Seleksi Paskibraka 2015 Diduga Improsedural, Diknas Manado Dilaporkan ke Ombudsman

  • Whatsapp

Suasana Seleksi Calon Paskibraka (Capas) Kota Manado 2010
di KIPAN Tateli, yang masih menggunakan model ‘Desa Bahagia’. /Acan


Manado, detiKawanua.com – Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kota Manado
kembali mendapat sorotan publik. Setelah sebelumnya dilaporkan ke Komisi
Informasi Publik Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Diknas Kota Manado
kembali dilaporkan ke Ombudsman pada hari Kamis (07/05) lalu.

Muat Lebih

Hal ini terkait penyelenggaraan seleksi Paskibraka Tahun 2015 tingkat
Kota Manado yang berlangsung pada Selasa (28/04) lalu, bertempat di SMKN 3
Manado. Pasalnya seleksi tersebut diduga tidak sesuai dengan Peraturan
Menteri Pemuda dan Olahraga (Permenpora) No 0065 Tahun 2015, tentang
petunjuk penyelenggaraan pelatihan Paskibraka.

Dalam Permenpora tersebut, tercantum petunjuk teknis pelaksanaan seleksi
(Pasukan Pengibar Bendera Pusaka) Paskibraka melalui mekanisme Perkemahan atau biasa dikenal Camp Desa
Bahagia, seperti yang dijelaskan Rahmat Gobel Purna Paskibraka Indonesia
(PPI) Kota Manado Tahun 1999

Rahmat Gobel sebagai Pelapor menegaskan, bentuk Perkemahan Desa
Bahagia adalah tempat para calon Paskibraka (Capas) bersosialisasi
selama 3 hari. “3 hari didalam Desa Bahagia adalah bagaimana Capas dapat
berinteraksi, meningkatkan rasa kebersamaan dan membangun jiwa
nasionalisme serta patriotisme. Menghapus desa bahagia adalah
Improsedural,” terang Rahmat

Diknas Kota Manado sebagai penyelenggara seleksi, dinilai Rahmat, tidak
menaati aturan Permenpora tersebut dengan melansungkan kegiatan seleksi
Paskibraka Tingkat Kota di SMKN 3 Manado tanpa ada perkemahan.

Senada dengan Rahmat, orang tua Capas pun ikut menanyakan keadaan
tersebut. Salah satunya Mala, orang tua dari salah seorang siswa SMAN 4
Manado yang tidak mau nama anaknya dimediakan ini, menjelaskan, Ia
batal mengijinkan anaknya mengikuti Seleksi Capas Kota Manado 2015
karena kecewa dengan kebijakan Diknas Kota Manado.

“Diknas Manado sekarang memang so lain. Masa seleksi Paskibraka pergi
pagi pulang sore. Bagaimana anak-anak pe sifat manja hilang dan lebih
mandiri, kalo mereka tidak benar-benar dilatih maksimal mulai dari
disiplin tidur, bangun tidur, taat Ibadah dan lain-lain. Itu semua harus dibina
lansung oleh para Instruktur seleksi dalam 3 hari ,” kesal Mala.

Ibu 4 anak, warga Kelurahan Perkamil Lingkungan III ini, ternyata sejak lama
mengetahui pola seleksi berkemah a la Paskibraka, sehingga kecewa dengan
proses seleksi di Tahun 2015. “Saya kenal mantan Paskibraka bernama Robin Thalib (PPI Kota Manado
2010). Dia bilang seleksi dulu bagus, karena menginap di Desa Bahagia. Makanya kita so nyanda kase kita pe anak ikut, karena buang-buang waktu. Lagian torang masyarakat biasa bagini kasiang, so kurang percaya dengan
seleksi Paskibraka Manado, karena banyak orang bilang hanya anak-anak
pejabat ato relasi yang diloloskan,” tutur Mala, dengan ekspresi kecewa.
(Rafsan Damopolii)

Pos terkait