Anggot TNI Melatih Pencak Silat Disela-sela Tugasnya

Rembang, detiKawanua.com – Selain pembangunan beberapa infrastruktur diwilayah Desa Pasedan Kecamatan Bulu khususnya Dusun Ngotoko serta kegiatan nonfisik lainya dalam kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-103 Kodim 0720/Rembang, Satgas TMMD juga melaksanakan kegiatan lainya guna terjalin komunkasi serta hubungan yang erat dari berbagai kalangan.
Kebanggaan menjadi seorang Prajurit TNI begitu dirasakan oleh Prada Roni salah satu Anggota dari Bataliyon Infanteri 410/Alugoro yang tergabung  dalam kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-103 yang dilaksanakan saat ini memberikan banyak pengalaman yang positif baginya. Minggu (4/11)
Beladiri merupakan suatu keharusan yang dimiliki oleh seorang Prajurit TNI. Dengan bekal beladiri yang ia miliki, Prada Roni melatih pencak silat SHT ranting Bulu yang diketuai oleh Kang Gudyadi (35 tahun) dengan beranggotakan kurang lebih 50 orang yang terdiri dari pelajar SD dan SMP wilayah kecamatan Bulu. Kemampuan beladiri yang dimiliki Prada Roni sempat membuat murid-murid pencak silat SHT keheranan.
“Ternyata Pak Tentara hebat juga beladirinya.” ungkap salah satu murid PSHT. (0720)



Semarak Bola Volly Persit Rembang Bersama PKK

Rembang, detiKawanua.com – Anggota Persit (Persatuan Istri Tentara) Ranting 6 Koramil 5/Bulu Kodim 0720/Rembang, hari ini melaksanakan olahraga Volly bersama di halaman SD N 1 Pasedan, Desa Pasedan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, dalam rangka ikut memeriahkan dan mensukseskan kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-103 Kodim 0720/Rembang TA. 2018 di Dukuh Ngotoko, Desa Pasedan. Minggu (4/11).
“Kami ibu-ibu juga tidak mau kalah dengan bapak-bapaknya yang sedang berkerja dalamTMMD. Kehadiran kami disini bermaksud untuk sedikit memberikan Motivasi kepada mereka, dan juga kami juga ingin lebih mengenal dengan warga Pasedan.” Kata Nyoya Suroyo salah satu anggota Persit.
“Diharapkan dengan acara Volly bersama seperti ini, bisa menyatukan kami dengan warga ibu-ibu khususnya. Sepertinya ibu-ibu disini juga jarang sekali bermain olahraga Volly, semoga kehadiran kami bisa menjadi hiburan dan kesan tersendiri buat mereka.” Pungkasnya.
Olahraga Volly bersama ini diadakan sebagai sarana perekat dengan warga setempat agar lebih dekat dan mengenal lebih jauh dengan TNI dan keluarganya. Kegiatan olahraga Volly bersama ini masuk dalam kategori sasaran Non Fisik. Sedangkan sasaran Non Fisik yang terlihat nyata yaitu pembangunan jalan dari Desa Pasedan ke Dukuh Ngotoko, dan pengerjaannya sekarang sudah hampir terselesaikan, hanya tinggal beberapa bagian saja. Warga Desa Pasedan merasa sangat senang dengan hadirnya TMMD Reg-103 di Desa mereka, selain Desa mereka dibangun, mereka juga mendapatkan pengalaman baru serta keluarga baru dari Satgas TMMD Reg-103 maupun ibu-ibu Persitnya. (*)



