(Refleksi HSN dan Tantangan Moral Generasi Madrasah)
Oleh : Muh. Helmi Arsjad.(Pembina IPNU Sulut)
Rangkaian peristiwa pertempuran heroik di Surabaya pada November 1945 akhirnya mengantarkan paket kesejarahannya kepada negara yang kemudian menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN) melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Sejarah itu mengajarkan bahwa pesantren dan santri tidak pernah berdiri jauh dari persoalan bangsa.
Ketika kemerdekaan terancam, santri hadir dengan keberanian. Ketika bangsa membutuhkan persatuan, ulama dan santri ikut merawatnya. Ketika masyarakat membutuhkan pendidikan, pesantren menjadi salah satu ruang penting untuk membangun pengetahuan, akhlak, dan kesadaran sosial.
Namun, setelah kemerdekaan berusia puluhan tahun, pertanyaan penting perlu kita ajukan: jika dahulu para santri berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa, perjuangan apakah yang sedang dilakukan oleh generasi santri dan siswa madrasah hari ini ? Pertanyaan inilah yang semestinya menggema di setiap peringatan Hari Santri Nasional, termasuk di lingkungan madrasah sebagai satuan pendidikan.
Dari Resolusi Jihad Menuju Revolusi Akhlak
HSN 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Pesannya bahwa masa depan bangsa tidak cukup dibangun dengan kecerdasan akademik, kemajuan teknologi, atau kemegahan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki integritas, kedalaman spiritual, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moral.
Di sinilah pendidikan madrasah menghadapi tanggung jawab yang tidak ringan. Madrasah tidak hanya dituntut menghasilkan siswa yang mampu menjawab soal ujian, meraih nilai tinggi, atau memenangkan kompetisi akademik, tetapi juga harus membentuk manusia yang mampu mengendalikan dirinya, menghormati orang lain, menjaga kehormatan, menjalankan ibadah, dan mempertanggungjawabkan setiap tindakannya.
Sebab, apalah arti kecerdasan jika tidak disertai kebijaksanaan? Apalah arti pengetahuan agama jika tidak membentuk perilaku yang baik? dan apa arti identitas sebagai siswa madrasah jika nilai-nilai Islam hanya berhenti pada hafalan, simbol, dan kegiatan seremonial?.
Kita membutuhkan semacam revolusi akhlak: perubahan mendasar dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Bukan revolusi yang dibangun melalui kemarahan atau penghukuman semata, melainkan melalui kesadaran, keteladanan, pembiasaan, dan tanggung jawab bersama. Jika Resolusi Jihad pada masa lalu menggerakkan santri untuk mempertahankan kemerdekaan, maka perjuangan generasi madrasah hari ini adalah membebaskan dirinya dari kebodohan, kemalasan, ketidakjujuran, perilaku merusak, dan berbagai bentuk perbudakan baru yang mengancam masa depan.
Cermin Realitas Generasi Madrasah
Peringatan HSN 2026 dalam bentuk Upacara resmi di Halaman MAN Model Manado seharusnya menjadi momentum bagi madrasah untuk melakukan refleksi yang jujur. Sebagai lembaga pendidikan Islam di Kota Manado, MAN Model memiliki tanggung jawab untuk membangun generasi yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan nyata.
Akan tetapi, kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai persoalan sosial yang menjadi perhatian di lingkungan pendidikan kita. Rendahnya kedisiplinan, lemahnya budaya literasi, kurangnya kesadaran beribadah, persoalan akhlak dalam pergaulan, serta penggunaan media digital yang tidak bertanggung jawab merupakan sejumlah tantangan yang perlu ditangani secara serius. Persoalan ini tidak boleh digeneralisasi kepada seluruh siswa, tetapi juga tidak boleh diabaikan ketika ditemukan dalam kehidupan madrasah.
Kekhawatiran itu semakin nyata ketika teknologi digital yang semestinya menjadi sarana belajar justru berpotensi menyeret sebagian pelajar ke dalam praktik yang merusak. Judi daring, konsumsi konten pornografi, eksploitasi seksual berbasis digital, dan berbagai perilaku berisiko lainnya merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian serius dari madrasah, keluarga, dan masyarakat. Perlu kesadaran bahwa di balik layar telepon genggam seorang siswa, terdapat ruang yang tidak selalu diketahui oleh guru dan orang tua. Di sana, seorang siswa dapat menemukan pengetahuan dan inspirasi, tetapi juga dapat terpapar penipuan, kecanduan, kekerasan, eksploitasi, dan perilaku yang mengancam masa depannya. Karena itu, persoalan tersebut tidak cukup dijawab dengan aturan penggunaan telepon genggam, razia perangkat digital, atau pemberian hukuman.
