Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau

MANADO DALAM FIESTA

Penulis: S. Ahmad Assagaf a.k.a Amato


detiKawanua.com - Dalam fiesta, Manado adalah kisah dari sebuah masa depan yang menggemakan kembali puisi masa lalu kota ini. Masa depan itu adalah cita-cita terbaik para pembangun kota ini, kisahnya tentang mereka yang menuai bahagia dalam kemakmuran. Adapun masa lalu itu adalah jejak langkah sosial dan budaya warga Manado sejak zaman baheula kota ini, puisinya bicara soal hidup dan kebebasan.

Dalam fiesta, Manado bukan keseluruhan dari bagian-bagiannya, tapi setiap orang, setiap kelompok, setiap bagian dari suatu keseluruhan. Seperti di dalam fiesta, di Manado setiap individu akan mengejar kepentingan mereka sendiri dalam sebuah kompetisi kreatif tanpa melanggar kesepakatan kita sebagai satu keseluruhan warga masyarakat. Pun, dalam fiesta, tidak ada satupun individu yang boleh dikorbankan atas nama komunitas, kelompok, atau bahkan masyarakat.

Maka, dalam fiesta, Manado menjadi Manado.

Lalu ada sementara pihak, beberapa orang, yang hendak menarik Manado keluar dari fiesta. Entah atas nama apa, mereka mulai menggugat fiesta atau, setidaknya, menggugat eksistensi Manado di dalam fiesta. Gambaran tentang masyarakat Manado sebagai masyarakat fiesta mereka pandang dengan jijik dan sinis.

Setidaknya ada dua keberatan utama mereka. Pertama, di dalam fiesta, Manado tergambarkan sebagai hura-hura, konsumerisme, dan pemborosan. Tak ada kerja keras dan daya juang. Dalam pandangan yang pertama ini, di dalam fiesta, Manado menjadi segala sesuatu yang membayangkan mereka pada keramaian tanpa perenungan, pesta tanpa rasa prihatin, dan gaya tanpa substansi.

Kedua, di dalam fiesta, Manado tergambarkan sebagai sebentuk sensualitas liar. Keindahan yang terjual, kecantikan tanpa batasan moral. Singkatnya, bagi mereka, fiesta adalah ajakan pada degradasi moral warga Manado. Semacam gambaran pembenaran atas popularitas “bubur dan bibir” yang, bagi mereka, sangat menghina.

Jika maksud mereka adalah menampilkan Manado yang lain dari bubur dan bibir, maka itu absah dan layak. Tapi jika maksud mereka hanya sekadar membunuh fiesta demi, katakanlah, menciptakan masyarakat Manado yang relijius dan bermoral, maka mereka sungguh tidak mengerti fiesta dan bagaimana semangat itu telah menyelamatkan langkah Manado hingga hari ini.

Fiesta bukan hanya istilah bagi Manado dalam sebuah ajang tahunan yang diselenggarakan pemerintah untuk memajukan pariwisata kota ini. Fiesta adalah semangat yang dari padanya Manado menjadi Manado dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Bagi seorang pengembara yang pernah hidup di banyak kota di luar Manado, fiesta adalah apa yang terucap sebagai pujian yang tidak bisa diberikan pada manapun kota di Republik ini kecuali bagi Manado. Pun ketika pujian itu diucapkan dalam ungkapan populer tentang bubur dan bibir atau tentang orang Manado sebagai orang yang hanya “menang nampang doang” dalam istilah orang Jakarta.

Popularitas bubur dan bibir Manado adalah refleksi dari sebuah kekuatan kultural dan alamiah Manado yang tidak akan berani diklaim oleh kota manapun di Indonesia. Anda merasa terhina oleh istilah itu? Manado tidak. Karena Manado tidak merasa terhina oleh pencapaian kulturalnya – bubur, sebagaimana oleh berkah alamnya – bibir, yang tidak bisa dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Republik ini.

Dan tahukah Anda bahwa ekspresi melecehkan orang Manado sebagai hanya “menang nampang doang” atau “biar kalah nasi yang penting jangan kalah aksi” adalah ekspresi yang paling puncak dari rasa frustrasi orang bukan Manado untuk menjadi seperti Manado sebagai sebuah kota yang, bersama Bali, telah meninggalkan semua kota lain di negeri yang kita cintai ini dalam progresivitas universalnya.

Apa itu progresivitas universal? Meminjam bahasa Surat Kepercayaan Gelanggang, progresivitas universal adalah kesadaran bahwa “kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri.”

Manado, seperti Bali dalam cermin yang berbeda, adalah figurasi sosio-geografis dan sosio-kultural dari progresivitas universal. Dengan itu, dalam caranya sendiri, Manado meninggalkan kota-kota lain dalam mewarisi kebudayaan dunia serta laju kemajuannya. Menjadi kota dengan tingkat toleransi paling tinggi di Republik ini hanyalah salah satu contoh dari progresivitas itu.