Material Batu Kumbung Jadi Bahan Utama Pondasi Bedah Rumah

Rembang, detiKawanua.com – Dalam kegiatan TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa) Reguler ke 103 Kodim 0720 Rembang yang ditujukan di Ngotoko Desa Pasedan  Kecamatan Bulu Rembang, salah satunya adalah program RTLH.
Dalam kontroksi rumah ini salah satunya untuk bahan dinding yaitu memakai batu kumbung. Batu kumbung memang belum di kenal oleh masyarakat luas, karena batu ini sejenis batu kapur yang digergaji dalam bentuk kotak seperti batu bata. Biasanya batu ini didapatkan dari Kabupaten Tuban yang dekat dengan Kota Rembang. Minggu (4/11)
Batu ini cukup kuat dan relatip murah sehingga batu kumbung ini banyak digunakan oleh masyarakat Rembang untuk dinding maupun pondasi rumah.
Dalam kesempatan tersebut Serma Slamet mengungkapkan banyak kelebihan untuk menggunakan batu kumbung ini selain kuat juga praktis, sehingga mempercepat proses pembangunan dan Batu ini sudah bayak di gunakan masyarakat kususnya masyarakat Rembang karena harganya yang lebih murah dari bata merah kualitas juga dapat di andalkan. (*)



Waktu Istirahat Dimanfaatkan Untuk Beribadah Bagi TNI Dan Warga

Rembang, detiKawanua.com – Pembangunan fisik yang membutuh kan kesehatan prima, yang selalu di genjot tak membuat capeknya anggota satgas Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke -103 dalam melaksanakan kewajiban beribadah,pasalnya saat jam istirahat siang masjid Al-Barkah di Dukuh Ngotoko selalu dipenuhi oleh anggota satgas TMMD Reguler ke -103 bersama warga masyarakat Dukuh Ngotoko. Minggu (4/11)
Diterangkan Lettu Inf Supriyanto Selaku Komandan Satuan setingkat Kompi (Danssk) TMMD Reguler ke -103, melaksanakan ibadah merupakan kewajiban dan dengan doa akan memperlancar semua kegiatan.
“Bagi yang beragama Islam wajib hukumnya beribadah dan berdoa,agar semua kegiatan TMMD Reguler ke -103 diberikan kelancaran hingga akhir pelaksanaan nanti”. Katanya.
Pihaknya menambahkan,selain mendekatkan diri kepada sang pencipta ibadah juga mempersatukan warga masyarakat dengan anggota satgas TMMD Reguler ke -103.
“Kami bisa menjalin komunikasi lebih dekat dengan warga masyarakat saat melakukan kegiatan ibadah bersama di masjid Al-Barkah Dukuh Ngotoko,” paparnya. (*)



Gerakan Sosial Saka Wira Kartika Demi Kepentingan Bersama

Rembang, detiKawanua.com – Budaya gotong royong begitu kental terasa seiring berjalanya kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TNND) Reguler ke-103 Kodim 0720/Rembang yang diselenggarakan diwilayah Desa Pasedan Kecamatan Bulu khususnya Dusun Ngotoko.
Satgas TMMD  terus menerus membangun komunikasi  dengan baik kepada berbagai pihak, diantaranya pihak sekolah. Dalam kegiatanannya Satgas TMMD juga melibatkan SMK Anurariyah Sulang dan SMAN 1 Sulang. Gerakan sosial Saka Wira Kartika melibatkan pelajar pria dan pelajar wanita dalam kegiatan pramuka para pelajar SMK dan SMA tersebut turut bahu membahu membantu membangun jalan penghubun antara Dusun Ngotoko dengan Desa Pasedan dengan tujuan mempercepat pekerjaan. Minggu (4/11)
Dibawah bimbingan Ibu Siti Nurhalimah selaku pihak yang bertanggung jawab dari sekolah, para pelajar tersebut gotong-royong bersama warga setempat dan Satgas TMMD. Keakraban yang terjalin saat pengerjaan pengecoran jalan dilokasi TMMD itu tumbuh jiwa kebersamaan tanpa ada rasa perbedaan. (*)



