Mengapa Harus Om Edo (Balon Bupati Boltim)

  • Whatsapp

Oleh: Tauhid Arief
Presdir PT Totabuan Cemerlang Press

 

Muat Lebih

detiKawanua.com – Suhendro Boroma, atau di Boltim lebih akrab disapa Om Edo atau Papa Aji, adalah satu dari sekian nama yang ikut mendaftar di PDIP sebagai bakal calon Bupati Bolaang Mongondow Timur (Bolmong).

Bagi saya, yang pernah bekerjasama dengan beliau hampir 25 tahun, pencalonannya, saya percaya, bukanlah cerminan sikap ambisius. Pilihan untuk maju dalam kontestasi kali ini, lebih pada keinginannya untuk mengeksplore kemampuan yang dimiliki untuk percepatan pembangunan Boltim.

Kalau dari kacamata rasional berdasar kemampuan dan profesionalitas, Insya Allah, tanpa takabur, tanpa berlebihan, Hendro lah pilihannya.

Namun apakah dia bisa memimpin Boltim 5 tahun ke depan? Tentu tidak semudah itu. Kemampuan seseorang hanya salah satu pendukung dalam variabel persyaratan. Kemampuan sesrorang, juga kadang diabaikan untuk lolos ke step selanjutnya.

Hendro, suami dari Dra Hj Lily Djenaan MSc, masih berstatus bakal calon (Balon). Dia harus melangkah lagi untuk menjadi calon. Dan, pilihan ini, sama sekali bukan lagi domainnya. Ini sudah keputusan politik partai. Keputusan “kolektif-kolegial” yang tentu finishing touch-nya berada pada pimpinan tertinggi partai di Sulawesi Utara.

Artinya, bisa saja keputusan kolektif memilih A, tapi atas dasar kebijakan politis pimpinan, pilihan yang keluar adalah B. Atau bisa sebaliknya, atau juga muncul kesepakatan bulat.

Keputusan politis dalam politik, memang terkadang mengabaikan rasionalitas. Banyak contoh untuk itu. Apalagi, seseorang dimaksud, bukanlah kader. Bayangan dan penilaian luar, kadang bagai langit dan bumi dengan penilaian internal partai. Tapi terkadang juga, penilaian dari luar jadi satu masukan pada keputusan.

Kembali kepada profil Hendro, yang saya kenal sebagai sosok yang low profile, disiplin dan pekeja (pemikir) keras. Dia lahir dan besar dalam proses alamiah, anak desa. Dia memahami persoalan sawah, karena ini adalah bagian hidup dan kehidupannya di masa anak-anak dan remajanya.

Ayah dari seorang anak laki laki, Kurnia Sahrul Fahril —sempat kuliah di IOWA Of University, AS, selama 2,5 tahun dan saat ini kuliah lagi di Universitas Parahyangan, Bandung—, sangat memahami arti kemiskinan, semangat dan perjuangan hidup. Saat
masih SMP dan SPG (Sekolah Pendidikan Gutu) menurut cerita teman dan saudaranya di Kotamobagu –saya sempat bertugas 2 tahun di Kotamobagu–, Hendro banyak menghabiskan waktunya menggarap sawah dengan paman pamannya. Bila libur atau pulang sekolah, persawahanlah jadi “tempat bermainnya”.

Jangan heran kalau sampai sekarang saja, ia masih menyempatkan diri menengok sawah. Memahami varietas varietas unggul. Sense pada suasana kampung dan kehidupannya masih melekat. Jagan heran, saat pulang kampung, misalnya, di mobilnya ada pupuk dan obat semprot hama.

Ia memang dikenal mandiri. Apalagi, Ayahnya Ahmadi Boroma -Kepala Desa Togid periode 1965-1970′– berpulang keharibaan-NYA saat Hendro duduk di kelas 2 SMP. Hendro pun hidup dengan pamannya di Kota sampai menyelesaikan SMA.

Beruntung kemauan dan tekad untuk melanjutkan studi di bangku kuliah, tak surut dengan keterbatasan hidupnya. Ilmu sebagai guru (Hendro lulus SPG/ setara SMA) dijadikan dasar kerja sampingan untuk anak anak yang butuh les privat.
Inilah salah satu cara bertahan hidup dan berjuang menyelesaikan Sarjana/ SI di IKIP Manado kemudian melanjutkan S2- nya di Unsrat dengan konsentrasi ilmu statistik.

