Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau

Beban Sosio-Psikologis Full Day School

Oleh: Ardiman Kelihu

Beberapa hari belakangan ini, bahkan pernah di tahun sebelumnya, dunia pendidikan dihebohkan oleh plan project Menteri Pendidikan  dan Kebudayaan, Prof. Muhadjir Sofyan terkait pemberlakuan sistem pendidikan sehari di sekolah bagi siswa sekolah dasar dan menengah. Sistem pendidikan Full Day School (FDS) tersebut, pada dasarnya beralasan untuk mencegah terjadinya penyimpangan sosial maupun membentuk karakter.  

“Dengan  sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang kerja”, kata Mendikbud (Kompas, 7/8/2016)

    

Banyak reaksi berdatangan, mulai dari para pengamat pendidikan sampai netizen yang masih awam terkait pernyataan sang menteri. Harus disadari sepenuhnya bahwa pendidikan kita selama ini, lebih cenderung fokus ke dalam ruang kelas yang kaku tanpa diimbangi dengan pendidikan informal di luar kelas. Akibatnya proses belajar di sekolah akan lebih banyak menyisahkan peserta didik yang jenuh dan “membunuh kesegaran berpikir” mereka. Kekakuan pola pendidikan seperti ini ditambah sistem FDS, hanya menghadapkan peserta didik dengan sekolah sebagai penjara yang ekslusif dan tidak adaptif terhadap realitas. 

Hal yang paling mungkin adalah dengan bertambahnya jam belajar siswa di sekolah selama 24 jam, akan turut menambah beban biologis maupun psikologis bagi peserta didik. Secara biologis siswa akan sulit beradaptasi terhadap pelajaran yang ia peroleh. Menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. LK Suryani, bahwa “lama belajar anak tidak boleh lebih dari 5 jam sehari. Selebihnya otak anak harus diistirhatkan dengan olahraga, kesenian atau kegiatan lain”.
     
Secara psikologis-pun, akan ada semacam beban psikis yang ditanggung oleh siswa karena kegiatan di dalam ruang kelas menyita waktu bermain mereka. Padahal itu sangat penting dalam mengimbangi proses berpikir mereka.  Anak seakan dipaksa belajar dan berada di sekolah untuk memenuhi target orang tua ataupula sekolah. Namun oleh sang anak bisa saja dirasakan depresif, disebabkan memendam kemarahan atas sistem sekolah yang telah membatasi ruang bermainnya seharian.
     
Apalagi dalam sistem pendidikan kita yang masih kurang memberi relevansi kondisi sekitar dengan ruang di dalam kelas. Pendidikan kita masih hanya menciptakan kelas sebagai ruang interaksional satu arah (pendidikan gaya banking, kata Paulo Freire), dimana siswa hanya sebagai penerima informasi dan guru adalah pemberi informasi satu-satunya. Sebenarnya praktik pendidikan seperti inilah yang harus dikritisi, agar pendidikan tidak hanya mengabdi pada diri sendiri, abai pada realitas dan pembentukan karakter peserta didik.  

Dunia pendidikan dasar dan menengah pun sebenarnya harus menanggung implikasi lain terkait kakunya pendidikan ruang kelas maupun kehadiran plan project, sang menteri. Misalnya dengan meningkatnya waktu sekolah, maka ketersediaan fasilitas belajar pun meningkat karena disesuaikan dengan jam belajar siswa yang full day. Apalagi untuk sekolah-sekolah swasta.
     
Secara finansial, kita memang harus mengeluarkan sejumlah anggaran yang besar demi perbaikan sumber daya manusia, namun secara substantif  model pendidikan dasar dengan sistem full day, yang masih menyisahkan kekakuan,  hanya akan menjadikan anggaran pendidikan terbuang percuma. Sebab fasilitas penunjang selama di kelas tentunya harus benar-benar disesuikan dengan kebutuhan peserta ketika di luar sekolah. Apalagi dalam kebutuhan full day.

Jika sekolah menginginkan untuk mengadopsi kondisi di luar sekolah ke dalam sekolah, maka sekolah pun wajib menyediakan itu. Namun secara psikologis, peserta didik agak kesulitan untuk lebih leluasa dalam me-refresh otaknya. Sebab bagaimanapun, pendidikan dengan full day school  tetap masih sarat akan formalisasi segala aktifitas peserta didik. Apalagi selama itu mereka hanya berada di sekolah.

