Example floating
Example floating
HEADLINEMINAHASAPOLITIK/PEMERINTAHANSULAWESI UTARA

Srikandi Gedung Cengkih: Inggried Sondakh, Jembatan Ketulusan, dan Dedikasi Lintas Generasi di Bumi Nyiur Melambai

×

Srikandi Gedung Cengkih: Inggried Sondakh, Jembatan Ketulusan, dan Dedikasi Lintas Generasi di Bumi Nyiur Melambai

Sebarkan artikel ini

SULUT – Riuh rendah suara aspirasi warga bergemuruh di dalam ruangan. Di tengah kerumunan itu, tampak seorang wanita dengan senyum ramah mendengarkan setiap keluh kesah yang disampaikan. Ia adalah Inggried Jackqueline Nova Novieta Sondakh, S.E., M.M., atau yang lebih akrab disapa Inggried Sondakh. Sebagai Ketua Komisi II DPRD Provinsi Sulawesi Utara, wajahnya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di bumi Nyiur Melambai.

Bagi sebagian orang, politik mungkin dipandang sebagai panggung perebutan kekuasaan. Namun bagi srikandi Partai Golongan Karya (Golkar) ini, politik adalah jembatan pengabdian. Dedikasinya bukan sekadar janji kampanye yang kedaluwarsa setelah pemilu usai. Hal ini dibuktikan dengan rekam jejaknya yang luar biasa: dipercaya masyarakat untuk duduk di kursi parlemen hingga memasuki periode keempat. Pengalaman panjangnya di parlemen menjadikannya salah satu politisi paling senior dan dihormati di parlemen Sulawesi Utara.

Kematangan Inggried dalam memimpin tidak datang secara instan, melainkan ditempa oleh latar belakang pendidikan yang kuat di bidang ekonomi. Ia berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) dan kemudian menuntaskan studi lanjutannya hingga menyandang gelar Magister Manajemen (M.M.).

Sebelum memfokuskan diri sepenuhnya di panggung politik praktis, bekal ilmu akademis tersebut sempat ia baktikan di dunia pendidikan. Inggried tercatat pernah mendedikasikan ilmunya sebagai seorang Dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Latar belakang akademis di bidang ekonomi dan manajemen inilah yang kini menjadi modal vital baginya dalam mengawal kebijakan keuangan daerah.

Di balik ketegasannya di panggung politik, putri dari mantan Gubernur Sulut mendiang Drs. Adolf Jouke Sondakh ini adalah sosok istri terkasih dari Stanley Mamanua. Dukungan penuh dari keluarga menjadi pilar utama yang membuatnya mampu bertahan menghadapi dinamika politik yang menguras energi. Baginya, keluarga adalah tempat pulang sekaligus sumber kekuatan untuk terus mengabdi kepada masyarakat.

Keseimbangan hidup seorang Inggried Sondakh juga tercermin dari kontribusi aktifnya di dunia organisasi, khususnya dalam pelayanan kerohanian. Ia dikenal aktif memimpin sebagai Penatua Wanita Kaum Ibu (WKI) baik di tingkat Wilayah maupun di Jemaat GMIM Eklesia Kalasey.

Melalui organisasi pelayanan gereja ini, ia kerap memadukan tugas kedewanan dengan kegiatan keagamaan. Inggried sering kali mengawali agenda reses legislatifnya dengan beribadah bersama para ibu-ibu WKI Wilayah Mandolang II guna menyerap aspirasi berbasis komunitas keluarga dan penguatan UMKM perempuan.

Menjadi wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Utara 2 yang meliputi Kabupaten Minahasa dan Kota Tomohon, bukanlah tugas yang ringan. Wilayah ini memiliki karakteristik masyarakat yang kritis dan dinamis. Namun, lewat pendekatan yang humanis, Inggried berhasil mengunci kepercayaan konstituennya dari tahun ke tahun.

Salah satu ciri khas kepemimpinan Inggried adalah keberaniannya untuk melebur langsung dengan masyarakat bawah. Ia memilih keluar dari zona nyaman ruang rapat ber-AC di kantor DPRD demi menjemput bola aspirasi.

Dalam agenda reses terbarunya, Politisi dengan suara merdu ini melangkah jauh hingga ke Desa Kalasey Satu di Minahasa. Tidak berhenti di situ, perhatiannya yang besar terhadap kelompok rentan membawanya mengunjungi Panti Asuhan Tunarungu GMIM Damai di Tomohon. Di sana, ia berdialog dan menyerap harapan dari komunitas penyandang disabilitas, sebuah kelompok yang sering kali luput dari perhatian kebijakan publik.

Bagi Inggried, setiap suara memiliki bobot yang sama. Baik itu dari kalangan petani, pelaku usaha, hingga anak-anak di panti asuhan, semua layak diperjuangkan di meja legislatif.

Di dalam gedung cengkih (sebutan untuk Kantor DPRD Sulut), Inggried dikenal sebagai sosok yang tegas namun tetap kooperatif. Sebagai nakhoda Komisi II yang membidangi perekonomian dan keuangan, ia memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan roda ekonomi daerah bergerak ke arah yang benar.

Komitmennya pada keadilan terlihat jelas dalam pengawasan anggaran daerah. Inggried secara vokal mengawal agar Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) atau dana aspirasi dari seluruh anggota dewan dapat terakomodasi secara merata ke dalam program Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Bagi Inggried, pemerataan anggaran adalah kunci agar pembangunan tidak hanya berpusat di satu titik, melainkan menyentuh seluruh pelosok daerah.

“Ini bukan soal politik panggung depan, ini tentang bagaimana anggaran daerah benar-benar kembali dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ungkapnya saat berdialog ringan bersama teman-teman media.

Perjalanan karier Inggried Sondakh memberikan sebuah pelajaran penting dalam dunia politik modern: bahwa modal utama seorang politisi bukanlah popularitas instan, melainkan konsistensi dan ketulusan dalam merawat kepercayaan rakyat. Selama komitmen itu terjaga, ruang parlemen akan selalu menjadi tempat yang ramah bagi perjuangan kesejahteraan masyarakat.