Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

Manado Semakin Merosot dan Kian Tak Ramah

Penulis: Muh. Iqbal Suma

detiKawanua.com - Kesehatan, tempat tinggal dan kesempatan. Itulah hal yang paling kita inginkan ketika hidup di kota modern dan sesak. Kita kini hidup dalam pengaturan kota yang maju, padat dan terpaksa. Ada ratusan ribu bahkan jutaan manusia yang perlu dijejalkan dalam sebuah area yang luas. Kota, bukan sekedar bentang alam yang dihuni masyarakat manusia dan gedung bertingkat. Hari ini, kita berdampingan dengan penyakit, polusi udara, dan kriminalitas.

Selama ribuan tahun sejak kota pertama kali dihuni, hari ini separuh populasi bumi akan hidup di kota. Ada lebih dari 1 lusin kota-kota di dunia termasuk dalam kategori megacity. Ini merupakan sebuah kota metropolitan yang begitu besar dengan populasi lebih dari 10 juta penduduk. Kita bisa mempertimbangkan Tokyo dengan tingkat kepadatan hingga mencapai 4.000 orang per kilometer persegi. Ada juga Jakarta, kota dengan tingkat kepadatan paling mengkhawatirkan mencapai 9.500 orang per kilometer persegi. Delhi bahkan lebih buruk. Ibu kota India ini memiliki tingkat kepadatan penduduk mencapai 12.100 orang per kilometer persegi.

Secara statistik, angka-angka itu terus bergerak naik. Populasi akan terus meningkat. Pada tahun 2025, China akan menjadi negara dengan penduduk terbesar di dunia, disusul India dan Indonesia. Akibat buruknya jauh lebih besar dari yang pernah ilmuwan manapun bayangkan; kota akan membludak sampai pada titik ekstrem. Populasi memicu ancaman paling besar bagi kota-kota di seluruh dunia; pemukiman dan air bersih, polusi, ancaman penyakit, ketidaknyaman hidup dan kriminalitas. Beberapa kota akan menghadapi kemerosotan yang sama. Bahkan jauh lebih parah. Akar masalahnya jelas; populasi manusia. Itu baru awalnya saja. Persoalan ledakan populasi membawa masalah lain yang jauh lebih serius. Saya akan memberikan gambaran dengan melihat kota tempat saya hidup selama 32 tahun.

Manado, memiliki populasi penduduk pada tahun 2018 mencapai 469.000 jiwa. Jika dijejalkan ke dalam area seluas 166,9 km persegi, maka setidaknya 2.900 orang menghuni setiap kilometer persegi. Ini termasuk kota yang cukup padat. Ini belum termasuk jumlah pendatang yang berasal dari kota atau kabupaten di sekitar Manado yang perlu kita perhitungkan. Sebut saja Bolaang Mongondow dan Minahasa, 2 wilayah dengan kontribusi pendatang yang cukup besar di kota ini.

Beberapa data dengan alasan daya tarik ekonomi serta kualitas pendidikan di kota ini. Di sinilah kemerosotan itu bermula. Ribuan manusia menyerbu kota ini. Manado menjadi lebih sesak, tidak ramah dan semakin merosot. Kita tahu bahwa setiap kota di seluruh dunia mengalami problem yang sama; populasi yang terus membludak. Manado kini mengalami kemerosotan yang sama.

Persoalan populasi tidak sesederhana kita menyelesaikan urusan administrasi urban. Baik penduduk setempat maupun warga pendatang memerlukan tempat tinggal, baik yang diperoleh dengan membeli atau pun menyewa. Beberapa hunian telah dikembangkan, tetapi masih belum cukup menyelesaikan persoalan populasi urban. Maka menjamurnya usaha penginapan, kos dan sewa hunian menjadi alternatif bagi penduduk yang belum memiliki tempat tinggal tetap di Manado.

Jika anda berada di Manado, anda akan dengan mudah menemukan setidaknya ratusan rumah kost dari yang paling standar hingga yang menyediakan fasilitas seperti kamar hotel. Usaha ini menjadi bidang penghasilan baru bagi sebagian orang yang memiliki modal atau gedung dan rumah yang cukup luas untuk disewakan.