Langkah pengawasan mungkin diperlukan sesuai aturan dan perlindungan hak siswa, tetapi pendidikan harus bergerak lebih jauh: membangun literasi digital, memperkuat kontrol diri, membuka ruang konsultasi yang aman, dan menanamkan kesadaran bahwa kebebasan selalu memiliki konsekuensi moral. Kita tidak sedang menghadapi persoalan teknologi semata. Kita sedang menghadapi tantangan pembentukan karakter manusia di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.
Dalam konteks ini, Peringatan HSN 2026 seharusnya mengingatkan siswa madrasah bahwa menjadi bagian dari lembaga pendidikan Islam bukan sekadar memperoleh status sebagai siswa madrasah. Ada amanah moral yang melekat di dalamnya. Ada nilai yang harus dipelajari, dihidupi, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Santri Masa Kini dan Penjajahan dalam Bentuk Baru
Generasi santri pada 1945 menghadapi ancaman penjajahan fisik. Mereka berhadapan dengan senjata, kekuatan militer, dan ancaman terhadap kedaulatan bangsa. Generasi pelajar hari ini menghadapi medan perjuangan yang berbeda. Ancaman itu tidak selalu hadir dalam bentuk senjata atau pasukan asing. Sebagian hadir melalui kebiasaan yang merusak, ketergantungan digital, budaya instan, tekanan pergaulan, pencarian pengakuan di media sosial, dan dorongan untuk memperoleh kesenangan tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Tentu, kemajuan teknologi bukanlah musuh. Media sosial dapat menjadi sarana dakwah, pembelajaran, kreativitas, dan pengembangan potensi. Namun, teknologi tanpa kendali diri dapat berubah menjadi ruang yang menguasai perhatian, mengubah cara berpikir, dan melemahkan kemampuan seseorang untuk membedakan yang bermanfaat dari yang merusak.
Dalam bahasa pendidikan karakter, tantangan ini menuntut siswa memiliki kemampuan mengendalikan diri. Dalam bahasa agama, kita mengenalnya sebagai bagian dari perjuangan melawan hawa nafsu dan kecenderungan yang membawa manusia kepada keburukan.
Karena itu, jihad santri masa kini tidak boleh dipersempit menjadi simbol keberanian atau slogan perjuangan. Jihad harus diwujudkan melalui kesungguhan belajar, keberanian berkata benar, keteguhan menolak ajakan negatif, kemampuan menjaga kehormatan diri, dan kesediaan membantu sesama.
Seorang siswa yang memilih meninggalkan judi online demi masa depannya sedang melakukan perjuangan yang penting. Siswa yang berani menolak penyebaran konten intim tanpa persetujuan, tidak ikut mempermalukan korban, dan melaporkan eksploitasi kepada pihak yang tepat sedang menunjukkan tanggung jawab moral. Siswa yang memilih membaca buku daripada menghabiskan seluruh waktunya untuk konten tanpa manfaat sedang membangun kemerdekaan berpikir.
Perjuangan semacam ini mungkin tidak disaksikan banyak orang. Tidak selalu mendapatkan tepuk tangan. Bahkan, terkadang tidak memperoleh pengakuan di media sosial. Namun, justru di situlah nilai karakter diuji: ketika seseorang tetap memilih kebaikan meskipun tidak ada orang yang melihatnya.
Menghidupkan Kembali Ruh Pesantren di Lingkungan Madrasah
Madrasah Aliyah Negeri termasuk MAN Model Manado memang bukan pondok pesantren dalam pengertian kelembagaan. Namun, sebagai madrasah, ia memiliki ruang untuk menghidupkan nilai-nilai pendidikan yang selama ini menjadi kekuatan tradisi pesantren: penghormatan terhadap ilmu, adab kepada guru, kedisiplinan, pembiasaan ibadah, kesederhanaan, kemandirian, dan kepedulian terhadap masyarakat. Nilai-nilai tersebut tidak cukup disampaikan dalam ceramah atau dituliskan pada spanduk kegiatan. Ia harus diterjemahkan menjadi kebiasaan yang nyata.
