(ARTIKEL) Pertemuan denganmu kecintaan diriku, Melihatmu keperluanku

  • Whatsapp

Mengenang
40 Hari Wafatnya KH Arifin Assagaf

Muat Lebih


Oleh:
Indang Limutu *

KH Arifin Assagaf saat Menghadiri Pertemuan Jaringan Lintas-Iman di Jayapura. /Ist


berburung
berdzikir di sangkar Raudah

menanti
adzan di tabir senja

insan
berkasih karena Allah

bertemu
berpisah karena Cinta-Nya

(Anonim)


detiKawanua.com
– Samar saya mendengar Beliau berkata “He..eh… sudah nggak sembahyang, masih
juga menghalang-halangi orang untuk sembahyang”. Mendengar perkataan beliau
saya seperti dicambuk dan segera bangun. Ternyata saya dan teman-teman tertidur
di depan pintu Mushola. Demikian tulis Yustinus Sapto Hardjanto, ketika mengungkapkan
kerinduannya untuk bertemu, berbicang dan bergurai dengan Alm. KH Arifin Assagaf.
Saat
itu Yustinus masih tinggal di Kota Manado dan sering nongkrong di Radio Al Khairat
(RAL FM), sehingga sering bertemu dengan Kyai Arifin yang setiap siang mengisi
renungan harian di stasiun radio yang terletak di atas puncak bukit tersebut.
(Baca:
http://sosbud.kompasiana.com/2013/01/28/sudah-tak-sembahyang-menghalangi-orang-bersembahyang-pula-528628.html)
Yustinus
(yang kerap dipanggil Uskup Samarinda oleh Kyai Arifin), dan semua yang
mengenal Almarhum, kini hanya mampu menggambarkan momen-momen terbaik
ketika menyebut nama mantan Ketua MUI Sulawesi Utara tersebut. Tak ada lagi
canda, tawa, nasehat, omelan serta secangkir gahwah dan sebatang rokok, saat
kami rindu dan ingin bertemu dengannya.
Sebab
pada Sabtu (23/05) kemarin, tak terasa sudah 40 hari KH Arifin Assagaf, salah satu tokoh pemersatu umat beragama di Indonesia,
khususnya Sulawesi Utara (Sulut), telah ‘bertemu’ dan ‘melihat’ Kekasih Sejatinya.
Habib Arifin, satu panggilan Beliau, meghembuskan nafas terakhirnya Senin
(13/04) lalu.
Sebagai
salah satu ‘anak’ yang lahir dari visi Habib Arifin, penulis termasuk murid
yang kumabal (bandel, red). Banyak nasehat dan petuah Habib Arifin, bukan hanya
tidak didengar bahkan kerap dilanggar penulis. Karenanya, melalui tulisan
sederhana ini, yang banyak comot sana-sini, penulis ingin mengucapkan kalimat
‘perpisahan’, sebagai bentuk ‘kerinduan’ penulis akan sosok Habib Arifin.
***
KH Arifin Assagaf, yang lahir 6 Januari tahun 1931, meninggal dengan tenang di rumah
sederhananya di Kelurahan Malendeng, Kecamatan Tikala, Kota Manado, pada usia
hampir 90 tahun.
Perkenalan
awal penulis dengan Habib Arifin, 
terjadi sekitar tahun 2000-an. Saat itu, di tengah-tengah kehausan akan
‘ilmu’, maklum anak ndeso, salah satu rujukan yang direkom adalah Habib Arifin.
Ketika pertama kali mengikuti majelis Habib Arifin di s
alah satu bagian rumahnya yang dijadikan sebagai Taman Pengajian
anak-anak
, penulis mengalami ‘pencerahan’ (kala itu penulis aktif di organisasi Islam yang sering diklaim fanatik).
Baru kali itu, penulis menemukan kajian agama dalam pendekatan yang sangat
pluralis, sehingga bisa diaplikasikan
dalam ruang yang lebih heterogen.
Habib
Arifin memang dikenal sebagai salah satu tokoh pluralis dan anti diskriminasi
di Sulut. Beliau bahkan ikut bergabung dengan Perjuagan Rakyat Semesta
(Permesta) yang diproklamasikan Ventje Sumual pada 2 Maret 1957. 
Menurut
Deni Pinontoan, aktivis Malawe Movement, bergabungnya Habib Arifin ke Permesta
sebagai bentuk perlawanan diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah pusat.
Karena dalam Islam, diskrimansi haram hukumnya, dan bagi Habib Arifin apa yang
dilakukan pemerintah pusat saat itu sudah berada di luar batas toleransinya.
Deni
ketika mewawancarai Habib Arifin di tahun 2011, 
sambil meneguk kopi hitam yang hampir dingin, berkata, “Dengan
pengalaman ini, saya kemudian menemukan makna dari perbedaan itu. Permesta
menentang diskriminasi. Dan, Islam, bagi saya adalah keimanan untuk
perdamaian,” tuturnya. (Baca: http://minahasaku.blogspot.com/2011/08/kh-arifin-assagaf-maknai-semangat.html)
Sosok
KH Arifin Assagaf memang sulit dilupakan oleh memori kolektif kalangan penggiat
persahabatan lintas agama dan etnis. Jacky Manuputty, Pendeta GPM dan penggiat
dialog antar-iman di Ambon, ketika menulis obitauri KH Arifin Assagaf,
mengatakan, kehadiran Habib Arifin dalam pertemuan nasional jaringan lintas
iman indonesia di Sentani-Jayapura, merupakan perjumpaan terakhir bersama kami.