Kalo pun Hendro bisa meraih karirnya saat ini, itu melalui perjuangan yang tidak sulit. Termasuk tidak gampangnnya perjuangan sang ibu Hj Pingku Paputungan, yang bertahan hidup, dan membesarkan Hendro beserta 11 saudara lainnya.

Begitu juga soal disiplin. Ukuran disiplin Hendro di mata saya, antara lain, soal menjaga kebugaran, makan dan kerja. Setiap pekan, paling tidak, ada tiga kali ia melakukan jogging yang teratur. Teratur disini, adalah, soal waktu. Dimulai dengan jalan kaki, kemudian jalan cepat dan berlari kecil. Semuanya terukur dalam durasi waktu.

Setahu saya juga, Hendro suka berenang. Dulu, sekitar 20 tahun lalu, saat sering menemaninya mandi di kolam renang. Favoritnya, di kolam Sahid Hotel, Teling. Tidak terlalu ramai, tapi kolamnya ideal. Bila dilihat, ia mampu berenang ratusan meter tanpa henti. Memang aaya tidak menghitungnya, berapa kali ia bolak balik. Yang saya tahu, dia berenang gaya bebas tanpa henti, bolak balik, lebih dari satu jam. Ini telaten dilakukannya.

Soal makan begitu juga. Setahu saya, tak ada pantangan makanan karena faktor kesehatan. Kalaupun ada, hanya beberapa jenis makanan saja yang sedari dulu memang tidak disukai. Misalnya ayam dan daging lainnya. Saya juga tidak tahu alasannya. Tapi memang dia sendiri tidak suka. Tak pernah saya melihat dia makan ayam, meskipun kami berada di rumah makan padang. Dia pasti memilih selain itu.

Saya tahu karena saya sering makan dengannya. Bila berada di Ternate, ia sangat lahap makan ikan bakar atau katang kanari saus padang. Namun kalau di suruh memilih, Hendro pasti lebih memilih makan makanan kampung. Ubi atau pisang dengan lauk ikan bakar berpasangan sambal yang tidak terlalu pedas. Makanan inilah favoritnya. Cara makan pun sunnah, tanpa sendok. Begitu pun minum, lebih senang air putih. Tak pernah saya melihatnya minum teh manis atau pun kopi. Ia lebih banyak menghindarinya.

Ia juga disiplin dalam menjaga sholat wajib dan sunnahnya. Pun begitu pula dengan puasa. Puasa Senin Kamis, dilakoninya sejak lama. Juga puasa selang seling, puasa Daud. Sampai sekarang dijalaninya.

Soal kerja, dijalani penuh tanggungjawab. Saya tahu, karena, sejak awal di Manado Post sebagai wartawan (tahun 1992), saat kantor masih di seputaran Tikala, orangnya telaten dan penuh tanggungjawab. Praktis halaman (rubrik) yang menjadi tanggungjawabnya tak pernah melewati deadline.

Hendro, bergabung di Manado Post tahun 1992. Sebelumnya, Hendro adalah volunter di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manado. Bersama salah salah satu temannya, Frangki Wongkar, yang aaat ini adalah Wakil Bupati Minsel.

Frangky ketika itu, adalah anak muda, sarjana hukum, dan pengacara di LBH, yang ketika itu dikendalikan Herry Mangindaan SH (alm). Lama ia berkutat mendampingi warga yang butuh bantuan hukum secara gratis. Atau, sama sama Hendro melakukan advokasi di lapangan.

Selain advokasi sejumlah persoalan warga yang termarginalkan, Hendro juga memegang jabatan sebagai Sekretaris Walhi (LSM yang peduli soal lingkungan)

Dari voluntir di LBH dan sekrex di Walhi, persoalan persoalan yang ditemui, atau ditangani inilah, kemudian diolah menjadi tulisan opini, yang sering terekspos pada media lokal, khisusnya Manado Post.

