Example floating
Example floating
Example 468x60
HEADLINEMANADOSULAWESI UTARA

Refleksi Sejarah G30S/PKI: Ketua GPII Manado Idham Adrias Male Ajak Pemuda Perkuat Ideologi Pancasila dan Bentengi Daerah dari Paham Radikal

×

Refleksi Sejarah G30S/PKI: Ketua GPII Manado Idham Adrias Male Ajak Pemuda Perkuat Ideologi Pancasila dan Bentengi Daerah dari Paham Radikal

Sebarkan artikel ini

MANADO – Peringatan peristiwa kelam Gerakan 30 September (G30S/PKI) kembali menjadi momentum krusial bagi generasi muda untuk merefleksikan nilai-nilai kebangsaan. Ketua Pengurus Daerah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (PD GPII) Kota Manado, Idham Adrias Male, secara tegas mengajak seluruh elemen pemuda dan organisasi kemasyarakatan di Kota Manado untuk merapatkan barisan, memperkuat ideologi Pancasila, serta secara aktif menangkal infiltrasi paham radikal yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Idham menekankan bahwa tragedi nasional tahun 1965 bukan sekadar lembaran kelam yang dibaca dalam buku sejarah. Menurutnya, peristiwa pembunuhan para perwira tinggi TNI-AD dan pahlawan revolusi tersebut harus diposisikan sebagai alarm pengingat yang abadi bagi seluruh anak bangsa.

“Sejarah telah membuktikan bahwa rongrongan terhadap ideologi negara bisa berakibat sangat fatal bagi eksistensi sebuah bangsa. Sebagai generasi penerus yang hidup di era keterbukaan informasi, kader GPII beserta seluruh pemuda di Kota Manado harus berada di garis terdepan untuk membentengi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari segala bentuk ancaman ideologi ekstrem, baik kiri maupun kanan, yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945,” tegas Idham saat diwawancarai di Manado, Rabu (30/09/2026).

Pemimpin muda yang baru saja terpilih secara aklamasi untuk menakhodai PD GPII Kota Manado periode 2026–2031 ini juga menyoroti kondisi sosiologis Kota Manado. Selama ini, Manado dikenal luas di tingkat nasional sebagai salah satu episentrum kerukunan dan kota paling toleran di Indonesia.

Namun, Idham memperingatkan bahwa modal sosial berupa keharmonisan antarumat beragama dan antarsuku ini tidak boleh membuat pemuda terlena. Di era digital, taktik adu domba, penyebaran berita bohong (hoaks), dan radikalisme tidak lagi menyebar secara fisik, melainkan menyusup secara halus melalui algoritma media sosial.

“Kekuatan utama Manado adalah keberagaman yang rukun. Isu-isu sensitif berbasis sara atau polarisasi ideologi masa lalu yang sengaja digoreng kembali oleh pihak tidak bertanggung jawab harus kita lawan bersama. Jangan beri ruang sedikit pun bagi benih-benih disintegrasi untuk tumbuh di bumi Nyiur Melambai,” tambahnya.

Lebih lanjut, Idham yang juga menjabat sebagai Kepala Staf Brigade Wilayah (Brigade Masjid) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sulawesi Utara ini mendorong dinas terkait, institusi pendidikan, hingga organisasi kepemudaan (OKP) lokal untuk gencar menyelenggarakan ruang diskusi, bedah buku, maupun forum literasi sejarah. Hal ini dinilai penting agar generasi Z dan milenial mendapatkan edukasi sejarah nasional secara utuh, objektif, dan berlandaskan fakta kemerdekaan bangsa.

“Kita ingin pemuda hari ini menghargai tumpah darah para pahlawan dengan cara yang produktif. Jangan sampai kita terjebak dalam pusaran konflik masa lalu yang destruktif. Sebaliknya, mari kita salurkan energi kepemudaan ini ke dalam inovasi, penguatan ekonomi kreatif, kolaborasi lintas komunitas, serta pengabdian nyata kepada masyarakat Manado,” pungkasnya.