Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
PratinjauPratinjau

Kangmas di Warung Kopi

Oleh: Umi Khofsah*

detiKawanua.com - Minggu adalah hari libur. Setidaknya begitulah mind set kebanyakan orang. Juga sebagaimana tertera pada simbol kalender - warna merah- yang berarti libur. Terserah mau libur atau tidak, hari ini saya sudah berniat akan ngopi di sebuah Cafe di daerah Nologaten. Saya sudah cantik (kalau tidak ikhlas dengan atribut cantik yang saya sematkan, baca saja rapi), mengunci pintu kamar, menuruni tangga kos dan segera mengeluarkan motor dari garasi. Tidak sampai lima menit motor saya panasi, wuuusssh...saya melenggang dengan indah ke tempat tujuan.

Wawan —seorang waiters Cafe tersebut- menyambut saya dengan senyum khas keakraban dan keramahan. Kami tos sebentar, dia bertanya kenapa saya sendirian. “karena ingin sendiri saja” jawab saya dengan senyum juga. Usai memesan secangkir kopi hitam saya memilih tempat duduk di lesehan yang paling kanan. Cafe ini —namanya Bento- adalah tempat ngopi favorit saya selama di Jogja. Bukan karena kopinya enak, tapi tempat dan suasananya enak ,jaraknya yang dekat dengan kos dan harganya yang murah (ini yang utama dan paling penting) menjadi alasan kenapa saya dan teman-teman suka nongkrong di sini. Waktu paling indah di Bento adalah sore menjelang magrib. Dimana langit senja yang berwarna orange-merah dengan awan kelabu menjadi semakin menawan karena dipandang lewat hamparan hijaunya padi di sawah yang ada di sebelah Bento. Tapi pagi ini pun cukup tampan bagiku, dengan cuaca yang galau- setengah panas setengah mendung- dan angin sepoi yang memainkan ujung jilbabku. Ini adalah pagi yang sempurna untuk menikmati hari minggu.

Tidak sampai lima belas menit Wawan sudah mengantarkan kopi yang saya pesan dengan bertanya ini-itu. Keramahan dan keakrapan kami menyadarkan saya bahwa saya terlalu sering kesini. Saking seringnya, mungkin kalau tidak punya uang saya tetap akan dibolehkan pesan kopi dengan bayar di belakang, alias hutang, haha. Tapi sepertinya hal itu tidak akan terjadi.

Tidak banyak pengunjung pagi ini. Tapi tunggu saja nanti menjelang makan siang, pasti banyak pasangan cewek-cowok yang datang. Dan awas saja kalau ada yang beradegan suap-suapan di meja depan saya duduk. Saya akan lempar buku pada mereka dengan alasan tidak menghormati —kesendirian dan kejombloan saya- hahaha. Yang ini saya bercanda lagi. Karena saya tidak peduli kalau sedang baca buku.

Mengeluarkan buku dari tas, sebuah novel dengan judul “Ibunda” karya Maxim Gorki, seorang sastrawan Rusia yang hidup di awal tahun 1900an, siap saya baca pagi ini. Ini novel dengan genre sastra realisme-sosialis, yang diterjemahkan oleh tokoh sastra Indonesia yang juga beraliran kiri, Pramoedya Ananta Tour atau sering kita kenal dengan Pram. Baru membaca dua paragraf pertama, tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya membawa secangkir teh yang masih mengepul asapnya duduk di sebelah saya. Jelas saya kaget. Saya tidak janjian dengan siapapun hari ini. Saya benar-benar ingin sendiri.

“Aih...apa yang kamu baca ini” katanya dengan menyingkirkan novel itu dari depan saya. “materi itu tidak nyata” sambungnya lagi. “Haduh,,siapa sih orang ini?” kata saya dalam hati masih dengan rasa ketakjupan yang bertambah. Laki-laki aneh tidak jelas yang duduk disebelah saya dengan nyaman ini menyerutup tehnya, dengan mengernyitkan dahi saya bertanya “Bapak siapa ya? Sepertinya bukan orang sini”. Rambut gondrong-bergelombang-yang melewati bahu itu diterpa angin sepoi, dengan mata menyipit memandang kearah saya dia menjawab. “kamu tidak kenal saya?”. Saya otomatis menggeleng, memang saya tidak pernah melihat dia kok. Tapi saya tahu bapak ini bukan orang Indonesia. terlihat dari hidungnya yang terlampau melewati garis kemancungan orang Indonesia. Dengan sigap dia mengulurkan tangannya kepada saya “Rene Descartes dari Prancis” katanya. Masih dengan perasaan tidak enak yang bercampur heran yang belum hilang, saya menyambut uluran tangan itu. Tangannya halus sekali untuk ukuran laki-laki, sepertinya dia tidak pernah mencuci baju atau cuci piring sendiri.

