21 Tahun Serabutan, Sang Penambal Ban Akhirnya Mengabdi Di Masjid

  • Whatsapp

Manado, detikawanua.com – Setiap manusia dilahirkan dengan bakat dan kemampuan yang berbeda – beda. Namun bagi seorang yang diberi kelebihan potensi atau talent dalam beberapa keahlian, hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat berharga sebagai pengabdian bagi orang banyak.

Bacaan Lainnya

Seperti itulah yang tergambar dari sosok penambal ban yang tampilan kesehariannya sederhana apa adanya, bernama Risan Alia.

Tinggal di Kompleks Masjid Firdaus lingkungan lima Kelurahan Titiwungen Selatan Kecamatan Sario Manado, Pria kelahiran Gorontalo tahun 1983 ini, biasa akrab dipanggil Risan.

Dari Desanya Batu Layar Kecamatan Bongomeme Gorontalo, Risan menceritakan masa perantauannya 21 tahun yang lalu.

Berbekal ilmu dari kampung, dirinya berangkat ke Manado guna mencari kehidupan di Profinsi tetangga dengan bekerja sebagai buruh bangunan dengan tinggal dirumah Tantenya.

Selama setahun bekerja menjadi kuli, dirinya kemudian menikahi seorang wanita tetangga dekat rumah.

Guna menghidupi rumah tangga baru, Risan mencari peluang bekerja sebagai sopir truk pengangkut bebantuan untuk timbunan reklamasi dipinggiran Boulevard Manado.

Selama bekerja sebagai sopir truk, dirinya mengaku senang dan lancar dengan gaji UMP, meski kadang merasa kelelahan kalo lembur atau saat ban truk pecah, karena harus membuka ban dan menggantinya sendiri.

Pekerjaan tersebut hanya setahun dilakoninya, kemudian dia kembali bekerja sebagai kuli bangunan di kawasan ruko boulevard. Namun selang setahun dirinya bekerja membawa angkot pusat kota rute jurusan Pasar 45 tujuan Malalayang.

Tidak butuh waktu setahun, dia lalu mencari peluang usaha lainnya dengan bekerja di tambang emas di Torout, Bolaang Mongondow sebagai pekerja tromol.

Seolah terus mencari potensi dirinya, Risan kemudian balik ke Manado dan bekerja di sebuah perusahaan Media sebagai penjaga keamanan atau security.

Bekerja selama dua tahun dirinya berhenti seiring tutupnya perusahaan tempat dia bekerja.

Karena tidak bekerja, Bungsu dari enam bersaudara ini, kemudian mencari ide dengan peluang usaha sendiri dengan membuka bengkel tambal ban, bermodalkan uang tujuh juta rupiah pinjaman dari koperasi guna membeli peralatan tambal ban punya sendiri.

Mantap membuka bengkel sendiri didepan jalan Boulevard samping Masjid, dirinya mengaku bersyukur diawal bisa dapat 150 ribu hingga sampai naik 300 ribu rupiah setiap harinya.

Risan mengaku “dulu buka bengkel dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam, sudah ada keuntungan lebih. Tapi kalo sekarang sudah ada yang tiga tempat tambal ban yang baru mengikuti jejaknya, jadi terpaksa buka 24 jam sehari semalam, karena biaya kebutuhan hidup terus membengkak dan pemasukan agak berkurang guna mencukupi biaya anak sekolah, biaya makan, belum lagi listrik dan terlebih kalo kompresor angin rusak”, tuturnya.

Saat bekerja menambal ban, dirinya ditawari Pengurus Tamir Masjid Firdaus menjadi marbot atau penjaga Masjid menggantikan petugas yang sebelumnya sudah tutup usia. Tawaran itupun langsung disanggupinya.

Disela – sela kesibukkan dibengkel, dirinya setiap hari meluangkan waktu membersihkan masjid baik menyapu dan mengepel lantai masjid, terkadang memperbaiki dan mengecek kondisi lampu, listrik dan pompa air.

Sesekali menerima tawaran bangunan dari tetangga atau sekedar memperbaiki pipa pompa air yang rusak. Kalo Ramadhan, Risan ikut berjualan es kelapa muda yang dibelinya dari Lolak Bolmong.

Sudah tujuh tahun membuka bengkel dan mengabdi di masjid, kini dirinya merasa tidak ada hambatan sampai sekarang karena usaha mandirinya tersebut bisa dinikmatinya.

Usaha mandirinya tersebutlah yang kini bisa menghidupi keluarganya,” Alhamdulillah meski tidak ada BPJS dan tidak mendapat bantuan usaha dari pemerintah, ketiga anak saya sekarang sudah SMA, hasil jerih payah dari hasil tambal ban”, ungkap Pria 38 tahun ini yang pernah ikut serta dalam menyalurkan bantuan ke Palu, Sulteng bagi korban gempa.

Pria yang pernah bercita – cita semasa kecil menjadi seorang polisi ini, mengaku, “ada suka duka mengabdi di Masjid, seperti mendapat cibiran sikap dan pembawaan dirinya. Namun sekarang dirinya sudah terbiasa dan dibuat biasa kalo menerima pernyataan atau perbuatan yang kurang mengenakkan, namanya juga seorang pengabdi, sudah tentu dapat ujian agar bertambah iman dan amal kebaikan biar lebih kuat”, ceritanya sambil tersenyum.

Dirinya berharap tidak ada niat kerja lain dan menambal ban sudah cukup dan utama mengabdi di Masjid,” kalo ada rejeki dikasih Alhamdulillah, harapan anak – anak sudah lulus bisa dapat kerja, keluarga sehat bisa bahagia bersama keluarga, isteri dan anak – anak” tandas Risan. irz

Pos terkait