Ditengah Pandemi PKK Sulut Lawan Covid19 Dengan Aquaponik Ketahanan Pangan dan Gizi Ikan

  • Whatsapp

Manado, detiKawanua.comKegiatan seminar secara website atau online (Webinar) yang mendukung tema ‘Aquaponik, Ketahanan Pangan dan Gizi Ikan Lawan Covid19’ yang berlangsung Manado pada Sabtu (20/06/2020), menjadi fokus dari Ketua TP PKK Provinsi Sulut, Rita Dondokambey-Tamuntuan bersama jajaran pengurusnya dengan 65 peserta yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia di antaranya Provinsi Sulawesi Tengah, Jakarta dan Sumatera.

Dalam kegaiatan webinar yang menghadirkan pakar pertanian, Surapati M Senin yang juga sebagai narasumber itu, diikuti pula Ketua Pokja 3 TP PKK Sulut Henny Berhimpon-Dien dan dimoderatori Jean Kodoati-Sumilat itu, dimana Provinsi Sulut mdendapat kehormata sebagai tuan rumah pelaksanaan kegiatan nasional tersebut.

Bacaan Lainnya

Pada kesempatan itu, Rita mengajak semua peserta webinar untuk tetap disiplin dalam mematuhi protokol Covid19 dalam memasuki era New Normal.

“Suka atau tidak suka kita harus sesegera mungkin masuk pada era new normal, demi ketahanan pangan dan ketahanan sosial, ekonomi, politik di masa pandemi Covid-19. Kita harus produktif, bekerja, beraktivitas seperti semula dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, karena kita beraktivitas di tengah pandemi Covid-19 yang sangat berbahaya,” ujar Ketua Rita yang juga istri Gubernur Olly itu.

Rita juga menerangkan, tujuan dilaksanakannya webinar tersebut untuk mewujudkan ketahanan pangan di tengah pagebluk Covid19 melalui budidaya Aquaponik.

“Tujuan lainnya agar bapak/ibu bisa mempraktekan budikamber (budidaya ikan dan sayuran dalam ember), vertiminaponic (budidaya verticulture, ikan dan hidroponik), aquabioflok (kombinasi kolam ikan system bioflok dan sayuran), dan floating raft (sistem tanaman terapung dan ikan) dan untuk mengetahui gizi ikan yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh melawan Covid19,” terangnya.

Selanjutnya, untuk mengupayakan peningkatan nilai tambah (value added) ikan aquaponik dengan diversifikasi pengolahan, untuk menjaga ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi di masa pandemi Covid19 sekarang ini dan mengiplementasikan program pokja 3 PKK, yaitu Hatinya PKK dan B2SA berbasis bahan pangan lokal,” sambung Ibu Rita.

Untuk itu dirinya juga mengajak warga Sulut beserta seluruh kader PKK mampu berinovasi dan memanfaatkan peluang komersialisasi dan produksi akuaponik yaitu sayuran dan ikan. Dimana pentingnya ketersediaan berbagai bahan makanan merupakan sumber protein keluarga, dengan memberdayakan berbagai sumber daya lokal semaksimal mungkin, mulai dari keluarga dengan memanfaatkan pekarangan rumah dengan teknologi tepat guna aquaponik.

“Aquaponik merupakan salah satu solusi masalah kelesuan ekonomi rumah tangga, dimana hasilnya dapat diolah sedemikian rupa sehingga kita dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan meningkatkan ekonomi keluarga serta berkontribusi dalam ketahanan pangan. Pangan mempunyai arti dan peran yang sangat penting bagi kehidupan suatu bangsa,” tambah Ia.

Ketua TP PKK Sulut itu pun menjelaskan bahwa ketersediaan pangan yang tidak mencukupi dibandingkan kebutuhannya dapat menciptakan ketidakstabilan ekonomi di tengah pandemi Covid19.

“Berbagai gejolak sosial dan politik juga dapat terjadi jika ketahanan pangan terganggu, bahkan membahayakan stabilitas nasional karena krisis pangan akan menyulitkan orang mendapat asupan pangan yang bergizi padahal salah satu cara mencegah terinfeksi Covid19 adalah konsumsi makanan yang bergizi,” sebutnya.

“Oleh karena itu, saya mengharapkan ibu dan bapak sebagai kader PKK dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Sangat diharapkan seluruh peserta dapat memahami dan mampu mempraktekan di rumah masing-masing,” tutup istri tercinta dari Gubernur Olly Dondokambey itu.

Diketahui, pangan diatur dalam UU Nomor 18/2012 tentang Pangan, mengatur ketahanan pangan dimana kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

(*/mld70)

Pos terkait