TNI Bangun Komunikasi Bersama Banser Dan Warga

Rembang, detiKawanua.com – Antusias dari berbagai komponen dan masyarakat untuk turut berperan serta untuk mensukseskan kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-103 Kodim 0720/Rembang yang dilaksanakan di Desa Pasedan Kecamatan Bulu khususnya Dusun Ngotoko sangat bermanfaat dan demi kepentingan bersama.
Sebelum bekerja dan bergabung dengan Satgas TMMD dan warga setempat, terlebih dahulu puluhan anggota banser dari satrayon Bulu berkomunikasi dan koordinasi bersama Satgas dan warga setempat serta pihak-pihak yang terkait guna memperlancar pekerjaan dilokasi pengerjaan TMMD.
“Saat berkoordinasi, ketua banser Kecamatan Bulu Bapak Sujan (45 tahun) mengatakan pihaknya dari keluarga banser pengen bergabung bekerja bersama Satgas TMMD dan warga membangun desa,” dengan penuh semangat dan antusias. Minggu (4/11)
Hal tersebut direspon positif oleh Satgas TMMD dan warga setempat. “Trimakasih atas bergabungnya banser dengan kami, karena dengan bertambahnya personil, pekerjaan akan cepat selesai.” ungkap Serda Wiji.
Dukungan positif dari keluarga besar banser merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial yang tercipta karena didahului dengan adanya kegiatan TMMD Reguler ke-103 Kodim 0720/Rembang. (*)



Peran Serta Persit Rembang Dan PKK Dilokasi TMMD Rembang

Rembang, detiKawanua.com – Anggota Persit (Persatuan Istri Tentara) Ranting 6 Koramil 5/Bulu Kodim 0720/Rembang, dan ibu-ibu PKK Bulu serta Pasedan, terlihat sangat serius sedang melukis Abstrak pada media kayu, di Balai Desa Pasedan, setelah pagi tadi melaksanakan olahraga Volly bersama di halaman SD N 1 Pasedan, Desa Pasedan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang. Minggu (4/11).
Melukis Abstrak dengan media kayu ini diajarkan langsung oleh Hudi, (40), warga Kragan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang. Hudi dimintai tolong Kodim 0720/Rembang sebagai Instruktur untuk memberikan materi dan pelatihan karyaseninya tersebut kepada ibu-ibu dalam rangka mengisi kegiatan sasaran Non Fisik TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-103 Kodim 0720/Rembang yang sekarang telah berlangsung di Desa Pasedan.
Kapten Inf Wardiyana selaku Pasiter Kodim 0720/Rembang dan Pasiops TMMD reg-103 menjelaskan, pemberian materi dan pelatihan pembekalan melukis ini, diharapakan bisa menjadi salah satu Alternatif usaha yang bisa dikembangkan dan bisa membantu mendapatkan penghasilan tambahan bagi warga.
“Sekarang apa saja bisa laku dipasaran, tinggal kita saja mau ada kemauan apa tidak. Seperti yang sudah dilakukan warga Pasedan dengan membuat karya seni Kaligrafi dan Blangkon dari bahan pelepah Pisang, saya acungi jempol.” Pungkasnya. (*)



Pengecoran Jalan Penghubung Memasuki Minggu Ke-3

Rembang, detiKawanua.com – Sudah menjadi kelaziman para Satgas TMMD tidak mengenal hari libur. Demikian juga yang terjadi di pelaksanaan TMMD Reguler ke-103 Kodim 0720/Rembang dengan sasaran Desa Pasedan, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.
Meski hari libur, para personil Satgas TMMD berbaur dengan warga desa setempat untuk terus bekerja di sejumlah sasaran fisik yang telah diprogramkan di TMMD Reguler Ke-103 ini. Baik di sasarn fisik pembangunan jalan, pembangunan Poskamling, serta perehaban Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
”Ya memang, dalam rangka mengejar target penyelesaian proyek sasran fisik, kami personil Satgas TMMD tidak pernah mengenal hari libur. Saat ini konsentrasinya di Cor jalan dan tebing yang memang memakan waktu dan tenaga. Dengan tidak pernah mengenal hari libur seperti ini, diharapkan semua sasaran fisik yang sudah dijadwalkan dan di targetkan bisa rampung,” tutur Lettu Inf Supriyanto Dan SSK Satgas TMMD ke-103, yang terlibat aktif dalam semua pembangunan sasaran fisik di TMMD Rembang.
Seperti diketahui, Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-103 di wilayah Korem 073/Makutarama menyasar desa Pasedan Kec. Bulu, Kab. Rembang Wilayah Kodim 0720/Rembang. Untuk itu, mengingat banyaknya sasaran Fisik maupun non fisik dalam TMMD kali ini, dan sudah masuknya musim penghujan maka Personil TNI yang terlibat dalam satgas TMMD serta di bantu masyarakat terus bekerja keras dan tak mengenal libur, demi tercapainya target yang sudah di tentukan. (*)



Dengan Estavet Persit Rembang Bersama PKK Langsir Batu Koral

Rembang, detiKawanua.com – Semakin heboh ketika ibi-ibu Persit dan ibi-ibu PKK turut bergabung membantu pengecoran jalan dilokasi TMMD Reguler ke-103 Kodim 0720/Rembang yang dilaksanakan di Desa Pasedan Kecamatan Bulu khususnya Dusun Ngotoko.

