Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau

Mencari Intelektual dalam Realitas

Penulis: Rusdiyanto
Forum Dosen Muda (FDM) IAIN Manado

detiKawanua.com - Dalam suatu fase hidup, kategori intelektual bagi saya adalah orang yang suka diskusi, bertitel mentereng, banyak baca dan koleksi buku, memiliki gagasan fantastis, pinter bicara dan memiliki popularitas. Di hadapan orang-orang yang memiliki kategori itu saya pernah terpana-kagum dan beteriak imajiner ‘wow, luar biasa orang ini!’. Tetapi, pada fase yang lain pengalaman melihat ketimpangan antara pengetahuan dan laku sehari-hari orang-orang yang ‘wow’ itu mengantarkan saya untuk mempertanyakan kembali “apa benar kategorinya seperti itu?, benarkah yang demikian intelektual?”.

Ternyata, identifikasi intelektual yang demikian ada benarnya, meski tak sepenuhnya. Penyimpangan ternyata tak hanya dilakukan oleh-oleh orang awam, melainkan juga tak jarang – dan ini justru lebih berbahaya – dilakukan oleh mereka yang jika diukur dari sisi pengetahuannya sudah layak disebut intelektual. Begitu juga, jika diukur dari laku hidupnya tidak sedikit kita jumpai orang-orang yang disebut awam justu memiliki kualifikasi laku intelektual.


Di Prancis, pada tahun 1894 terjadi sebuah peristiwa penting bernama “L’Affaire Dreyfus”. Dari peristiwa inilah pada tahun 1898 seorang cerdik-pandai mengeluarkan sikap yang dikenal dengan ‘Manifeste des Intellectuels’. ‘Manifesto Intelektual’ ini memberikan gambaran secara lebih jelas dan riil tentang siapa dan apa tugas manusia yang berpredikat sebagai ‘Intelektual’.

Alfred Dreyfus adalah seorang tentara Prancis keturunan Yahudi yang dituduh membocorkan rahaisa militer kepada pihak Jerman. Dalam persidangan di pengadilan militer Dreyfus divonis bersalah dan harus menjalani hukuman penjara seumur hidup. Nasib malang yang menimpa Dreyfus ini kemudian mendapat simpati dari seorang novelis, Emile Zola. Melalui surat terbuka yang ditayangkan di halaman muka koran L’Aurore pada tanggal 14 Januari 1898 Emile Zola memaparkan bahwa anggota dinas militer Prancis telah merekayasa bukti, menanipulasi dan menyebunyikan fakta dari kasus Dreyfus. Berkat surat yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘Manifeste des Intellectuels’ ini kasus Dreyfus dibuka dan ditinjau ulang. Hasilnya Dreyfus yang sudah hampir 4 tahun menjalani hukuman karena tidak terbukti bersalah kemudian direhabilitasi dan diangkat kembali menjadi angota militer dengan pangkat baru dari yang sebelumnya kapten menjadi mayor.

Peristiwa  Dreyfus berikut kemunculan ‘Manifesto Intelektual’ ini menjadikan apa dan siapa yang disebut ‘intelektual’ itu tak lagi abstrak, tetapi nyata. Intelektual adalah predikat bagi para cerdik-cendekia-, seniman, filosof, budayawan, dll,. yang memiliki kepedulian dan keberpihakan pada kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Hal ini harus ditegaskan karena tidak semua yang dianggap atau mengaku cerdik, terpelajar, budayawan, filosof, seniman, dll,. itu memiliki komitmen nyata pada kebenaran, keadilan dan kamanusiaan.

Dalam fase tertentu sering terjadi kecelakaan sejarah yang menontonkan perilaku kaum ‘mulia’ itu justru pada sikap yang berseberangan, yakni: menjadikan kelebihan pengetahuan yang dimiliki sebagai sarana untuk membodohi, manipulasi, dan membenarkan prilaku yang tak diterima hati nurani. Gejala kecalakaan sejarah inilah yang barangkali menginspirasi Julian Benda untuk menulis sebuah buku La Trahison des Clercs (Penghianatan kaum cendekia/intelektual).

