Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau

Penutupan AEYA, 350 Peserta Asia Akui Kehebatan Sulut Bisa Jadi Contoh Dunia

Manado, detiKawanua.com - Penutupan Sidang Pemuda Oikumene se-Asia atau Asian Ecumenical Youth Assembly (AEYA) 2018 yang digelar di Gedung GKIC Manado, Rabu (11/04) tadi malam, selain berlangsung penuh khidmad dengan kebahagiaan kebersamaan para peserta, juga yang paling berkesan adalah adanya testimoni atau pengakuan luapan hati/kesan pesan dari 350 peserta yang disampaikan melalui perwakilan tiga peserta negara, yang selain kesuksesan kegiatan berkelas internasional itu juga mengungkapkan terkait suasana/keadaan Provinsi Sulut dari berbagai sektor terlebih yang paling menonjol adalah soal kerukunan masyarkat. Para peserta sangat terkesan dengan keramah tamahan orang Sulut dan semua pelayanan mereka selama kegiatan berlangsung. Mereka juga selama berada di Manado, merasa nyaman dengan keamanan, makanan sangat baik serta kesehatan mereka juga terjamin, sehingga mereka sangat berterima kasih dan merasa mencintai rakyat Manado Sulut dengan memakai motto 'Torang Samua Ciptaan Tuhan serta Torang Samua Basudara'.

Wakil Gubernur Sulut, Steven Kandouw yang telah menutup kegiatan AEYA itu kepada wartawan mengatakan, para peserta juga merasakan berada di Sulawesi Utara bagaikan di Kota Kanaan Baru.

"Mereka selama berada di Sulut, selain dalam pengalaman berorganisasi dan rohani. Mereka juga memberikan testimoni yang luar biasa, apa yang mereka lihat dan rasakan di Sulut bahwa masyarakat Sulut, ramah, daerah subur, keamanan baik hingga toleransinya luar biasa, bahkan mereka (peserta) merasa iri dengan Sulawesi Utara ini dan itu menjadi modal bagi kita (Sulut)," kata Wagub.

Kandouw juga mengatakan dari semua hal tersebut, menjadi tujuan subtstansi penyelenggaraan kegiatan dari Gubernur Sulut (Olly Dondokambey) untuk membantu menciptakan generasi muda dunia yang mengasihi sesama manusia, tidak radikal dan fundamentalis, menjauhi narkoba, cinta damai, dan menyayangi lingkungan.

"Kedua tujuan kegiatan dari pak Gubernur adalah, memberikan gambaran kepada dunia luar bahwa Sulawesi Utara ini mewakili Indonesia sebagai suatu tempat yang aman dikunjungi dan boleh jadi contoh untuk masyarakat dunia," ujarnya sembari menambahkan pada hari ini (Kamis) para peserta akan mengunjungi daerah wisata Bukit Kasih.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Christian Conference Asia (CCA) Dr Mathews George Chunakara mengatakan, di tengah situasi yang kompleks, CCA melalui AEYA berupaya melakukan terobosan bagi kaum muda Kristen Asia dengan berkumpul di tingkat regional untuk mengatasi beberapa masalah dan realitas Asia yang lebih luas untuk mengembangkan tanggapan ekumenis demi kesaksian Kristen yang efektif.

Lanjut Chunakara, agenda AEYA 2018 adalah pertemuan pemuda ekumenis Asia yang ketiga kalinya diselenggarakan oleh CCA dalam 61 tahun sejarahnya; acara pemuda yang pertama terjadi pada tahun 1964 di Kota Dumaguete, Filipina. Sidang pemuda kedua diadakan pada 1984 di New Delhi, India, di mana Chunakara sendiri adalah salah satu dari 200 peserta.

“Banyak pemimpin oikumenis saat ini adalah produk gerakan pemuda dan mahasiswa Kristen. Karena itu gerakan pemuda dan mahasiswa harus diperkuat lagi,” ucapnya.

Lebih jauh, Chunakara menerangkan program CCA selama tahun 2015-2020 memberikan prioritas kepada pemuda untuk berpartisipasi di berbagai tingkatan.

“Termasuk magang pemuda jangka panjang, pelatihan duta muda untuk perdamaian di Asia, program pengembangan kepemimpinan pemuda dan pembentukan ekumenis di tingkat nasional dan tingkat sub-regional,” imbuhnya.

Diketahui, AEYA adalah acara pemuda ekumenis utama yang diprakarsai oleh CCA untuk menyatukan lebih dari 350 anak muda dari negara-negara di kawasan Asia yakni : Indonesia, Malaysia, Hongkong, Kamboja, Myanmar, Bhutan, Jepang, Srilanka, Bangladesh, Korea, Australia, India, Pakistan, Filipina, Nepal, Taiwan dan New Zealand.

Acara ini memberikan platform bagi anak muda Kristen Asia untuk membahas berbagai isu dan tema Asia yang sedang berkembang seperti, ‘Menuju Membentuk Dunia yang Berubah: Peran Pemuda Asia’, ‘Saksi Nabi terhadap Kebenaran dan Cahaya: Perspektif Teologis Alkitabiah, ‘Spiritualitas dalam Dunia Digital’, ‘Merangkul dan Menghargai Keragaman dan Martabat Manusia,’ dan ‘Mengubah Nilai-Nilai dan Budaya Keluarga di Asia: Suara Antar Generasi.’

Dalam sesi dialog, para pemuda membahas isu-isu dan tema seperti ‘Intoleransi Agama dan Politisasi Agama’, ‘Kecerdasan Buatan: Masa Depan Kaum Muda Asia’, ‘Perdagangan Orang dan Orang-Orang yang Bergerak di dalam dan di Luar Asia,’ ‘Perkembangan dan Teknologi Manusia Kemajuan di Asia, ‘Apakah Kaum Muda Asia Menjadi Pengembara Digital?’ dan ‘Menghilangnya Nilai-Nilai Cinta dan Peduli di Tengah-Tengah Kebudayaan Diri’. ‘

Penutupan Asian Ecumenical Youth Assembly 2018 turut dihadiri Ketua Sinode GMIM Pdt. Dr. Hein Arina, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat selaku Wakil Ketua Umum Panitia dr. Kartika Devi Kandouw-Tanos, MARS, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat selaku Ketua Pelaksana Harian Edison Humiang dan para pejabat Pemprov Sulut lainnya.

(IsJo)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Kamis, 12 April 2018 , , ,

BERITA TERBARU

SANGIHE

KESEHATAN

Lingkungan

Internasional