Tugas di Walhi dan LBH, mulai ditinggalkan saat Manado Post membuka lowongan untuk posisi wartawan. Nama Hendro pun masuk bersama sejumlah pelamar lainnya. Ada Katamsi Ginano, Ais Kai, Verijanto Madjowa dll. Mereka lolos seleksi administrasi. Selanjutnya; tes wawancara dan tulis. Nama Hendro tidak masuk. Ia tak lolos berkas hanya karena usianya saat itu sudah mendekati 26 tahun. Sementara syarat usia di patok 25 tahun.

Wartawan senior, Asdar Muis, dari koran Fajar Makassar (Jawa Pos Group) yang ditugasi menyeleksi dan menyaring, tak meloloskan nama Hendro.

Beberapa lama kemudian, sekira 2 bulan, disaat wartawan baru sudah turun lapangan, Imawan Mashuri, yang secara defacto adalah pemimpin redaksi, memanggil saya di ruangannya.

Imawan bertanya; “Kamu kenal dengan Suhendro Boroma?”
“Kenal, Mas!” Jawab saya.
“Dia kerja di mana? Bagaimana orangnya?”
“Orangnya baik. Tak banyak bicara. Setahu saya dia beraktivitas di Walhi dan LBH,” ungkap saya. “Ada apa, Mas? Tanya saya.
“Kalo saya nilai juga begitu. Orangnya bijak dan tidak arogan. Saya tahu dari tulisan tulisan di halaman opini. Kamu biaa hubungi, dan ketemu saya,” ujar Imawan Mashuri yang kami panggil “mas” karena saat itu usianya belum 30 tahun dan masih bujang.

Saya pun menghubungi. Setelah itu sudah tidak tahu jelas apa pembicaraan Hendro dan Imawan. Tapi yang pasti, beberapa hari kemudian, ia langsung di dapuk jadi redaktur halaman opini. Posisi orang orang kritis, karena salah satu tugasnya, adalah, menyeleksi layak atau tidaknya tulisan seseorang dimuat di koran. Saya sendiri, ketika itu, mempunyai tugas sebagai redaktur untuk rubrikasi kota. posisi yang sederajat dengan Hendro.

Lama bertanggung jawab pada opini, ia pun diberi tanggungjawab menggawangi, halaman etalase/ halaman depan.

Karirnya terus menanjak, hingga berapa tahun kemudian, ketika kantor sudah berada di kawasan Rike, ia menggantikan posisi Imawan Mashuri, sebagai peminpin redaksi secara defacto. Sedangkan Benny Raintama, Manajer Keuangan, menggantikan posisi Imawan sebagai direksi.

Tahun 2003, saya ditunjuk manajemen menahkodai koran baru di Ternate, namanya Malut Post. Selain sebagai general manager dalam manajemen, tugas lainnya adalah memikul tanggungjawab sebagai pemimpin redaksi sampai 2007.

Sementara di Manado, Manado Post, karir Hendro terus meroket. Menggeser posisi Benny. Ia kembali masuk jajaran direksi, sebagai direktur utama, sekaligus CEO dalam Manado Post Group. Ia berpasangan dengan Urief Hasan, direktur keuangan.

Tak lama, manajemen di Malut Post Ternate diperkuat. Oleh Hendro, saya dipromosikan sebagai presiden direktur, dan bertanggungjawab secara otonom pada dua perusahaan, penerbit dan percetakan. Tugas ini saya jalani sampai sekarang.

Otonom dimaksud, adalah kekuasaan penuh untuk membuat apa saja, demi pertumbuhan perusahaan. Saya diberi kewenangan menata gaji karyawan, termasuk besar kecilnya, insentif dan bonus.

Saya diberi kewenangan penuh, membeli dan menggunakan kendaraan apa saja, sesuai kemampuan perusahaan. Hanya saja, untuk gaji saya, tentu bukan keinginan saya. Semuanya diatur Hendro dan Urief Hasan.

Salery yang saya dapatkan saat itu, lebih dari cukup. melonjak gila gilaan, lebih dari 100 persen. Hendro benar benar melaksanakan reward dan punishment.