Intelektual rupanya tak melulu bisa diukur dari seberapa luas pengetahuan yang dimiliki melainkan berkaitan dengan ‘pemaknaan’ terhadap anugerah ilmu pengetahuan yang diselaraskan dengan perilaku hidup mulia, yakni keberanian untuk berlaku benar dan memperjuangkan kebenaran, berlaku adil dan berjuang menegakkan keadilan, sehingga dalam hidup memiliki banyak manfaat bagi semesta. Memilih jalan demikian, kadang memang penuh liku yang tak enak dirasakan. 

Tetapi, bukankah dari sejarah kita bisa belajar bahwa keindahan tak selalu senja, atau pemandangan gunung dan laut. Keindahan bisa dijumpai pada keberanian Socrates, Suhrawardi, Diponegoro, Cut Nyak Dien, dan siapa saja yang memperjuangkan dan menegakkan kebenaran. Dari pengalaman mereka kita bisa belajar bahwa pemeluk kebenaran beresiko menjumpai senjata yang siap mengakhiri hidupnya. Itulah resiko dari laku seorang “Intelektual”. Laku intelektual juga bisa dijumpai pada orang yang ‘berani hidup’ demi memberikan manfaat bagi tegaknya keadialan dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Laku seperti ini dicontohkan dalam ‘Peristiwa Kasim’ di Indonesia beberapa puluh tahun silam.

Muhamad Kasim Arifin adalah seorang mahasiswa Fakultas Pertanian di IPB yang rela dan meninggalkan bangku kuliah demi mengabdi pada para petani. Pada tahun 1964 Kasim dikirim pada sebuah daerah terpencil di Maluku oleh almamaternya untuk mengikuti PTM (Pengerahan Tenaga Mahasiswa – semacam KKN sekarang). Tugas itu mestinya hanya berlangsung beberapa bulan. Rupanya hidup di lingkungan petani di daerah terpencil yang penuh keterbatasan mebuat Kasim – dalam bahasa kekinian – baper, ia lupa pulang dan lupa kalau punya tugas menyelesaikan kuliahnya. Di daerah itu, Kasim belajar bersama petani untuk menjadi mandiri dengan bersama-sama membuka jalan desa, membuat irigasi, mengembangkan ladang sawah, dan lain-lain yang semua itu dilakukan tanpa sepeserpun dibantu oleh pemerintah atau sponsor manapun.

Orang tua juga almamaternya meminta Kasim pulang, tapi tak dihiraukannya. Hingga 15 tahun kemudian, IPB mengutus seorang untuk membujuk Kasim agar bisa kembali walau hanya sementara ke kampusnya  untuk menerima gelar sarjana, bukan karena telah menyelesaikan tugas akhir, melainkan karena pengabdiannya selama 15 tahun yang tanpa pamrih. Teman kuliah Kasim, Taufik Ismail menuliskan puisi untuk kasim dengan judul: “Syair untuk seorang petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada hari ini pulang ke almamaternya” bait puisi itu berbunyi:

_”Dari pulau itu, dia telah pulang//Dia yang dikabarkan hilang//Lima belas tahun lamanya//Di Waimital Kasim mencetak harapan//Di kota kita mencetak keluhan// (aku jadi ingat masa kita diplonco dua puluh tahun yang lalu)//Dan kemaren, di tepi Ciliwung aku berkaca//Kulihat mataku yang keruh dan leherku yang berdasi//Kuludahi bayanganku, ketika aku mengingatmu, Sim.”_

Itulah laku intelektual yang dicontohkan Kasim dengan anugerah pengetahuan yang dimiliki, ia abdikan untuk kemasalahatan. Bukan hanya untuk dirinya. Ia buktikan istilah “Intelektual” dalam tindakan. Bukan sekedar wacana. Dalam kondisi kini di negeri kita yang penuh polusi curiga dan pamer kepintaran antar kaum elit, juga saling melegitimasi diri/kelompok sebagai yang paling segalanya, di manakah gerangan sosok manusia intelektual sejati itu,? masih adakah?. (***)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Kamis, 20 September 2018 ,

BERITA TERBARU

SANGIHE

KESEHATAN

Lingkungan

Internasional