Saat itu Ia telah semakin ringkih di atas kursi rodanya,
namun binar matanya tetap bersemangat di antara kami yang muda-muda. Beliau
meninggalkannya sebagai jejak untuk ditapaki lebih lanjut oleh kami.
“Ngobrol
dengan Ustadz Arifin adalah proses pembelajaran. Ia sangat kaya dengan berbagai
tuturan naratif dan kental dengan berbagai kisah mengenai persahabatan,
norma-norma dan cara membangun kepercayaan. Ceritanya tentang berbagai jejaring
persahabatan lintas iman dan etnis yang dilakoninya, menegaskan bahwa kedalaman
keterlibatan sosial adalah pilar penting bagi upaya membangun rasa percaya dan
penerimaan satu sama lainnya,” urai Jacky. (Baca:
http://www.satuharapan.com/read-detail/read/obituari-kh-arifin-assegaf-merayakan-memori-kolektif-dalam-dialog-lintas-iman)
Walau
Habib Arifin sangat pluralis, tetapi almarhum begitu setia dalam menegakkan
syariat agama, baik di dalam kehidupannya maupun dalam berbagi bersama umat.
Kecintaannya terhadap agama Islam dan masa depan ummat Muhammad, diungkapkan
dengan gamblang oleh pemuka agama Islam Sulawesi Utara. (Baca: http://baghumaspromanado.tribunnews.com/2015/04/22/kh-arifin-assegaf-dalam-kenangan)
Ketua
MUI Sulut Abdul Wahab Abdul Gafar, mengatakan, sosok KH Arifin Assegaf juga tak
akan pernah terlupakan di MUI Sulut, almarhum merupakan salah satu tokoh
Al-Khairat Kota Manado. Ia adalah penggagas berdirinya pesantren Al-Khairat.
Banyak umurnya dituangkan untuk kepentingan bangsa dan negara. Terutama dalam
menjaga kerukunan antarumat beragama. Sosok pemersatu yang takkan pernah saya
lupakan, dan saya rasa juga takkan pernah terlupakan oleh umat muslim dan juga
masyarakat Kota Manado.
“Saya
masih ingat, pada tahun 1985, saya bersama beliau menjadi menjadi pelopor
berdirinya Al-Khairat di Kota Manado dan juga pesantren Al-Khairat. Karena
pesantren Al-Khairat belum memiliki guru bahasa Inggris, almarhum bersedia
menjadi guru bahasa Inggris. Bukan itu saja, almarhum juga menjadi guru
matematika. Begitu besar peran almarhum dalam membangun akhlak masyarakat, yang
takkan pernah saya lupakan,” ujarnya.
Sementara
Sulaiman Awat, Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Kementerian Agama Sulut,
mengungkapkan, tidak hanya anggota keluarga saja yang kehilangan sosok
almarhum, melainkan warga Kota Manado dan Sulut. Karena almarhum merupakan
tokoh yang tak pernah membedakan agama dan status soial dalam bergaul dan bermasyarakat.
Itu terlihat dari begitu dekatnya almarhum dalam kehidupan bermasyarakat.
“Almarhum
tak pernah membedakan agama. Ia tokoh pemersatu. Ia mampu menyatukan semua
golongan masyarakat tanpa terkecuali, yang membuat jasa beliau takkan pernah
kita lupakan,” ujarnya.
Kutipan-kutipan
di atas jelas tak mampu melukiskan secara utuh akan sosok kharismatik Habib
Arifin. Tetapi setidaknya, harap penulis, penggalan pengalaman mereka, mampu
mensketsakan secara sederhana akan ulama bersahaja tersebut.
Karena
dari carita (penuturan, red) mereka, menunjukkan keterlibatan sosial (social engagement) Habib
Arifin dengan semua kalangan. Dan ketika mendengar Habib Arifin bertutur dalam
perjumpaan dengan semua, penulis menemukan kerinduan ketika meilhatnya
menyeruput gahwah (kopi hitam) kental serta dua jenis rokok (Gudang Garam Merah dan Gudang Garam Surya, red) yang
tak pernah lepas dari bibirnya.
***

Dimitri
Mahayana, penggiat agama dan budaya di
Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, pernah berkata, “Cinta dengan segenap geraknya menuju suatu harmoni
pada puncaknya akan menghasilkan penyatuan substansi antara pecinta dengan yang
dicintainya”. Yang pada akhirnya, hemat penulis, akan memuncak di ‘pertemuan
denganmu kecintaan diriku, melihatmu keperluanku’ terhadap sesuatu yang kita cintai tersebut.
Cintalah
yang menyemai rindu dan menggelorakan harapan serta memberanikan penulis
sekedar berbagi goresan sesaat ini. Dimana nantinya, semua yang mengenal Habib
Arifin, diteguhkan untuk secara konsisten mengkreasi memori-memori kolektif
tentang kemanusiaan, menghidupinya, dan selalu merayakannya.
Selamat
jalan Guru, beristirahatlah dengan tenang disisi-Nya. Pertemuan dan perpisahan
denganmu, semuanya karena mengharapkan ridho dari-Nya. Dengan diiringi doa, mudah-mudahan segala amal
ibadahmu dan perjuanganmu untuk kedamaian, senantiasa abadi dan menjadi rahmat
bagimu. Semoga.

* nama pena dari Indra
Asiali

Pos terkait