Example floating
Example floating
HEADLINEMANADONASIONALSULAWESI UTARA

Jelang Muktamar ke-35 NU, Sahrir Bachrudin Sebut Nasaruddin Umar Figur Tepat Pimpin PBNU

×

Jelang Muktamar ke-35 NU, Sahrir Bachrudin Sebut Nasaruddin Umar Figur Tepat Pimpin PBNU

Sebarkan artikel ini
Foto: Sahrir Bachrudin, SE, M.AB

SULUT – Arus dukungan terhadap Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus mengalir dari berbagai daerah. Kali ini, dukungan moral dan struktural secara terang-terangan datang dari Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut).

Tokoh muda sekaligus Wakil Sekretaris PWNU Sulawesi Utara yang baru saja terpilih sebagai Ketua BPC KKSS Malalayang, Sahrir Bachrudin, SE, M.AB, menilai bahwa integritas serta rekam jejak kepemimpinan Nasaruddin Umar menjadikannya figur yang paling ideal untuk menakhodai PBNU di abad kedua ini.

Poros Kepemimpinan Intelektual dan Birokrat

Menurut Sahrir Bachrudin, pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, memerlukan pemimpin yang mampu menjembatani nilai kultural pesantren dengan tantangan modernisasi global.

“Prof. Nasaruddin Umar bukan hanya seorang birokrat ulung, tetapi beliau adalah ulama dan guru besar tafsir yang memiliki sanad keilmuan serta akar kultural Nahdliyin yang sangat kuat,” ujar Sahrir saat memberikan keterangan di Manado, Rabu (26/8/2026).

Ia menambahkan, kapasitas Nasaruddin Umar sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal dan Menteri Agama saat ini menjadi bukti nyata diterimanya gagasan-gagasan keislaman beliau yang moderat, inklusif, dan berwawasan kebangsaan luas.

Jaringan Kuat Daerah dan Kemenag

Peta konstelasi jelang Muktamar Jombang memang memperlihatkan pergerakan dinamis. Sahrir meyakini, selain dukungan arus bawah kultural, kekuatan jaringan di daerah, termasuk ekosistem Kementerian Agama (Kemenag) dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), secara moral melihat sosok Nasaruddin Umar sebagai simbol pemersatu.

Sebagai bagian dari warga keturunan Sulawesi Selatan yang kini mengakar di Bumi Nyiur Melambai, Sahrir Bachrudin juga melihat kesinambungan nilai intelektual Islam Nusantara Timur tercermin baik dalam karakter kepemimpinan Nasaruddin Umar.

“Beliau adalah representasi tokoh bangsa yang lengkap. Kami di daerah mendoakan agar Muktamar NU ke-35 berjalan sejuk, penuh berkah, dan melahirkan kepemimpinan yang membawa kemaslahatan besar bagi umat dan NKRI,” pungkas Sahrir.

Dukungan Sejak Awal dari Struktur PWNU

Sebelumnya, Ketua PWNU Sulut KH Ulyas Taha menegaskan bahwa dukungan terhadap Nasaruddin Umar telah diberikan sejak awal. Menurutnya, Menteri Agama RI tersebut dinilai memiliki kapasitas keilmuan, integritas, serta wawasan global yang dibutuhkan untuk membawa NU memainkan peran lebih besar di tingkat internasional.

“PWNU Sulut dan PCNU sejak awal memberikan dukungan kepada Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar. Beliau sangat pantas karena memiliki ilmu, integritas, dan wawasan global,” kata Ulyas.

Ulyas mengatakan, NU merupakan organisasi sosial keagamaan yang memiliki posisi strategis, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga dalam percaturan masyarakat dunia. Nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi landasan perjuangan NU membuat organisasi tersebut memiliki modal penting untuk membangun dialog di tengah keberagaman dunia.

“Dunia sangat membutuhkan kehadiran NU untuk menjembatani konsep pemikiran para tokoh dunia dan pemimpin dunia. Nah, Prof Nasaruddin Umar sangat bisa melakukan peran-peran itu,” ujarnya.

Siap Perjuangkan Aturan Rangkap Jabatan di Muktamar

Di sisi lain, Ulyas menyadari adanya ketentuan organisasi yang menjadi salah satu tantangan bagi Nasaruddin Umar dalam proses pencalonan. Ia merujuk pada aturan yang berkaitan dengan larangan rangkap jabatan politik tertentu di lingkungan NU, termasuk posisi menteri.

Menurut Ulyas, persoalan tersebut nantinya dapat dibahas melalui forum Muktamar, khususnya pada Komisi Organisasi.

“Persoalan itu akan kami perjuangkan melalui forum Muktamar, terutama Komisi Organisasi. Kami akan meminta agar syarat tersebut dihilangkan karena berkaitan dengan hak setiap orang untuk dicalonkan dan mencalonkan,” tegas Ulyas. Ia berpandangan bahwa NU sebagai organisasi yang terbuka perlu memberikan ruang yang luas bagi kader-kader terbaik untuk berkontribusi.

Dinamika Lapangan Tetap Cair

Mengenai kemungkinan arah dukungan PWNU Sulut apabila Nasaruddin Umar terganjal persyaratan pencalonan, Ulyas mengatakan pihaknya masih akan melihat perkembangan politik organisasi menjelang pelaksanaan Muktamar. Menurut dia, dinamika dukungan di kalangan PWNU dan PCNU masih dapat berubah seiring dengan intensitas komunikasi antarstruktur.

“Kita melihat dinamika di lapangan. Menjelang hari H, memang masih sangat dinamis,” ujarnya.

Ulyas juga tidak menampik munculnya kecenderungan sejumlah PCNU di daerah lain yang mengarah kepada figur inkumben, termasuk KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), yang saat ini masih memimpin PBNU. Pertarungan gagasan dan figur di Jombang diprediksi akan terus menghangat hingga hari pemilihan tiba.