“Tahun ini sudah efektif. Di samping itu, kita butuh sapi betina produktif dari peternak. Jika tak ada aral melintang, maka direncanakan pula perkawinan silang antara sapi putih atau peranakan ongole (PO) lokal dengan sapi bali yang nantinya menghasilkan genetika sapi bacan,” kata Insani saat disambangi di ruang kerjanya.
“Di kecamatan Tutuyan, Desa Tombolikat ada sekitar 15 ekor sapi warga, namun di IB hanya 2 ekor positif sesuai syarat. Sedangkan Desa Paret, Kecamatan Kotabunan, 7 ekor sudah di IB pada Maret-April kemarin. Saat ini, dilakukan di Desa Purworedjo, Kecamatan Modayag dan Motongkad. IB-nya atau Straw kita gunakan, isinya (benih gen-red) kandungannya sekitar 2 sampai 5 juta sel, diambil dari sapi jantan khusus berkualitas guna perbaikan genetik (keturunan). Programnya upaya khusus sapi indukan wajib bunting. Untuk IB kita masukan ke dalam kontener khusus IB, di dalamnya mengandung N2 cair, di mana suhunya mencapai minus 175 derajat celsius. Dan harus dalam keadaan kristal beku. Jika tidak, maka akan merusak cikal bakalnya. IB tidak mengenal tenggang waktu atau masa. Jadi bisa disimpan hingga ratusan tahun, namun harus ada N2-nya,” papar Insani, Selasa (14/05/2019).
“Peternak diberikan IB dan obat-obatan yang berkaitan dengan kesehatan sapi. Seperti perangsang, penguat kehamilan, dan anti tetanus jika ada sapi yang luka. Sekaligus pembinaan pada peternak. Kita turun langsung mengawal program ini. Mulai dari pemeriksaan kesehatan sapi, suntikan IB, sampai proses melahirkan. Minimal 3 tahun pengembangan program ini. Dengan begitu, kualitas F3 atau keturunan ke 3 mendapatkan hasil sapi unggul di kabupaten Boltim,” jelasnya.










