MANADO – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2026 menjadi momentum penting bagi seluruh elemen bangsa untuk merefleksikan kembali ketangguhan ideologi negara. Menanggapi hari bersejarah ini, tokoh muda, sekaligus pegiat pendidikan vokasi penerbangan Sulawesi Utara, Harvey Wowor, mengajak seluruh lapisan masyarakat khususnya generasi muda di Bumi Nyiur Melambai untuk tidak sekadar menjadikan Pancasila sebagai seremoni tahunan, melainkan sebagai kompas moral dan penggerak kemajuan nyata.
Bagi pria yang kini aktif memperjuangkan aspirasi rakyat bersama Partai Hanura ini, tema ketangguhan Ideologi Pancasila harus ditarik ke dalam ranah praktis yang menyentuh hajat hidup orang banyak. Menurutnya, tantangan zaman yang dihadapi generasi muda saat ini bukan lagi pemberontakan fisik, melainkan kompetisi global, ketimpangan ekonomi, dan kesiapan SDM dalam menghadapi dunia kerja.
“Sejarah telah membuktikan bahwa Pancasila adalah benteng kokoh yang menjaga keutuhan Indonesia dari berbagai guncangan. Di era modern ini, kesaktian Pancasila harus kita tunjukkan melalui lahirnya generasi muda yang berkarakter kuat, berdaya saing tinggi, dan mandiri secara ekonomi,” ujar Harvey Wowor saat ditemui di Manado, Kamis (01/10/2026).
Sebagai pendiri Garda Bintang Kencana Training Center (GBK TC) wilayah Manado, Harvey menekankan bahwa sektor pendidikan, khususnya pendidikan vokasi, memegang peranan krusial dalam mengamalkan Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Ia menilai bahwa memberikan akses pelatihan kerja yang berkualitas kepada anak-anak muda di daerah adalah langkah konkret untuk memutus mata rantai pengangguran dan mengangkat kesejahteraan masyarakat lokal.
“Ketika kita memberikan keterampilan terapan di bidang kedirgantaraan atau industri lainnya kepada pemuda-pemuda kita, kita sedang membuka pintu keadilan ekonomi untuk mereka. Menyiapkan SDM siap kerja yang jujur, disiplin, dan berintegritas tinggi adalah bentuk nyata dari membumikan nilai-nilai Pancasila dalam dunia pendidikan,” tambahnya.
Di sisi lain, tokoh yang aktif dalam berbagai aksi kemanusiaan ini juga menyoroti pentingnya merawat Sila Ketiga (Persatuan Indonesia) melalui aksi gotong royong.
Sulawesi Utara yang dikenal sebagai laboratorium kerukunan antarumat beragama harus terus dijaga kedamaiannya. Harvey berpesan agar perbedaan pandangan, termasuk dinamika politik, jangan sampai merusak tatanan persaudaraan yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat.
“Pancasila adalah pemersatu yang merangkul semua perbedaan. Keberagaman adat, budaya, dan agama di Sulut adalah kekayaan kita. Saya berharap momentum Hari Kesaktian Pancasila ini mempertebal rasa empati kita untuk saling membantu, bergotong royong tanpa melihat latar belakang, demi kemajuan daerah yang kita cintai ini,” tegasnya.
Mengakhiri penyampaiannya, Harvey Wowor optimistis bahwa dengan menjadikan Pancasila sebagai fondasi dalam berpikir dan bertindak, generasi muda Sulawesi Utara akan mampu menjadi motor penggerak pembangunan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keluhuran budi pekerti yang kokoh.









