SULUT – Riuh rendah diskusi di Gedung Cengkih, Kairagi, biasanya didominasi oleh wajah-wajah senior dengan dialek politik yang kental. Namun, sejak awal 2025, sebuah energi baru menyeruak di antara barisan kursi parlemen Sulawesi Utara. Sosok itu adalah Hillary Julia Tuwo, S.E., legislator muda dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang membuktikan bahwa politik bukan sekadar soal usia, melainkan soal keberanian untuk peduli.
Mewakili masyarakat Minahasa Utara dan Kota Bitung, Hillary hadir bukan sebagai “pemanis” demokrasi. Sejak dilantik pada 7 Januari 2025, ia langsung terjun ke gelanggang kebijakan di Komisi I. Bagi Hillary, setiap kursi di DPRD adalah amanah yang harus dibayar lunas dengan kerja nyata.
“Kepercayaan masyarakat itu amanah besar. Saya ingin mereka tahu bahwa perwakilannya benar-benar bekerja,” tuturnya dalam sebuah kesempatan. Kalimat itu bukan sekadar jargon. Di tangannya, transparansi bukan lagi barang mewah. Melalui layar ponsel, konstituen bisa melihat setiap rapat yang ia hadiri dan setiap keluhan yang ia perjuangkan. Ia meruntuhkan dinding pembatas antara rakyat dan wakilnya melalui laporan kinerja bulanan yang rutin diunggah ke media sosial.
Tahun 2026 menjadi pembuktian ketajaman taring politiknya. Masih segar di ingatan bagaimana ia berdiri paling depan mengawal hak-hak guru ASN di Sulawesi Utara. Ketika Tunjangan Profesi Guru (TPG) dan THR sempat tersendat, Hillary tak tinggal diam hingga pembayaran terealisasi 100%. Baginya, kesejahteraan guru adalah pondasi bagi masa depan Bumi Nyiur Melambai.
Namun, sisi humanisnya paling terlihat saat ia berhadapan dengan isu-isu sensitif. Ia tak ragu menempuh perjalanan ke Tomohon untuk menemui siswi korban kekerasan psikis. Di sana, ia bukan sekadar legislator yang datang membawa nota dinas, melainkan sosok kakak yang memastikan keadilan tetap tegak bagi mereka yang tak berdaya.
Di lapangan, Hillary dikenal vokal menyuarakan perbaikan infrastruktur. Jalan-jalan rusak di ruas Ir. Soekarno yang kerap dikeluhkan warga, ia dorong percepatannya hingga mendapat respons cepat dari pemerintah provinsi. Namun, visinya melampaui aspal dan beton.
Melalui Rumah Kreatif Bitung, ia mencoba membasuh dahaga generasi muda akan ruang berekspresi. Ia percaya bahwa “Generasi Emas” Sulawesi Utara hanya bisa tercipta jika anak muda diberi panggung dan dukungan nyata, bukan sekadar janji saat kampanye.
Kini, memasuki pertengahan 2026, nama Hillary Julia Tuwo semakin diperhitungkan. Ia adalah representasi pemimpin masa depan: cerdas, berempati, dan melek teknologi. Di tengah skeptisisme publik terhadap dunia politik, Hillary hadir membawa “Politik Hati”.
Langkahnya mungkin masih panjang, namun pondasi yang ia bangun hari ini mulai dari ruang sidang hingga ke pelosok desa di Minut dan Bitung menjanjikan fajar baru bagi politik Sulawesi Utara. Hillary telah membuktikan bahwa untuk membuat perubahan, seseorang tidak perlu menunggu tua, ia hanya perlu memulai dengan bekerja nyata.
Bukan Sekadar Pemanis: Hillary Tuwo dan Taring Politik Anak Muda