Budaya literasi harus diperkuat agar siswa memiliki keluasan wawasan dan kemampuan berpikir kritis. Pembiasaan ibadah perlu dihidupkan dengan pendekatan yang mendidik, bukan semata-mata menggugurkan kewajiban administratif. Pendidikan akhlak harus hadir dalam interaksi sehari-hari. Literasi digital perlu menjadi bagian dari upaya melindungi siswa sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi perkembangan teknologi.
Madrasah juga perlu membuka ruang dialog yang aman bagi siswa untuk menyampaikan persoalan, memperoleh pendampingan, dan belajar bertanggung jawab atas pilihannya. Kerja sama dengan orang tua perlu diperkuat, terutama dalam menghadapi persoalan yang tidak berhenti ketika siswa meninggalkan gerbang madrasah. Yang tidak kalah penting, seluruh unsur madrasah perlu membangun kesepakatan bersama mengenai aturan dan nilai yang hendak ditegakkan. Disiplin tidak akan menjadi budaya apabila hanya diperjuangkan oleh sebagian orang, sementara yang lain menganggapnya sebagai urusan pihak tertentu.
HSN 2026 dapat menjadi momentum untuk memperbarui komitmen tersebut. Upacara tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi titik awal untuk mengevaluasi kebiasaan, memperbaiki tata kelola pembinaan, dan memperkuat pendidikan karakter. Jika semangat Hari Santri benar-benar dihayati, perubahan itu semestinya terlihat setelah upacara selesai: dalam cara siswa berbicara, cara guru mengajar, cara aturan ditegakkan, cara masalah diselesaikan, dan cara seluruh warga madrasah saling menghormati.
Hari Santri Harus Menjadi Momentum Perubahan
Pada akhirnya, peringatan HSN 2026 mengajak kita melihat kembali hubungan antara sejarah dan masa depan. Para ulama dan santri telah memberikan teladan bahwa kecintaan terhadap agama dapat berjalan seiring dengan pengabdian kepada bangsa. Mereka mengajarkan bahwa ilmu tidak boleh terpisah dari tanggung jawab, dan identitas keagamaan harus melahirkan manfaat bagi kehidupan bersama.
Kini, tugas itu berada di tangan generasi yang berbeda. Siswa MAN madrasah tidak diminta mengulangi sejarah dengan cara yang sama. Mereka diminta mengambil nilai-nilai perjuangan tersebut dan menerjemahkannya sesuai tantangan zamannya. Mereka harus berjuang melawan kebodohan dengan belajar. Melawan ketidakjujuran dengan integritas. Melawan perundungan dengan keberanian membela sesama. Melawan penyalahgunaan teknologi dengan literasi dan pengendalian diri. Melawan kemalasan dengan kedisiplinan. Serta melawan sikap tidak peduli dengan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Inilah bentuk perjuangan yang dapat dilakukan oleh pelajar hari ini, sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawabnya.
Kita tidak boleh membiarkan HSN berhenti sebagai kebanggaan terhadap masa lalu. Sejarah harus menjadi sumber inspirasi untuk memperbaiki masa kini dan menyiapkan masa depan. Kepada seluruh siswa madrasah, marilah menjadikan HSN 2026 sebagai kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kehadiran kita di madrasah telah membawa perubahan baik bagi diri sendiri dan orang lain? Apakah ilmu yang kita pelajari telah membantu kita mengambil keputusan yang benar? Apakah perilaku kita sudah mencerminkan nilai-nilai yang kita banggakan?. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Masa depan tidak ditentukan hanya oleh kesalahan yang pernah dilakukan, tetapi juga oleh keberanian untuk berubah dan kesungguhan menjaga perubahan itu.
Kepada para guru dan seluruh warga madrasah, mari kita menyadari bahwa masa depan siswa bukan hanya urusan siswa itu sendiri. Masa depan mereka juga merupakan amanah pendidikan yang harus kita perjuangkan bersama.
Dari MAN Model Manado, mari kita teguhkan kembali ikhtiar membangun generasi yang berilmu, beriman, berakhlak, disiplin, dan bertanggung jawab. Sebab, santri dan generasi madrasah yang menguatkan negeri bukan hanya mereka yang mengenang perjuangan para pendahulu, melainkan mereka yang bersedia melanjutkan perjuangan itu melalui perubahan nyata dalam dirinya.
Selamat Hari Santri Nasional 2026.
“Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”
Dari sejarah kita belajar, dari madrasah kita berbenah, untuk masa depan bangsa kita berjuang.






