SANGIHE – Kabupaten Kepulauan Sangihe berdiri tegak sebagai salah satu beranda terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan samudra luas. Di wilayah yang masuk kategori 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) ini, memutar roda ekonomi bukanlah perkara mudah. Tantangan geografis dan keterbatasan akses sering kali menjadi tembok besar bagi para pelaku usaha lokal.
Namun, di tengah dinamika tersebut, muncul secercah harapan baru lewat komitmen Arthur T. Lomboh, S.IP., Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Bagi Arthur, memimpin APINDO di wilayah kepulauan bukan sekadar mengurus profitabilitas bisnis. Ini adalah misi kemanusiaan untuk menenun ekonomi yang inklusif, sebuah konsep pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya dinikmati segelintir orang, melainkan menyentuh seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok desa.
Ditempa oleh Pendidikan dan Jiwa Keorganisasian
Cara pandang Arthur yang humanis dan terstruktur tidak tumbuh begitu saja. Fondasi berpikirnya terbentuk kuat saat ia menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.
Di kampus “Bumi Nyiur Melambai” tersebut, Arthur bukan sekadar mahasiswa yang mengejar nilai akademis. Ia aktif menyelami dinamika sosial melalui dunia pergerakan organisasi mahasiswa. Jejak akademisnya yang kritis terlihat jelas lewat karya riset ilmiahnya saat itu, yang secara khusus membedah tentang partisipasi masyarakat dalam pembangunan di Desa Lesabe, Kecamatan Tabukan Selatan, Sangihe. Dari sinilah ketertarikannya pada bidang Antropologi dan Psikologi Perkembangan mulai terasah, melahirkan keyakinan bahwa pembangunan ekonomi terbaik harus selalu menempatkan manusia sebagai subjek utama, bukan sekadar objek pembangunan.
Pengalaman berorganisasi sejak masa kuliah itulah yang membentuk karakter kepemimpinannya saat ini. Fleksibilitasnya dalam berdialog dan kemampuannya membangun jejaring menjadi modal besar ketika ia dipercayakan menakhodai APINDO Sangihe.
Menjembatani Bisnis, Teknologi, dan Hak Asasi Manusia
Langkah nyata Arthur dalam membawa suara pengusaha perbatasan ke panggung nasional kian terlihat nyata pada September 2026. Ia melakukan pertemuan strategis dengan Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM), Mugiyanto Sipin, di ruang VIP Bandara Sam Ratulangi, Manado. Pertemuan ini mengawinkan dua isu yang jarang bersanding di daerah pelosok, yakni sektor industri dan penegakan HAM.
Arthur menekankan bahwa bisnis yang berkelanjutan adalah bisnis yang menghormati hak-hak pekerjanya dan memberi dampak positif bagi komunitas sekitar.
Namun, ekonomi inklusif tidak akan pernah terwujud tanpa fondasi yang kuat, dan di era modern ini, fondasi tersebut bernama konektivitas digital. Dalam pertemuan tersebut, Arthur menyuarakan jeritan para pengusaha dan warga Sangihe mengenai pentingnya pemerataan akses internet. Ia mendorong pemanfaatan teknologi satelit seperti Starlink untuk membuka isolasi digital di wilayah 3T.
Meluaskan Sinergi, Mendorong Kemandirian Pemuda
Kiprah Arthur tidak berhenti di internal APINDO saja. Menyadari bahwa ekonomi inklusif membutuhkan kolaborasi lintas sektor, ia aktif merangkul berbagai elemen organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan.
Salah satu langkah konkritnya terlihat saat ia menghadiri Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sulawesi Utara di Manado. Di sana, Arthur hadir untuk mempertegas komitmen dunia usaha dalam mendorong kemandirian ekonomi anak-anak muda. Bagi Arthur, pemuda di daerah perbatasan maupun perkotaan harus dibekali jiwa kewirausahaan agar mampu menjadi motor penggerak ekonomi kreatif di daerah mereka sendiri.
Harapan dari Ujung Utara
Kini, dengan latar belakang ilmu pemerintahan yang matang, ketajaman riset sosial, serta jejaring organisasi yang luas, Arthur Lomboh terus bergerak menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah pusat dan realitas keras di lapangan. Perjuangan APINDO Sangihe memberikan sebuah pesan kuat dari ujung utara Nusantara bahwa daerah terluar Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi penonton dalam arus modernisasi.
Dari Sangihe, Arthur dan para pengusaha lokal sedang membuktikan bahwa dengan sinergi yang tepat, sentuhan teknologi, dan komitmen kemanusiaan, ekonomi inklusif bukan lagi sekadar impian di atas kertas, melainkan sebuah masa depan yang sedang mereka bangun bersama.