“Kamu Umi Khofsah kan? Saya sudah lama mengamati kamu”. OMG, saya harap dia bukan agen trafficking. “kok tau?” jawab saya. “bilang pada teman-temanmu, jangan salah mengucapkan nama saya dengan “deskartes”, nama saya “dekarts”, katanya, sepertinya agak sebel. Sebentar, orang ini kenal saya dan teman-teman saya, sepertinya dia terkenal. Saya pasti pernah melihat orang ini. Beberapa detik saya mengamati dengan teliti laki-laki aneh ini. Dan saya terpaku pada poninya. Ya, poni. Rambut yang sengaja dibiarkan tergerai menutupi dahi itu mengingatkan saya pada sebuah buku koleksi saya di kos.

“Descartes? Discourse on Method? Meditation? Bapak filsafat modern?” saya berkata dengan rasa tidak percaya. “Benar sekali” jawabnya sambil tersenyum. “tapi kan Bapak sudah meninggal tahun 1650 di Swedia” jawabku.

“ckckck,, kamu tahu, apa dasar dari segala pengetahuan yang saya paparkan dalam buku-buku saya?” dia balik bertanya. “Skeptis, mempertanyakan kebenaran dari segala sesuatu” jawabku. “Nah, itu kata kunci dari pengetahuan yang sebenarnya, maka jangan percaya kalau saya sudah meninggal tahun berapa dan dimana itu”.

Ini mimpi atau tidak ya? Jangan-jangan saya mimpi. Mana ada orang dari tahun 1600an yang bukunya saya baca ikut ngopi di pagi hari minggu dan mengacaukan rencana liburan saya pagi ini? Dan anehnya dia mengenal saya. Masak Descartes masih hidup?

“Filsafat itu dimulai dengan mempertanyakan segala sesuatu Mi. Mempertanyakan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita ketahui, apa yang kita alami. Termasuk juga, tidak ada jaminan bahwa apa yang kamu alami saat ini mimpi atau nyata. Kamu pernah baca itu di buku saya kan? Saya mengangguk. Ya, saya memang pernah membaca pendapatnya tentang mimpi, halusinasi dan setan yang menipu kita. Saya akan mengesampingkan pertanyaan saya apakah dia bisa membaca pikiran saya? Karena saya sedang mempertanyakan apakah pertemuan ini mimpi atau nyata.

“Tapi kan Bapak mengkritik kelompok skeptis radikal?” sepertinya rasa heran sudah mulai memudar, terbukti saya sudah mulai konek dengan si dia. “Aih...jangan panggil saya Bapak lah, panggil saja Kangmas. Itu lebih cocok, lagipula saya tidak setua itu”. Amboy..., apakah waktu menulis karyanya di Belanda dia belajar bahasa Jawa juga? Sehingga tahu sebutan kangmas segala. Ok lah, Kangmas Dekarts, saya turuti saja maumu. “Iya Kangmas” sambil menganggukkan sedikit kepala, saya mengiyakan, walaupun tidak ikhlas juga manggil Bapak ini dengan kangmas.

“Saya memang mengawali segala sesuatu dengan skeptisisme, tapi saya tidak pura-pura skeptis. Kesalahan orang-orang adalah menyerahkan seluruh kebenaran pada indranya, pada pengetahuan yang selama ini mereka dapat dari orang-orang sebelumnya, tanpa dicek terlebih dahulu benar atau salah. Maka saya meragukan segala hal. Dan akhirnya saya berakhir pada suatu kesimpulan”. “Cogito ergo sum” saya menyela perkataannya. “Ya. Satu-satunya yang tidak saya ragukan adalah saya yang ragu. Ragu adalah berpikir. Maka, saya yang berpikir ini adalah nyata, saya ada, pikiran saya nyata. Dan ini yang membedakan saya dengan kelompok skeptis radikal. Mereka tidak pernah mencapai kebenaran yang pasti, tapi saya mencapainya”.

