Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Advertise with Anonymous Ads

Perkuat Sosialisasi Visi Kampus; IAIN Manado Gelar Diskusi Publik

Prof Sumanto al-Qurtuby saat memberikan pemaparan. 

Manado, detiKawanua.com - IAIN Manado melalui Lembaga Penelitan dan Pangabdian Masyarakat (LP2M) dan Pusat Studi Masyarakat Muslim Minahasa (PS3M) bekerjasama dengan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) dan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Manado, menyelenggarakan diskusi publik dengan tema ‘Multikuluralisme dan Identitas Agama; Pengalaman Indonesia-Arab Saudi” yang bertempat di Aula Rektorat IAIN Manado, Rabu (07/08).

Pembicara pada diskusi tersebut adalah Prof. Sumanto al-Qurtuby selaku dosen sekaligus kepala penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora di King Fahd University of Petroleum and Mineral Arab Saudi. Diskusi tersebut didampingi oleh Rektor IAIN Manado, Delmus P. Salim, Ph.D dan dipandu oleh Sulaiman Mappiasse, Ph. D sekaligus juga sebagai penggagas PS3M. 

Dalam materinya, Prof. Sumanto al-Qurtuby menyampaikan beberapa contoh terkait dengan pengalamannya di Arab maupun di Indonesia. Salah satu contoh pengalaman yang beliau ceritakan sejak beliau mengajar di Arab, adalah perkembangan perguruan tinggi yang ada di Arab. 

Beliau menceritakan, bahwa di Arab  Saudi, dari seluruh kampus yang ada, hanya ada tiga kampus yang fokus pada studi-studi ke-Islam-an. Di antaranya Universitas Ummul Qura’ di Mekkah, Universitas Madinah, dan Universitas Ibn Saud. Selebihnya, kampus di Arab Saudi itu fokus pada ilmu-ilmu sekuler. Seperti Kimia, Fisika, Ilmu perminyakan, dan lain-lain.

"Belakangan, dengan perkembangan zaman, tiga universitas yang fokus pada studi-studi ke-Islam-an tersebut, mulai membuka jurusan-jurusan Fisika, Kimia, kedokteran, arsitektur dan lain-lain. Universitas yang awalnya fokus pada studi ke-Islam-an tersebut kemudian membuka fakultas-fakultas baru karena tantangan zaman," bebernya. 

Selanjutnya, Prof. Qurtuby juga menjelaskan, bahwa multikulturalisme juga merupakan upaya menghargai orang lain yang berbeda dengan pribadi kita. Misalnya, ada yang menganggap musik itu haram, ya dia juga harus menghargai orang yang menganggap musik itu tidak haram.

Beliau juga melanjutkan, bahwa politik anti kemajemukan itu sudah ada dalam sejarah. Dan ribuan orang yang menjadi korban karenanya. Misalnya, Hitler yang anti kemajemukan kemudian menyebabkan ribuan orang Yahudi terbunuh. Arab Saudi pada zaman Ibn Saud juga demikian. Pada 1930-an, Mazhab-mazhab selain mazhab Hanbali kemudian berusaha disingkirkan. Jadi tokoh-tokoh sufi dan mazhab lain selain mazhab Hanbali tidak mendapat tempat karena semua menjadi bagian dari kediktatoran kerajaan.

"Beberapa tahun terakhir ini, kerajaan Arab Saudi mulai berbenah diri menjadi lebih moderat dengan mengembangkan Islam washatiyah yang lebih moderat seperti yang ada di Indonesia. Upaya ini dilakukan kerajaan untuk memangkas paham-paham radikalisme di Arab Saudi," ungkap Prof Sumanto. 

Sebelumnya, diskusi dimulai dengan sambutan sekaligus penyampaian rektor terkait dengan visi multikulural IAIN Manado dan implementasinya. 

Dalam pengantarnya, Rektor IAIN Manado menyampaikan, bahwa multikultural itu pada prinsipnya adalah penghargaan terhadap keragaman, sekaligus menjaga identitas keragaman itu. Jangan sampai ketika berada dalam kelompok yang berbeda lalu kemudian merasa risih dan terganggu dengan perbedaan itu. 

Rektor juga mencontohkan dalam konteks Sulawesi Utara misalnya, yang berada di jajaran KPU maupun Bawaslu, itu pasti ada orang Islam dan Orang Kristen. Tidak pernah ada jajaran Bawaslu atau KPU itu Islam semua, atau Kristen semua. Itu sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis bersama. 

Rektor juga menyampaikan bahwa multikulturalisme itu juga memberikan tempat kepada kelompok minoritas. Misalnya memberikan ruang kepada kelompok minoritas muslim di Sulawesi Utara. Multikultural itu juga harus menjauhi sentimen suku. Karena sentimen suku ini, bisa berpengaruh terhadap pilihan-pilihan politik.

"Dengan kata lain, bisa mengarah pada politik identitas. Misalnya “suku saya yang lebih baik dari suku lain, dan seterusnya”. Padahal suku itu hanya keturunan. Manusia tidak pernah meminta untuk jadi suku ini atau suku itu. Maka, multikultural juga adalah upaya untuk menjauhi politik identitas," ucap Rektor IAIN Manado. 

Diskusi yang diselenggarakarn LP2M, PS3M bekerjasama dengan FTIK dan FUAD IAIN Manado tersebut, tentu memberi semangat baru khususnya terkait dengan visi kampus yang mengusung visi kampus multikultural. Banyak ditemukan masalah dalam sejarah keaneka-ragaman karena sering menimbulkan persoalan manusia secara umum.

Pada masa lalu, menurut Ketua LP2M IAIN Manado Arhanuddin Salim, peradaban-peradaban yang berbeda seringkali mengingkari satu sama lain dan saling bertarung. Bahkan walaupun slogan Bhineka Tunggal Ika itu di hafal betul sebagian besar masyarakat Indonesia, masih banyak ditemukan sentimen suku, ras dan agama, serta politik identitas.

"Namun, dengan diintensifkannya diskusi-diskusi publik yang mengusung tema multikulturalisme, masyarakat Indonesia khususnya Sulawesi Utara dan segenap warga IAIN Manado, kedepan tidak hanya saling bertemu untuk menghadapi persoalan bersama, tetapi secara bersama-sama mencoba untuk memecahkannya," jelasnya.

"Suatu masyarakat yang langgeng dan damai tidak bisa dibangun oleh suatu kelompok manusia yang terpecah-belah dan saling curiga, sehingga tidak akan mencapai saling pengertian. Sebagaimana dikatakan Wilfred Cantwell Smith, “jika manusia tidak dapat belajar untuk saling memahami, maka prospek masa depan planet kita tidak cerah”. Semoga," pungkasnya. 

(Abdul Muis/FTIK IAIN Manado)

Di Postkan Oleh Infodetikawanua | Rabu, 07 Agustus 2019 , ,

BERITA TERBARU

SANGIHE

KESEHATAN

Lingkungan

Internasional