Example floating
Example floating
HEADLINEMANADOPOLITIK/PEMERINTAHANSULAWESI UTARA

Singa Paripurna yang Tak Pernah Diam: Menelusuri Jejak Jeane Laluyan di Gedung Cengkeh

×

Singa Paripurna yang Tak Pernah Diam: Menelusuri Jejak Jeane Laluyan di Gedung Cengkeh

Sebarkan artikel ini

MANADO – Di tengah riuh rendah sidang paripurna DPRD Provinsi Sulawesi Utara, sebuah suara lantang kerap memecah formalitas ruangan. Tidak sekadar bertanya, ia sering kali mencecar dengan data dan nada yang tegas, ciri khas yang membuatnya dijuluki masyarakat sebagai “Singa Paripurna”. Dialah Jeane Laluyan, srikandi dari PDI Perjuangan yang kini menjadi salah satu wajah paling vokal di “Gedung Cengkeh”.

Perjalanan politik Jeane bukanlah tentang pencitraan semalam. Ia dikenal sebagai politisi yang tumbuh dari kedekatan dengan masyarakat Manado. Bagi Jeane, politik bukan sekadar jabatan, melainkan alat untuk menyambung lidah mereka yang suaranya sering kali teredam oleh birokrasi.

Salah satu fokus utamanya yang menyentuh sisi kemanusiaan adalah perlindungan anak dan pendidikan. Ia tidak segan mendesak penegakan hukum yang lebih ketat terkait kasus perundungan (bullying) di sekolah, sebuah isu yang ia anggap sebagai ancaman serius bagi masa depan generasi muda Sulawesi Utara.

Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos dan “to the point” sering kali membuat para pejabat dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi harus bersiap ekstra sebelum rapat dengar pendapat. Jeane adalah sosok yang teliti, ia pernah dengan keras mengkritik kondisi infrastruktur jalan yang rusak, yang menurutnya bukan hanya soal estetika kota, melainkan soal nyawa rakyat yang bertaruh di setiap lubang aspal.

“Masyarakat ramai di media sosial mengeluhkan jalan berlubang. Ada yang meninggal, ada yang luka parah. Tapi saya tidak pernah melihat kepala dinas turun langsung melihat situasi di lapangan,” tegas Jeane dalam rapat April 2026.

Label “Singa Paripurna” bukanlah tanpa alasan; setiap catatan kritis yang ia sampaikan dalam laporan APBD selalu menjadi poin yang diperhitungkan oleh pemerintah.

Perjalanan Jeane menuju kursi provinsi tidaklah tanpa tantangan. Pada masa Pemilu 2024, namanya sempat terseret dalam pusaran isu politik uang. Namun, integritasnya teruji setelah Polda Sulawesi Utara resmi mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) karena tuduhan tersebut tidak terbukti. Alih-alih meredup, momentum ini justru menjadi pembuktian bahwa dukungan rakyat terhadapnya murni karena rekam jejak kerja nyatanya.

Meskipun menyandang posisi penting di DPRD Sulut periode 2024–2029, Jeane dikenal tetap low profile dalam kesehariannya. Ia sering terlihat terlibat langsung dalam kegiatan sosial dan keagamaan, seperti saat dipercaya menjadi Ketua Panitia HUT ke-100 GMIM “Paulus” Tituwungen Wenang Mahakeret.

Bagi Jeane Laluyan, setiap kursi empuk di gedung dewan adalah amanah yang berat. Ia membuktikan bahwa menjadi politisi perempuan tidak berarti harus bersuara lembut jika kenyataan di lapangan sedang tidak baik-baik saja. Di tangan “Singa Paripurna” ini, harapan warga Manado kini disandarkan, berharap auman kritisnya terus membawa perubahan nyata bagi Bumi Nyiur Melambai.