Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau

Politik Uang; Eksplorasi terhadap Konstruksi Pikiran “Ada Doi, Ada Suara”

Penulis: Abdul Muis dg Pawero
Forum Dosen Muda (FDM) IAIN Manado

detiKawanua.com - Hal menarik yang dapat dipelajari dari penyerbuan Hernan Cortes, penakluk asal Spanyol,  yang menyerbu Meksiko pada 1519 M, adalah Minat mereka yang besar terhadap Emas. Bangsa Aztek, demikian suku yang menghuni Meksiko pada waktu itu, merupakan bangsa yang kaya akan emas. Mereka dengan segera menyadari bahwa orang-orang asing itu (bangsa Spanyol), menaruh minat yang luar biasa terhadap logam kuning tertentu.

Namun penduduk Pribumi Aztek tidak asing lagi dengan emas—logam cantik yang mudah digarap sehingga mereka menggunakannya untuk perhiasan dan membuat patung. Dan terkadang, mereka menggunakan debu emas sebagai alat pertukaran. Namun, ketika orang Aztek umumnya ingin membeli sesuatu, mereka membayar dengan biji kakao (di Sulawesi Utara namanya Biji Coklat). Oleh karena itu, obsesi orang-orang Spanyol terhadap emas, sukar mereka pahami; Apa pentingnya logam-kuning  yang tidak bisa dimakan?
Ketika penduduk pribumi bertanya kepada Cortez mengapa orang-orang Spanyol berhasrat terhadap emas, Sang kapten menjawab “Karena aku dan teman-temanku memiliki penyakit hati yang hanya dapat disembuhkan dengan emas”. (Andrew M. Watson, Back to Gold).

Hal tersebut sepertinya terjadi dalam sejarah peperangan di seluruh dunia, termasuk di Nusantara. Pembantaian Massal orang-orang Eropa terhadap orang Indian, hingga Ekspansi Portugis di Nusantara, diantaranya untuk mencuri “Logam Kuning” yang tak bisa dimakan (Emas). Obsesi Manusia terhadap emas tersebut, kemudian berevolusi menjadi “obsesi manusia terhadap uang” setidaknya sejak dimulainya revolusi Industri.

Namun, masyarakat petani Nusantara, misalnya petani Bolaang Mongondow abad ke-15, tidak punya (atau tidak menggunakan) uang. Setiap kelompok masyarakat yang dipimpin Bogani, pergi berburu sapi hutan, ayam hutan, mengolah sagu, bertani dan membuat segala sesuatu yang mereka butuhkan. Mereka membuat rumah panggung komalig, hingga gerobak (roda) yang ditarik oleh dua ekor sapi untuk mengangkut kebutuhan pokok. Selanjutnya, anggota-anggota masyarakat tersebut berspesialisasi melakukan tugas-tugas tertentu, namun mereka berbagi barang dan jasa melalui ekonomi tolong-menolong (Momosad). Dalam kelompok masyarakat itu, ada ahli pengobatan, ahli membangun komalig ahli menjinakkan hewan liar, dan lain-lain. Masyarakat Bolaang-Mongondow dengan tradisi momosad pada waktu itu mampu mendiri secara ekonomi.

Ekonomi tolong-menolong itu kemudian mulai sirna dengan kemunculan “uang” yang diiringi dengan pembangunan kota. Hal ini memang wajar dan masuk akal, karena walaupun uang adalah produk imajinasi manusia, uang memungkinkan orang-orang membandingkan secara cepat dan mudah untuk bertukar satu hal dengan yang lain. Itulah mengapa Anda lebih menyukai transaksi jual-beli menggunakan uang ketimbang Anda melakukan barter. (Anda tentu memilih, lebih baik membawa uang ke pasar ketimbang Anda memikul beberapa tandan buah pisang untuk ditukar dengan ikan).

Sistem komersial Inilah yang kemudian menyebabkan konstruk berfikir manusia perlahan-lahan ber-evolusi. Dulunya manusia menjalani kehidupan berbasis tolong-menolong (misalnya tradisi momosad di Bolmong), sekarang manusia menjalani kehidupan berbasis “mencari uang”.

Uang adalah penakluk terbesar sepanjang sejarah. Penakluk yang memiliki kemampuan beradaptasi ekstrem, sehingga mampu mengubah orang-orang menjadi pengikut setia.

 Kelompok-kelompok anti nasionalisme, anti pahlawan nasional, tentu saja tetap doyan dengan rupiah bergambar pahlawan nasional.

Hari ini, uang-lah yang merupakan medium pertukaran yang memungkinkan orang mengubah segala sesuatu menjadi segala sesuatu yang lain. Tanah subur dapat diubah menjadi tangis manusia ketika para penguasa korup menukar tanah masyarakat dengan uang untuk membayar orang-orang yang mendukung kekuasaannya agar tetap bertahan.

 Kemiskinan di ubah menjadi keadilan ketika seorang konglomerat korup membayar masyarakat miskin dan pengacara agar memilihnya duduk di kursi DPR. Bahkan, korupsi dapat diubah menjadi keselamatan, seperti yang dilakukan para koruptor yang lantas menggunakan uang hasil korupsi untuk menyumbang kegiatan-kegiatan amal.

Dengan kata lain, uang bukanlah kenyataan material—uang adalah produk psikologis. Uang bekerja dengan mengubah pikiran menjadi ketidak-sadaran.

Lebih parah lagi, sebagaimana yang sering kita lihat, uang membuat dal politik jatuh kelas. Dapat kita lihat bukti, bahwa masyarakat Indonesia (sebagian) akan memilih calon legislatif yang mampu membayar suara rakyat dengan harga tertinggi.  Dengan kata lain, uang membuat politik menjadi ruang bagi “siklus” kekuasaan yang dehuman.

Mereka yang kemudian jadi korban uang ini; jual-beli suara, kuropsi, kolusi dan nepotisme, lalu menjadi kehilangan kepekaan kepada nilai-nilai luhur, seperti kebenaran, kebaikan, keindahan(estetik) dan kesucian. Kepekaan kemudian muncul dengan hanya menghargai nilai-nilai dasar, seperti materi (pemilikan kekayaan), hedonisme (kenikmatan jasmani) dan gengsi (prestise).

Saya kira, penjelasan-penjelasan tersebut di atas adalah penjelasan yang paling masuk akal terkait konstruk berfikir “Ada doi, Ada Suara”.

(Manado, 10 September 2018)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Senin, 10 September 2018 ,

BERITA TERBARU

SANGIHE

KESEHATAN

Lingkungan

Internasional