SULUT – Anggota Komisi 1 DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Feramitha Tiffani Mokodompit, memberikan perhatian khusus terhadap pentingnya penanaman nilai-nilai kebangsaan bagi generasi muda menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Berkaca pada peristiwa kelam Gerakan 30 September (G30S/PKI), politisi muda dari PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa sejarah harus menjadi cermin bagi bangsa untuk menjaga keutuhan NKRI dari rongrongan ideologi radikal di era digital.
Sebagai legislator yang membidangi sektor hukum, pemerintahan, dan hak asasi manusia, Feramitha menyatakan bahwa ancaman terhadap ideologi negara tidak lagi datang dalam bentuk gerakan bersenjata tradisional seperti pada tahun 1965. Di zaman modern, infiltrasi paham yang bertentangan dengan Pancasila justru menyusup secara halus melalui platform media sosial, manipulasi data digital, serta penyebaran berita bohong (hoax).
“Tragedi nasional G30S/PKI merupakan catatan hitam yang mengorbankan para pahlawan revolusi demi mempertahankan eksistensi negara kita. Bagi generasi Z dan Milenial di Sulawesi Utara, tugas kita hari ini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan memastikan bahwa asas kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial yang terkandung dalam Pancasila tetap tegak di tengah derasnya arus globalisasi,” ujar Feramitha, Rabu (30/09/2026).
Legislator peraih 36.450 suara dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bolaang Mongondow Raya (BMR) ini juga menyoroti kerentanan anak muda terhadap polarisasi. Feramitha menekankan bahwa momentum refleksi sejarah tidak boleh digunakan untuk memelihara dendam masa lalu, melainkan sebagai peringatan kolektif agar bangsa Indonesia tidak jatuh ke dalam lubang perpecahan yang sama.
Ia mendorong dinas terkait di Pemprov Sulut untuk terus menggalakkan program literasi digital dan wawasan kebangsaan di lingkungan sekolah serta komunitas kepemudaan. Langkah ini dinilai strategis untuk membentengi pikiran pemuda dari konten-konten radikal yang berupaya memecah belah kerukunan antarumat beragama dan antargolongan.
“Sulawesi Utara dikenal sebagai laboratorium kerukunan nasional. Semangat toleransi dan gotong royong yang telah mengakar dari Minahasa, Nusa Utara, hingga Bolaang Mongondow Raya adalah manifestasi nyata dari kesaktian Pancasila yang harus terus kita rawat bersama-sama,” lanjut peraih gelar Master dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.
Mengakhiri penyampaiannya, Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sulawesi Utara ini mengajak seluruh tokoh masyarakat, akademisi, dan organisasi kepemudaan untuk membuka ruang diskusi yang sehat mengenai sejarah bangsa. Melalui pemahaman sejarah yang objektif dan konsisten, ia optimistis generasi muda Sulut tidak hanya menjadi penonton, melainkan menjadi motor penggerak pembangunan daerah yang adaptif, cerdas, dan tetap menjunjung tinggi identitas nasional.









