Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau

3 Hal Ini, Kapal RORO, Filipina Airlane dan Illegal Fishing Dibahas Wagub dan Montenegro Cs

Manado, detiKawanua.com - Asisten  Sekertaris Otoritas Pembangunan Mindanao Filipina, Romeo Montenegro, yang juga selaku Kepala Delegasi) bersama anggota rombongan sejumlah 7 orang, pada Jumat (07/09) siang tadi mendatangi Kantor Gunernur Sulut yang disambut langsung Wakil Gubernur, Steven Kandouw diruang kerjanya. Dalam maksud kunjungan tersebut, dimana mereka (Filipina) bertujuan ingin bertemu dengan pemrakarsa konektivitas Mindanao-Manado, guna membahas peningkatan bisnis Filipina Selatan, Mindanao dan Sulawesi Utara kemudian mengeplorasikan kemungkinan untuk mengaktifkan kembali rute penerbangan langsung antara Davao-Manado melalui Filipina Airlane

"Mereka melihat potensi (Sulut) bagus dan paling lambat enam bulan mereka akan mengkaji membuka penerbangan Davao-Manado," terang Wagub, usai menerima kunjungan tersebut.

Lanjutnya, mereka (Filipina) telah menelusuri Sulawesi Utara telah menjadi Hub baik domestik Indonesia maupun luar negeri dengan penumpang terutama turis Cina, dengan penerbangan dari Bali datang ke Manado kemudian kembali pulang (ke Cina). Sehingga hal itu menuai harapan dari pihak Filipina agar juga penerbangan dari daerah Jakarta, Bali dan Surabaya ke Manado bisa ke Davao.

"Itu nantinya akan dimulai dengan pesawat jenis ATR penumpang 50 orang," ungkap Kandouw.

Adapun hal lain yang diungkapkan Montenegro Cs kata Wagub tentang Kapal RoRo (kapal pengangkut bahan/barang eksport impor dan penumpang) yang menurut mereka terlalu terburu-buru dan besar kapasitasnya untuk sekarang ini berada di Sulut (Pelabuhan Bitung).

"Jadi akan diadakan diganti yang lebih kecil (kapal), nanti seiring semakin berkembang akan diganti lebih besar," ujarnya.

Wagub pun mengatakan mereka juga membahas soal sektor perikanan terutama ada tuduhan ilegal fishing antara Sulut dan Filipina yang terkait dengan adanya diregulasi mortorium dengan Menteri Kelautan Perikanan.

"Akhirnya ada perusahaan yang tidak jalan karena ada juga sebagian investasi dari Filipina akhirnya tutup juga. Jadi nanti akan duduk bersama cari solisi sehingga eksiproksitas menguntungkan kedua belah pihak, disini (Sulut) bisa berjalan begitupun secara legal yang di Filipina bisa mereka dapatkan," tandas Wagub.

(IsJo)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Jumat, 07 September 2018 , ,

BERITA TERBARU

SANGIHE

KESEHATAN

Lingkungan

Internasional