Kiprah Persit dan PKK dalam kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-103 Kodim 0720/Rembang memberi warna tersendiri. Dengan penuh semangat serta keceriaan wajah-wajah ayu mereka seakan mendongkrak semangat kerja yang tinggi walaupun hanya sekedar melangsir batu koral untuk pengecoran jalan. Minggu (4/11)
“Ayo ibu-ibu kita angkat embernya ramai-ramai biar cepat selesai.” ingkap MuMustami
Sedikit demi sedikit upaya ibu-ibu Persit dan PKK untuk membantu Satgas TMMD dan Warga setempat dalam pengecoran jalan lancar. Keterlibantannya dalam kegiatan TMMD Reguler ke-103 Kodim 0720/Rembang semata-mata demi kepentingan bersama. Terutama demi kepentingan warga masyarakat Desa Pasedan dan sekitarnya. (*)



Orkestra dan Lembaga Pendidikan

Penulis: Abdul Muis Daeng Pawero aka. Angga
(Dosen FTIK IAIN Manado)
detiKawanua.com – Bicara organisasi Pendidikan, baik di level menengah maupun perguruan tinggi, memang selalu menjadi diskusi menarik. Pelbagai macam teori yang kemudian muncul untuk menjelaskan perihal organisasi. Mulai dari teori Birokrasinya Max Weber, Hirarki kebutuhan Maslow, hingga manajemen saintifik Elton Mayo dan Frederick Taylor. Namun, melihat permasalahan organisasi pendidikan hari ini, seperti kurangnya kekompakan personalia pendidikan dalam menjalankan visi organisasi, kurangnya antusiasme dalam menjalankan tugas, karyawan yang material oriented, kurangnya pelayanan prima (service excelent), perilaku “saling melempar kesalahan”, gosip, hoax, dan lain sebagainya, nampaknya teori-teori tersebut tidak cukup membantu (untuk tidak mengatakan tidak bisa membantu sama sekali). Teori-teori tersebut nampak seperti ‘bumbu pelengkap” akademik sebagai sumber rujukan ketimbang sebagai entitas pengetahuan yang kemudian “menubuh” dalam jiwa tiap-tiap insan dalam organisasi pendidikan.
 Mungkin kita dapat mengambil contoh Madrasah Tsanawiyah di desa Bakan kecamatan Lolayan, Bolaang Mongondow yang didirikan Marlina Moha Siahaan selaku mantan bupati Bolaang Mongondow. Madrasah Tersebut kemudian “gulung tikar” karena oknum pengelola madrasah yang material oriented, sehingga menyalahgunakan dana pengembangan Madrasah. Sama halnya dengan Universitas Dumoga Kotamobagu, yang didirikan sejak 11 Maret 1987, namun tidak pernah terlihat perkembangannya sampai sekarang karena personalia pendidikan di dalamnya yang sering konflik. Dan tentu masih banyak lagi contoh-contoh lembaga pendidikan dan perguruan tinggi yang memiliki masalah serupa. 
Sebaliknya, banyak contoh lembaga pendidikan menengah dan perguruan tinggi yang maju pesat hanya dalam jangka waktu beberapa tahun. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, tempat saya kuliah s2, adalah salah satu contoh perguruan tinggi saya maksud. Adalah Prof. Dr. Imam Suprayogo, yang kemudian menjadikan STAIN Malang menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, hanya dalam kurun waktu 16 tahun. Dalam kuliah umum yang disampaikan waktu masa orientasi mahasiswa Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, beliau mengatakan bahwa ”kunci kesuksesan organisasi adalah kerjasama yang konsisten antara segenap civitas akademika perguruan tinggi. Kampus adalah rumah kita bersama. Karena itu, harus kita bangun dan jaga bersama”. 