“Bagaimana kangmas tahu kalau akal itu pasti benar dan tidak bisa diragukan?” tanyaku padanya. Dia menyerutup lagi teh dari cangkir putih porselen, sepertinya sudah agak dingin karena asap tidak lagi mnyembul dari cangkir. “itu berkaitan dengan pembuktian adanya Tuhan Mi. Begini, kita kan sudah sampai pada sebuah kepastian bahwa kita yang selalu ragu dan bertanya itu nyata dan ada. Nah, kita yang selalu bertanya tentang sesuatu itu menunjukkan adanya ketidakpastian, ketidaksempurnaan. Kita ini ada yang tidak sempurna. Tapi kita selalu punya ide tentang kesempurnaan. Contohnya, ketika kita mengkritik kinerja pemerintah. Kritik kita yang menyatakan pemerintah seharusnya begini dan begitu itu menunjukkan bahwa kita punya ide tentang kesempurnaan. Darimana ide sempurna tersebut? sedangkan kita sebagai manusia tidak sempurna? Ya siapa lagi kalau tidak Tuhan yang menjadi sumber ide sempurna tersebut?”

“Ya, ya, saya paham, lalu bagaimana kangmas yakin kalau Tuhan tidak menipu?”. Tanyaku, sebagai tanda kebingungan. “Karena sudah pasti pikiran kita ada dan akal punya kapasitas untuk mencapai kebenaran, karena jika Tuhan menipu berarti akal tidak bisa mencapai kepastian kebenaran tersebut, padahal kita yakin bahwa kita yang berpikir dengan akal kita ini adalah sebuah kebenaran”. Jawabnya sambil membenarkan kerah baju. “Oh, berarti Tuhan ada dan tidak menipu karena akal kita mampu menangkap kebenaran dan akal kita tidak mungkin menipu karena Tuhan itu ada dan tidak mungkin menipu? Tanyaku memastikan. “Betul sekali, hahahah. Kita memang cocok Umi, saya tidak salah memilih perempuan kalau begitu” jawabnya dengan mengerlingkan mata. Wah...wah...sepertinya aki-aki yang tidak jelas ini mulai menggoda saya. “kamu mau ikut saya ke Prancis?” tiba-tiba dia menggeser posisi duduknya mendekati saya. “saya harus pikirkan dulu kalau itu, saya kan skeptis juga kangmas”, jawabku sambil mengeser posisi supaya kita tidak terlalu dekat.

Sekonyong-konyong, laki-laki dengan perut gendut, mengenakan setelan jas, berewokan, berambut gondrong dan menghisap rokok cerutu menghampiri kami. Jarak 10 meter dia melempar rokok cerutunya dan mengenai dahi Descartes. “wadauw...” Descartes berteriak sambil menengok ke laki-laki yang baru datang tersebut. “Sakit bukan? Katamu semua materi itu ilusi tapi kamu tidak bisa menghindari rasa sakit dari materi itu. Umi, jangan percaya padanya, yang nyata itu materi”. Kata laki-laki serem berewok itu padaku. Siapa lagi sih ini? tanyaku dalam hati.

“Seharusnya kamu mengurus gerakan kaum proletar di Planet Mars saja, Marx. Kau mengacaukan rencanaku untuk mendapatkan calon istri”. Kata Descartes pada laki-laki itu. Ah, itu Karl Marx rupanya. Tapi..tapi..kok Istri? Sebaiknya saya segera pergi sebelum pertengkaran mereka berkobar besar. Saya tidak tertarik diperebutkan oleh dua filsuf ini. Akhirnya saya beranjak dari tempat duduk dan ngacir pulang meniggalkan mereka berdua. Ah, buram sudah hari liburku. (#)

---
Pegiat Filsafat, Lahir di Jepara, Tinggal di Yogyakarta

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Senin, 02 April 2018 , ,

BERITA TERBARU

SANGIHE

KESEHATAN

Lingkungan

Internasional