Example floating
Example floating
Example 468x60
HEADLINEMANADOSULAWESI UTARA

Kerap Dikaitkan dengan Muhammadiyah dan PAN, Dahnil Anzar Luruskan Sejarah Matahari Pagi Indonesia

×

Kerap Dikaitkan dengan Muhammadiyah dan PAN, Dahnil Anzar Luruskan Sejarah Matahari Pagi Indonesia

Sebarkan artikel ini

MANADO – Jajaran Pengurus Wilayah Matahari Pagi Indonesia (MPI) Provinsi Sulawesi Utara resmi dikukuhkan untuk menakhodai gerakan di Bumi Nyiur Melambai. Prosesi pelantikan khidmat ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar (PB) MPI, Dr. H. Sutia Budi, dan berlangsung di Ballroom Courtyard by Marriott Manado, Jumat (30/10/2026) malam.

Dalam pembacaan SK struktur kepengurusan, Theresia Inggrid Manangka resmi mengemban amanah sebagai Ketua Umum PW MPI Sulawesi Utara. Langkah strategisnya di wilayah akan didampingi oleh Bambang Hermawan yang ditunjuk sebagai Sekretaris Umum, serta Muliadi Paputungan yang memegang posisi Bendahara Umum.

Acara pelantikan ini bernilai strategis karena dihadiri langsung oleh jajaran elit PB MPI. Tampak hadir Sekretaris Jenderal PB MPI Rachmat Tri Fahmi, Bendahara Umum PB MPI Andhika Pratama, beserta jajaran pengurus pusat lainnya. Hadir pula pendiri sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Matahari Pagi Indonesia, Dr. H. Dahnil Anzar Simanjuntak, yang saat ini juga mengemban amanah di kabinet pemerintahan sebagai Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia.

Meluruskan Identitas: Murni Kebiasaan, Bukan Afiliasi Parpol

Dalam Pidato Kebangsaan yang disampaikan dengan penuh energi dan sesekali diselingi humor, Dr. H. Dahnil Anzar Simanjuntak secara khusus meluruskan berbagai persepsi yang berkembang di tengah publik mengenai asal-usul nama “Matahari Pagi Indonesia”. Ia menyadari bahwa di ruang publik, nama organisasi ini kerap dikaitkan dengan latar belakang historis para pendirinya.

“Orang awam dan publik itu seringkali mengaitkan nama ini karena Dahnil Anzar Simanjuntak adalah mantan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah. Banyak yang mengaitkan ke sana. Kemudian, ada juga yang mengaitkan ini dengan Partai Amanat Nasional (PAN) karena partai tersebut identik dengan lambang matahari,” ujar Dahnil di hadapan pengurus, kader dan undangan.

Dengan tegas, Wakil Menteri Haji dan Umrah ini menyatakan bahwa asumsi-asumsi tersebut keliru. “Semuanya tidak ada hubungannya. Lalu apa hubungannya? Nama Matahari Pagi Indonesia ini lahir dari kebiasaan kami. Semua pertemuan awal, diskusi, dan momentum ketika kami berkumpul merancang gerakan ini selalu mengambil waktu di pagi hari. Karena kebiasaan berkumpul setiap pagi itulah nama ini melekat secara organik,” jelasnya.

Rekam Jejak 2023: Dari Gerakan Politik Menuju Wadah Inklusif

Dahnil tidak menampik sisi historis bahwa Matahari Pagi Indonesia pada awalnya didirikan sebagai sebuah gerakan politik. Ia mengisahkan kilas balik perjalanannya sejak tahun 2018 hingga 2024 yang dipercaya penuh bertindak sebagai Juru Bicara Prabowo Subianto, termasuk saat menjadi Koordinator Juru Bicara Pemenangan pasangan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019.

Titik balik berdirinya MPI terjadi pada tahun 2023, di mana saat itu Prabowo Subianto memberikan mandat khusus kepada Dahnil untuk membangun sebuah tim dan gerakan yang bersifat inklusif. Prabowo menginginkan sebuah wadah yang mampu mengumpulkan dan menyatukan berbagai elemen bangsa, terutama dari kalangan generasi muda lintas agama, lintas profesi, dan lintas suku.

Bergerak cepat memenuhi mandat tersebut, Dahnil langsung merangkul sejumlah tokoh besar nasional yang memiliki rekam jejak kuat di bidangnya masing-masing. Di antara tokoh yang diajak berdiskusi dan membangun fondasi awal MPI adalah Jenderal Pol. (Purn.) Agus Andrianto (yang kala itu menjelang purnatugas sebagai Wakapolri), pengusaha nasional papan atas Jusuf Hamka (Babah Alun), hingga Jaksa Agung Muda Intelijen, Prof. Dr. Reda Manthovani. Bersama para tokoh nasional dan aktivis muda inilah, gerakan MPI dirumuskan hingga menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia.

Ikatan Emosional dengan Sulawesi Utara dan Misi Shifting Culture

Lebih lanjut, Dahnil mengungkapkan adanya kedekatan emosional dan ikatan darah yang kuat antara kepemimpinan pusat dengan wilayah Sulawesi Utara. Ia mengingatkan para hadirin bahwa ibunda dari Presiden Prabowo Subianto merupakan perempuan asal Sulawesi, yang secara kultural memiliki garis darah yang sama dengan Ketua PW MPI Sulawesi Utara yang baru dilantik, Theresia Inggrid Manangka.

Selain bernostalgia mengenai sejarah pendirian, Dahnil juga menitipkan pesan ideologis yang mendalam bagi kepengurusan yang baru dilantik. Ia menekankan bahwa nafas utama dari setiap gerak langkah Matahari Pagi Indonesia adalah membawa perubahan kebudayaan yang positif dan progresif, bukan menjatuhkan.

“Salam satu semangat dari Matahari Pagi itu adalah shifting culture (pergeseran budaya), bukan cancel culture. Kita fokus pada perpindahan dan transformasi budaya ke arah yang lebih baik,” tegas Dahnil.

Acara pelantikan yang berlangsung hangat ini juga diwarnai oleh candaan segar saat Dahnil mengevaluasi jalannya transisi kepengurusan daerah secara jenaka. Seloroh tersebut berhasil mencairkan ketegangan formalitas acara dan disambut gelak tawa riuh dari seluruh pengurus wilayah. Dengan pelantikan ini, PW MPI Sulawesi Utara secara resmi siap bergerak mengibarkan panji-panji organisasi dan mengonsolidasikan pemuda di Bumi Nyiur Melambai.