Pondok pesantren Al-Luthfi Desa Lolanan kecamatan Sangtombolang juga bisa menjadi contoh. Lembaga pendidikan Islam yang didirikan tahun 2006 ini, memiliki agenda menarik diantaranya mengirim santrinya setiap tahun di Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo, Jawa Timur untuk belajar banyak hal; Kitab Kuning, Fiqih, Sejarah, Hingga Bahasa. Didirikannya Pondok pesantren Al-Luthfi ini kemudian mendorong desa Lolanan sebagai “desa santri”, sebagaimana deklarasi desa Lolanan sebagai desa santri pada perayaan hari santri nasional tahun 2017 Lalu. 
Ber-Orkestra dalam menjalankan Visi-Misi
 Melihat contoh lembaga pendidikan yang berlawanan tersebut, saya kemudian teringat ketika saya pertama kali “memainkan” alat musik kulintang waktu saya masih kecil. Kebetulan di sekolah saya di desa Lolanan, ada alat musik seperti itu. Saya mencoba memainkannya, namun suaranya menyakitkan telinga. Saya kemudian berkesimpulan bahwa alat musik kulintang adalah alat musik yang sangat jelek. Pada kesempatan berikutnya, saya mendengarkan alunan musik yang sangat indah yang berasal dari ruang guru. Saya takjub sekaligus kaget mendengarkan musik itu. Takjub karena keindahan musiknya, dan kaget ketika saya mengetahui bahwa itu adalah musik kulintang. Hanya saja dimainkan oleh guru seni yang ahli dibidang musik tradisional. Seketika saya menyadari kekeliruan saya. Suara tidak mengenakkan yang dihasilkan dari alat musik kulintang yang saya mainkan, bukanlah kesalahan kulintang, melainkan proses belajar dari seorang siswa yang belum bisa memainkan kulintang dengan baik. 
Saat kita menemukan personalia dalam lembaga pendidikan yang menjalankan tugasnya dengan kurang baik, (seperti contoh-contoh yang saya sampaikan di awal tulisan ini), bagi saya itu hanyalah “proses belajar” personalia tersebut untuk memainkan perannya dengan baik. Namun, ketika kita menemukan maestro, itu dapat menginspirasi kita selama bertahun-tahun. Misalnya Prof. Imam Suprayogo sebagai pemimpin UIN Malang dan civitas akademika yang memiliki integritas moral. Mereka semua adalah “maestro” yang bisa memainkan perannya dengan baik. 
Selanjutnya, pada kesempatan lain, saya mendengar dan melihat musik tradisional yang bahkan melebihi kejernihan dan kemerduan suara sang maestro kulintang. Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan pada musim semi, melebihi indahnya suara angin di musim gugur di sebuah hutan, bahkan melebihi merdunya burung-burung pegunungan yang berkicau setelah hujan lebat. Suara apakah yang membuat saya sangat takjub pada saat itu? 
Itu adalah suara ORKESTRA alat musik tradisional yang memainkan sebuah simfoni.
Bagi saya, alasan mengapa orkestra itu merupakan salah satu simfoni terindah yang pernah saya dengar. Pertama, setiap anggota orkestra adalah maestro alat musiknya masing-masing. Kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam harmoni. 
Bagi saya, Bermain orkestra, persis dengan “memainkan” lembaga Pendidikan. Kita semua mempelajari hakikat profesionalitas kita masing-masing sesuai dengan posisi kita dalam satuan organisasi pendidikan melalui upaya peningkatan profesionalitas dan kompetensi. Setelah itu, marilah kita mempelajarinya dengan baik, labih jauh lagi, mari kita belajar untuk bermain, seperti halnya para anggota sebuah orkestra, bersama-sama dengan para “profesional” yang lain dalam sebuah harmoni. 
Bagi saya, jika itu terjadi dalam lembaga pendidikan, akan terlahir “suara yang paling Indah” berupa pesatnya perkembangan lembaga pendidikan, baik lembaga pendidikan menengah maupun perguruan tinggi. ***