Example floating
Example floating
HEADLINEMANADOPOLITIK/PEMERINTAHANSULAWESI UTARA

Taufik Tumbelaka Kecam Karikatur Politik Berbau Primordial yang Serang Gubernur Yulius Selvanus

×

Taufik Tumbelaka Kecam Karikatur Politik Berbau Primordial yang Serang Gubernur Yulius Selvanus

Sebarkan artikel ini

MANADO – Menjelang akhir Mei 2026, jagat media sosial di Sulawesi Utara (Sulut) dihebohkan oleh beredarnya sebuah gambar karikatur politik yang menargetkan Gubernur Yulius Selvanus terkait Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Sulut 2029. Gambar tersebut menuai sorotan tajam karena tidak sekadar bermuatan kompetisi politik, melainkan turut menyisipkan sentilan bermotif ‘Sentimen Primordial’.

Menanggapi fenomena tersebut, Pengamat Politik dan Pemerintahan Sulut, Taufik M. Tumbelaka, memberikan reaksi keras. Ia menilai narasi visual yang beredar di platform digital itu mencederai semangat demokrasi yang sehat di Bumi Nyiur Melambaikan.

“Saya sudah lihat gambar itu. Bagi saya, itu tidak sesuai dengan Pembangunan Politik di Sulut yang bertujuan memperkuat kualitas demokrasi. Itu tidak sehat dan tidak dapat dibenarkan,” ujar Taufik dengan tegas, Selasa (02/06/2026).

Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini menambahkan bahwa isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) atau sentimen primordial sangat bertolak belakang dengan upaya penguatan iklim demokrasi, baik di tingkat daerah maupun nasional. Perbedaan afiliasi politik dan warna partai seharusnya tidak menjadi pembenaran untuk melakukan pembunuhan karakter (attack on personality).

“Perbedaan pendapat dan juga perbedaan pilihan politik serta ‘warna’ politik tidak serta-merta diperbolehkan melakukan manuver politik dengan menyorot kepada serangan ke pribadi seseorang, apalagi terkait ‘Sentimen Primordial’ seperti itu,” kata Taufik.

Lebih lanjut, Taufik memetakan dampak kerugian dari beredarnya karikatur provokatif tersebut ke dalam tiga pihak utama:
-Yulius Selvanus: Selaku pribadi dan pejabat publik yang diserang secara personal.
-PDI Perjuangan Sulut: Mengingat korelasi dinamika politik elektoral regional yang ikut terseret dalam pusaran opini.
-Masyarakat Sulawesi Utara: Secara kolektif dirugikan karena degradasi kualitas demokrasi di wilayah mereka.

“Hal-hal seperti di gambar itu tidak bisa divalidasi sebagai sah-sah saja dalam dinamika politik. Kedepan, sebaiknya semua pihak tidak mentolerir cara-cara yang menyerang pribadi termasuk terkait Sentimen Primordial. Sulut perlu terus melakukan Pembangunan Politik agar kualitas demokrasi meningkat,” pungkas Taufik.

Di sisi lain, peredaran karikatur ini juga memicu reaksi beragam dari sebagian lapisan masyarakat Sulut. Sebagian warga mulai menyuarakan kekhawatiran akan potensi polarisasi sosial dan mendesak semua tim sukses maupun simpatisan figur politik untuk kembali ke jalur kampanye yang substansial, berbasis adu program kerja, dan menjaga komitmen kerukunan antarwarga yang selama ini menjadi modal sosial utama Sulawesi Utara.