Jujur, saya berani bersumpah, selama saya memimpin di koran Ternate, tak sekali pun Hendro menggunakan jabatannya sebagai CEO, melakukan hal hal yang menyimpan untuk kepentingan pribadinya.

Sekarang ini saya memang tidak bekerja lagi bersama Hendro. Ini karena adanya persoalan manajemen di tingkat “dewa”. Kami berpisah secara grup. Saya bersama Urief Hasan berada pada jalur Dahlan Iskan dan Imawan Mashuri, sementara Hendror tetap di jalur Jawa Pos. Artinya keompok jawa pos terbelah dua
Dari situlah, kami berpisah dalam jaringan lantaran situasinal dan kondisional.

Tapi hubungan habluminannas tetap berjalan. Saling bertegur sapa bila ketemu. Intermezo, cerita kabar masing masing. Apalagi, saya tetap menghormatinya sebagai teman dan, mantan pimpinan saya.

Kalau pun saya menulis ini, itu karena hormat saya pada sikapnya saat memimpin kami. Saya salut kepadanya. Sunguh, saya menulis testimoni dengan apa adanya. Menulis untuk sekadar memberi pesan kepada kepada siapa saja yang belum mengenal sosoknya. Yang mana sosok yang saat ini masuk dalam nominasi kandidat calon Bupati Boltim.

Soal karirnya yang terus melejit, bagi aaya, semata mata karena kemampuannya. Saking menonjolnya kemampuan Hendro, ia dipercayakan memimpin grup JPNN (Jawapos News Network). Grup media yang membawahi hampir 150 media cetak yang ada di Indonesia, dan sekitar 50 media TV. Ini luat biasa. Anak Togid Boltim, Sulawesi Utara. Orang pertama di luar Jawa mengendalikan ratusan perusahaan yang berbasis di Surabaya.

Ketika itu, 15 tahun lalu, posisi itu sangat bergengsi. Tugasnya antara lain, mengevaluasi konten, termasuk perusahaan secara keseluruhan, bila ada gejala gejala ‘kurang baik’. Dia bisa merekomendasi perbaikan sekaligus pergantian direksi pada koran koran tersebut.

Karena tugas itulah, waktunya hampir lebih banyak di luar, di atas udara. Ini juga yang membuat jarang berada di Boltim atau turun ke bawah.

Dalam sehari saja, kadang ba smokol di Manado, makang siang di Surabaya, tidur di Riau. Begitupula yang dijalani hampir 15 tahun belakangan.

Meski memiliki jaringan di Jakarta, tapi Hendro sebenarnya lebih suka di Manado. Lebih suka pulang kampung di Togid, atau pulang kampung Istrinya, di Bolmut. Ini dilakukan bila ia ke Manado dan punya waktu luang 1-2 hari.

Terkadang baru semalam di kampung, telepon masuk. Untuk segera berjumpa dengan temannya. Pernah satu ketika, dan ini sudah berlangsung beberapa kali, boss Lion Group, Rusdi Kirana’ menelpon untuk sama sama menjemput pesawat baru pesanan Lion di bandara pabrik pesawat Boeing, di Seatle, AS. Hal yang sama juga dilakukan ke pabrik Airbus di Prancis. Saking dekatnya dengan Rusdi Kirana, Hendro pun ikut mempengaruhi Lion Group berinvestasi di Sulut. Bahkan bila tak ada pertentangan dengan Menteri Perhububgan saat itu, Bandara Sam Ratulangi jadi pusat “penampungan pesawat Wings edisi terbaru”.

Ini hanya salah satu dari banyak jaringan yang bisa dimanfaatkan, saat, nantinya, Insya Allah, bila diamanahkan pimpin Bolmong.

Karena itu, bagi saya, tidak ada keraguan, bila Hendro mencalonkan diri. Tidak ada keraguan saya, ia melakukan tindakan korup. Sebaliknya yang saya bayangkan, banyak hal baru yang muncul di Bolmong, yang mungkin belum dipikirkan daerah lain. Apalagi perjalanan ke semua daerah di Indonesia, telah dijalani. Ini tentu menjadikan kaya khasanah dan wawasan sebagai modal men direct Boltim lebih maju, bermartabat dan sejahtera. Insyaa Allah…Amiin. ***

Pos terkait