Persoalannya, kita lupa bahwa semua itu dicapai Manado dalam perjumbuhannya dengan fiesta. Bahwa pariwisata menjadi medan prioritas bagi Manado dalam fiesta, itu hanya bagian kecil yang wajar karena Manado memang telah sekian lama siap untuk menerima terbukanya dunia di kota ini. Sejarah masuknya orang-orang Arab dan China di kota ini, misalnya, adalah petunjuk yang cukup klasik dari kesiapan dan progresivitas Manado itu.

Makanya, menerima turis – dalam dan luar negeri – bukanlah sesuatu yang asing bagi Manado, termasuk menjaga sensualitas kultural dan alamiah sebagai rayuan bagi para pelancong itu. Kepanikan moral yang dibuat-buat atas popularitas rayuan Manado itu hanyalah tanda ketidakmampuan sebagian kecil warga Manado untuk menjadi “ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia.” Sementara Manado sendiri akan terus bergerak ke masa depan dalam meneruskan kebudayaan itu “dengan cara kami sendiri.”

Maka Manado dalam fiesta adalah sekaligus rayuan (dalam konteks kecil pariwisata) dan “cara kami sendiri” (dalam konteks besar kebudayaan). Jadi berhentilah menanggapi popularitas bubur dan bibir Manado sebagai hinaan dengan menerimanya dalam tataran yang jauh lebih filosofis dan terbuka sebagai, sekali lagi, pujian terhadap capaian kultural (bubur) dan berkah alam (bibir) bagi Manado.

Bagaimanapun juga, Manado memang karnaval, pesta, dan hiruk pikuk kegembiraan. Bukan karena Manado identik dengan konsumerisme dan hura-hura, tapi karena Manado adalah keceriaan – tak ada yang bersedih dalam fiesta, interaksi – tak ada yang bersendiri dalam fiesta, kompetisi – tak ada yang diistimewakan dalam fiesta dan, tentu saja, sensualitas – tak ada yang tak menggoda dalam fiesta.

Fiesta adalah tameng kultural Manado yang menyelamatkan kota ini dari gempuran dua konflik sosial bernuansa agama di Ambon dan Poso pada beberapa tahun lalu. Saya ingin mengutip pernyataan seorang warga Manado, seorang lelaki bertato, saat menjawab khutbah provokasi seorang lelaki seberang yang mengajak perang sebagai kesimpulan, “Jang bawa maso ngana pe perang pa torang pe pesta.”

Dan apa yang membuat saya, seorang warga Manado turunan habib, anak dari seorang ustadz yang namanya diabadikan sebagai nama sebuah jalan kecil di Manado, bisa dengan nyaman mengadaptasi skenario penyaliban Yesus dan mementaskannya dengan 144 orang Kristen Boltim sebagai pemain di atas panggung berukuran 14 x 20 meter? Fiesta.

Artinya, baik secara objektif maupun secara subjektif, fiesta adalah apa yang melindungi harta terbesar Manado, warisan sejarah, eksistensi geososial, dan gemuruh cita-citanya, yaitu keragaman. Dalam fiesta, Manado adalah sebuah perayaan atas keragaman.

Manado dalam Manado Fiesta 2018

Jadi jelas, fiesta bukan hanya karnaval, pesta, yang diselenggarakan pemerintah Manado setiap tahun. Fiesta adalah Manado itu sendiri. Karenanya Manado Fiesta, entah tahun ini atau di tahun-tahun nanti, harus bisa dijadikan sebagai momentum peringatan bagi identitas kultural kita sebagai warga dalam fiesta.

Dan, dalam setiap tahunnya, Manado Fiesta akan menggemakan peringatan ini berdasarkan konteks dan semangat zamannya. Pada Manado Fiesta 2018, barangkali semangat zaman yang paling urgen adalah mengembalikan Manado pada Manado. Yakni mengembalikan Manado pada sejarah, entitas geososial, dan cita-citanya yang dikerangkakan dalam keragaman absolut yang tak boleh usai kita perjuangkan.

Artinya jelas, masih dalam kerangka itu namun dengan konteks yang lebih spesifik, Manado Fiesta 2018 harus menjadi momentum bagi kembalinya Manado dalam fiesta. Kembalinya Manado dalam keceriaan yang damai, interaksi yang kreatif, kompetisi yang progresif, serta sensualitas yang atraktif dalam keragaman yang komunikatif dan saling bersinergi.

Manado, Agustus 2018.

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Jumat, 03 Agustus 2018 , , ,

BERITA TERBARU

SANGIHE

KESEHATAN

Lingkungan

Internasional