Meski secara ekonomi menguntungkan, kita perlu menghitung resiko bagi pertumbuhan kota. Menumpuknya penduduk dalam satu gedung, tinggal bersama dengan puluhan hingga ratusan orang lainnya akan meningkatkan resiko penyakit. Kita bisa bayangkan, bagaimana kita berbagi tempat dengan ratusan orang yang memiliki gaya hidup berbeda-beda. Dalam satu gedung yang sama, seorang mahasiswa tinggal dalam kamar yang tetangganya seorang laki-laki yang bekerja sebagai buruh pabrik atau seorang wanita pekerja malam yang menghabiskan sepertiga harinya dengan menenggak minuman keras.

Beberapa hunian dan rumah kos bahkan memungkinkan penghuni berbagai kamar mandi dan dapur yang digunakan bersama. Hal ini juga meningkatkan resiko penyebaran penyakit akibat lingkungan yang kotor, ketersediaan air bersih dan menyebarnya kuman yang berkembang dalam hunian yang padat. Semakin padat sebuah hunian, maka semakin tinggi resiko berkembangnya bakteri dan penyakit. Lalu kita bisa mulai menghitung limbah rumah tangga yang dihasilkan oleh setiap hunian, yang sebagian besar dibangun di tengah-tengah pemukiman penduduk.

Setiap hari ada ratusan kilogram limbah rumah tangga, sampah, kotoran dan jenis limbah lain yang dihasilkan dari setiap kontrakan atau rumah kos di kota Manado. Kemudian jika ini mendapatkan angka lebih tinggi, anda tambahkan limbah yang dihasilkan tersebut dengan limbah rumah tangga per rumah penduduk. Kita akan menemukan bahwa, populasi kota Manado meningkatkan resiko penyebaran penyakit pada pemukiman yang padat.

Lalu populasi yang menghuni Kota Manado hari ini sebagian besar memiliki kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat. Pada tahun 2017 setidaknya ada lebih dari 200 ribu kendaraan lalu Lalang di jalanan kota Manado. Ini tidak saja meningkatkan resiko polusi udara dan polusi suara. Kemacetan parah hampir setiap jam-jam sibuk telah menambah waktu perjalanan dan meningkatkan kerugian ekonomi bagi penduduk kota. Saya pernah menguji tingkat kemacetan di Kota Manado dengan menggunakan aplikasi ponsel pintar. Hasilnya cukup mengkhawatirkan; aplikasi mencatat kemacetan rata-rata 17 km/jam.

Meningkatnya pengguna kendaraan tidak sekedar menghasilkan kemacetan. Pemandangan lainnya jauh lebih mengerikan; ratusan motor diparkir di atas trotoar tempat pejalan kaki. Bahkan beberapa area, seperti Jalan Sarapung, banyak mobil di parkir hampir memakai seluruh trotoar. Kota jadi tidak ramah terhadap pejalan kaki. Saya bahkan hampir setiap saat terpaksa menggunakan jalan kendaraan karena trotoar digunakan sebagai tempat parkir. Ini meningkatkan resiko tertabrak kendaraan yang melaju.

Itu baru resiko awal yang kini sudah kita rasakan ketika hidup di Manado. Masih banyak alasan yang menurut saya bisa digunakan untuk memasukkan Manado sebagai kota yang telah berada di tahap kemerosotan. Sebuah tahap yang berada tepat satu tingkat di bawah “keruntuhan”. Hanya menunggu waktu sebelum Manado berderap menuju keruntuhan. Ketidaknyamanan hidup, keterbatasan akses sebagai masyarakat urban dan kota yang tidak ramah. Ini belum termasuk resiko meningkatnya kriminalitas akibat kesenjangan yang terus berlangsung, perebutan sumber ekonomi yang kian terbatas serta tidak adanya kompromi yang dibuat oleh pemerintah semakin menegaskan bahwa kota ini sedang menuju kemerosotan.

Beberapa ahli tata kota mungkin mengatakan bahwa kota ini baik-baik saja. Tapi saya, sebagai seorang penganut Teori Jaredian, kota ini sudah dekat dengan keruntuhan. Kita mungkin bisa berakhir buruk seperti beberapa masyarakat yang sudah runtuh. Populasi ini akan terus meningkat, ini juga meningkatkan jumlah konsumsi dalam skala yang besar. Pemerintah perlu melakukan kompromi; mengorbankan kebebasan individu dengan ganti standar hidup yang lebih baik. Atau memberikan kebebasan kepada warga untuk melakukan apa saja, dengan akibat menderita kerugian besar dalam jangka waktu yang panjang. ***

Di Postkan Oleh Infodetikawanua | Rabu, 24 April 2019 ,

BERITA TERBARU

SANGIHE

KESEHATAN

Lingkungan

Internasional