dan Bolaang Mongondow,” kata Rommy.
Ia mengungkapkan, sejak dibuka kembali untuk umum pada 25 Mei hingga 17 Juni 2026, Museum Sulawesi Utara telah dikunjungi 4.399 orang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas hingga masyarakat umum dari berbagai daerah di Sulawesi Utara.
Rommy menjelaskan, pengembangan museum masih akan terus dilakukan. Salah satu rencana yang tengah disiapkan adalah menghadirkan area UMKM dan bengkel sanggar budaya di kawasan museum.
“Nanti ketika pengunjung keluar dari museum, mereka tidak langsung keluar ke depan, tetapi diarahkan ke area samping. Di sana akan ada UMKM dan bengkel sanggar budaya yang menampilkan kostum adat dari Minahasa, Sangihe, dan Bolaang Mongondow yang bisa dipakai pengunjung untuk berfoto,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga berencana menghadirkan berbagai aktivitas interaktif seperti pelatihan singkat memainkan alat musik tradisional kolintang hingga atraksi budaya lainnya yang dapat dinikmati wisatawan.
“Kami berharap pada 2027 seluruh fasilitas pendukung itu sudah tersedia sehingga pengalaman berkunjung ke museum menjadi lebih lengkap dan memuaskan,” katanya.
Untuk mendukung promosi museum sebagai destinasi wisata budaya, Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata juga akan mengundang berbagai pelaku industri pariwisata, seperti Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), ASITA, asosiasi hotel dan restoran, serta para agen perjalanan untuk mengenal langsung potensi Museum Sulawesi Utara.
“Kalau para pelaku pariwisata sudah mengetahui isi museum ini, mereka akan lebih mudah merekomendasikannya kepada wisatawan yang datang ke Sulawesi Utara,” jelas Rommy.
Saat ini Museum Sulawesi Utara masih dapat dikunjungi secara gratis karena pemerintah masih menunggu proses penetapan regulasi terkait retribusi museum.
“Semua masih gratis, baik masuk museum maupun pendampingan edukator. Ke depan memang akan ada pengaturan retribusi, tetapi saat ini masyarakat masih bisa menikmati seluruh fasilitas tanpa biaya,” ujarnya.
Museum Sulawesi Utara dibuka tujuh hari dalam seminggu, mulai Senin hingga Minggu, kecuali pada hari libur nasional. Namun demikian, Rommy mengakui pihaknya masih menghadapi keterbatasan jumlah tenaga edukator yang bertugas mendampingi pengunjung.
“Saat ini edukator yang tersedia hanya tiga orang. Karena itu kami sedang menyiapkan sertifikasi dan penambahan tenaga edukator agar pelayanan kepada pengunjung semakin baik,” katanya.
Melalui diskusi santai dalam Program Ngopi JIPS, kedua kepala dinas sepakat bahwa sinergi antara sektor pariwisata dan kebudayaan menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara sekaligus memperkuat identitas daerah di mata wisatawan nasional maupun internasional.
Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, berkembangnya desa wisata, serta hadirnya museum modern berbasis teknologi dan budaya lokal, Sulawesi Utara optimistis mampu menjadikan pariwisata dan kebudayaan sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi daerah. **







