Example floating
Example floating
HEADLINEMANADOPOLITIK/PEMERINTAHANSULAWESI UTARA

Amir Liputo, Sang Jembatan Aspirasi dari Gedung Cengkih yang Setia di Garis Ummat

×

Amir Liputo, Sang Jembatan Aspirasi dari Gedung Cengkih yang Setia di Garis Ummat

Sebarkan artikel ini

MANADO – Di koridor Gedung Cengkih, sebutan untuk kantor DPRD Sulawesi Utara, nama Amir Liputo, S.H. bukanlah nama baru. Sosoknya yang tenang namun vokal dalam memperjuangkan hak rakyat telah menjadikannya salah satu politisi paling disegani di Bumi Nyiur Melambai. Memasuki periode ketiganya sebagai wakil rakyat, Amir bukan sekadar politisi; ia adalah simbol konsistensi dan dedikasi.

Lahir dan besar dengan nilai-nilai religius yang kuat, Amir Liputo dikenal sebagai sosok “family man” yang rendah hati. Meski jadwal politiknya padat, mulai dari rapat paripurna hingga kunjungan ke pelosok Manado, keluarga tetap menjadi jangkar utamanya. Dukungan sang istri dan anak-anaknya diakui Amir sebagai sumber energi yang membuatnya tetap tegak berdiri meski diterpa badai politik. Kehidupan pribadinya yang jauh dari hiruk-pikuk kemewahan menjadi cermin kesederhanaan yang ia bawa ke ruang publik.

Di tengah gaya hidup pejabat yang identik dengan kemewahan, Amir Liputo memilih jalan yang berbeda. Salah satu sisi paling menyentuh dari kehidupan pribadinya adalah sosok sang istri yang tetap setia dengan profesinya sebagai pedagang kecil di pasar tradisional, seperti pasar Bersehati dan Pasar Bailang. Kehidupan di pasar ini menjaga keluarga Liputo tetap membumi dan memahami betul denyut nadi ekonomi rakyat kecil yang ia perjuangkan di parlemen.

Karier legislatif Amir Liputo dimulai dari bawah. Ia tercatat pernah mengabdikan diri sebagai Anggota DPRD Kota Manado selama dua periode, yakni pada masa bakti 2004-2009 dan dilanjutkan pada 2009-2014. Di tingkat kota inilah Amir pertama kali mengasah kepekaannya terhadap persoalan urban, mulai dari tata ruang, problematika pedagang pasar, hingga urusan kesejahteraan umat. Bekal pengalaman di level kota menjadi fondasi kuat yang membuatnya sangat memahami detil persoalan warga Manado saat ia naik kelas ke tingkat provinsi

Keberhasilan Amir duduk di DPRD Sulawesi Utara selama tiga periode berturut-turut (2014-2019, 2019-2024, dan kini 2024-2029) adalah bukti nyata kepercayaan masyarakat Manado. Tak banyak politisi yang mampu mencetak “hattrick” di dapil yang sangat kompetitif.

Rekam jejaknya di legislatif ditandai dengan keberaniannya menyuarakan isu-isu krusial, mulai dari sengketa lahan warga, perbaikan infrastruktur drainase untuk mencegah banjir, hingga pengawasan ketat terhadap anggaran daerah.

Pada periode 2024–2029, ia kembali dipercaya duduk sebagai anggota Komisi III yang membidangi pembangunan, infrastruktur, dan lingkungan hidup. Meski pribadinya lembut, Amir berubah menjadi “singa” yang vokal jika menyangkut hak dasar warga.

Kapasitasnya dalam urusan keuangan daerah menempatkannya sebagai personel Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sulut. Di sini, Amir berperan memastikan alokasi APBD benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat bawah. Ia tak segan mengkritik pemerintah jika efisiensi anggaran terabaikan. Baginya, setiap rupiah dalam APBD harus “berbunyi” untuk kesejahteraan, bukan habis untuk seremonial.

Ketajamannya dalam diplomasi juga terlihat saat ia menanggapi isu-isu sensitif. Ia seringkali menjadi penengah dalam rapat-rapat panas di Gedung Cengkih, membawa suasana kembali mendingin dengan tutur kata yang tertata dan argumentasi hukum yang kuat, sesuai latar belakang pendidikannya sebagai Sarjana Hukum

Salah satu tinta emas karir politiknya adalah kepeloporannya dalam mendorong lahirnya Peraturan Daerah (Perda) tentang Penyelenggaraan Haji. Amir memahami betul beban para calon jemaah haji, terutama terkait biaya domestik yang sering kali memberatkan. Lewat jalur legislasi, ia berjuang agar pemerintah daerah hadir memberikan bantuan transportasi dan pelayanan bagi jemaah haji asal Sulawesi Utara. Perjuangan ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan wujud pengabdiannya untuk memastikan umat dapat beribadah dengan lebih tenang dan ringan.

Meskipun merupakan satu-satunya wakil dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Amir menunjukkan kematangan berpolitik dengan bergabung dalam Fraksi PDI Perjuangan. Langkah strategis ini diambil guna mengoptimalkan peran legislasi dan perjuangan aspirasi masyarakat di tingkat provinsi.

Sebagai wakil rakyat, Amir dikenal tidak hanya bekerja di balik meja. Dalam setiap kegiatan reses, ia secara konsisten turun ke kantong-kantong pemukiman di Kota Manado. Prinsip “Politik Berkah” yang ia usung bukan sekadar slogan kampanye. Hal ini terlihat nyata pada masa reses baru-baru ini di bulan April 2026, Amir hadir langsung mendengarkan keluhan warga mulai dari masalah drainase, bantuan UMKM, hingga akses kesehatan.

Amir juga tak sungkan menyusuri gang-gang sempit untuk memastikan bantuan pendidikan tepat sasaran atau mendengar langsung keluhan warga tentang air bersih. Ia adalah tipe pemimpin yang lebih memilih sepatunya kotor terkena lumpur dari pada hatinya kotor karena mengabaikan janji. Baginya, reses adalah momentum sakral untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil di tingkat provinsi benar-benar selaras dengan kebutuhan di lapangan.

Karier politiknya mencapai puncak saat ia dipercaya memimpin sebagai Ketua DPW PKS Sulawesi Utara masa bakti 2025–2030. Di bawah kepemimpinannya, PKS Sulut diharapkan menjadi partai yang lebih inklusif dan mampu merangkul keberagaman di Sulawesi Utara. Strateginya jelas, mengedepankan politik santun dan kerja nyata yang melampaui sekat-sekat perbedaan.

Jauh sebelum dikenal sebagai politisi papan atas, Amir telah mendedikasikan dirinya dalam berbagai organisasi sosial dan keagamaan. Pengalamannya sebagai Ketua Umum Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Manado, Ketua Keturunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG) Manado, mempertegas posisinya sebagai tokoh yang mampu merekatkan ukhuwah. Keterlibatannya dalam organisasi profesi dan sosial lainnya membentuk karakter kepemimpinannya yang solutif dan mengayomi.

Kini, dengan mandat baru sebagai nahkoda partai dan wakil rakyat, tantangan Amir kian besar. Namun, bagi pria bergelar Sarjana Hukum ini, politik hanyalah alat untuk pengabdian. “Jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” ungkapnya dalam satu kesempatan.

Bagi warga Sulawesi Utara, Amir Liputo adalah potret politisi yang tetap membumi di tengah kekuasaan, sosok yang membuktikan bahwa integritas adalah modal terbaik dalam memenangkan hati rakyat.