Alasan untuk mencegah penyimpangan bagi peserta didik kiranya tidak bisa diterima begitu saja. Sebab tidak semua pendidikan informal berujung pada penyimpangan. Diluar sekolah ada banyak pendidikan informal yang bisa diikuti oleh siswa secara ringan dan tentunya menyenangkan. Pembelajaran di luar sekolah pun tidak dikemas se-formil di sekolah yang sarat dengan aturan-aturan yang cenderung juga memberi batasan bagi ruang gerak peserta didik. Di samping itu, ada banyak ruang-ruang belajar semisal komunitas, majelis kajian, sekolah minggu, dan lain sebagainya, yang bisa membantu mendorong pembentukan karakter peserta didik dari luar sekolah.

Selain itu, logika terbalik yang dapat kita pakai untuk mengurai alasan ini adalah, bahwa siswa yang punya waktu lebih di rumah, memiliki pendidikan keluarga, parenting education yang sangat baik pula, bahkan dalam bentuk pembinaan secara kekeluargaan, maupun pembinaan dapat berlangsung dengan begitu menyentuh secara emosional. Anak pun juga, dapat mengenali secara lebih dekat kondisi dan kejadian di masyarakat. Sebab relasi anak dan masyarakat tidak dipisahkan secara ketat.

Dengan kekakuan sistem pendidikan yang sangat menyita waktu peserta didik secara jenuh, hanya menjadikan peserta didik lebih canggung terhadap persoalan-persoalan pendidikan yang disajikan di sekolah-sekolah. Di lain sisi, harus secara riil diakui bahwa tidak semua orang tua memiliki kesibukan di luar rumah, seharian full. Sehingga masih ada kesempataan pembinaan di lingkup keluarga bagi orang tua terhadap anaknya, di samping secara psikologis anak membutuhkan keharmonisan atau kehangatan dalam keluarga.

Ketika waktu belajar anak dalam satu hari diambil alih oleh sekolah, maka sebenarnya sekolah-pun seolah sedang “menutup pintu” terhadap pendidikan informal maupun pendidikan di aras keluarga. Padahal kolaborasi antara pendidikan di keluarga, sekolah dan masyarakat adalah resiprok dan mutual. Apalagi dalam rangka menciptakan karakter peserta didik yang baik, maupun responsif terhadap realitas sekitar.

Menurut Driyarkarya, untuk membentuk generasi muda, sentuhan dari orang tua sangat diperlukan, karena orang tualah yang mempunyai tanggung jawab mendidik anaknya agar menjadi manusia dewasa yang utuh. Menurutnya bahwa “ pendidikan itu terutama harus  dilakukan dengan cinta kasih, dimana anak dan orang tua saling berkomunikasi. Setelah orang tua, sekolah dan masyarakat mempunyai andil dalam pendidikan orang muda, dan disini guru sangat berperan membantu orang muda menjadi manusia utuh (Driyakarya, 1991:16).

Proses “memonopoli” pendidikan yang dilakukan oleh sekolah selama 24 jam, dengan iming-iming dapat menjauhkan dari penyimpangan sosial, justru berbalik menjadi “jerat akademis” bagi peserta didik yang bukan saja secara psikologis, namun juga secara sosial. Setelah berada dalam tekanan sekolah yang semakin ketat, peserta didik akan cenderung depretif dan “anti pada realitas”.

Gaya pendidikan semacam ini juga menciptakan manajemen pendidikan yang hanya bertujuan menciptakan output peserta didik untuk tergantung kepada pasar kerja. Dalam artian, sekolah lebih mengejar mutu pendidikan melalui output kebijakan formil tanpa memperhatikan proses  yang terjadi. Padahal ketika proses mendidik digiring dengan baik, maka mutu lulusan pun akan baik. Bukankah manajemen sesungguhnya lebih menekankan bahwa, management by process, yang tentunya juga termasuk manajemen pendidikan?

Jika output peserta didik hanya bergantung pada pasar maka dunia pendidikan sesungguhnya akan dituntun untuk memenuhi “upah kerja” bukan sebaliknya menyelesaikan persoalan di masyarakat. Secara langsung kualitas pendidikan pun akan jauh dari persoalan-persoalan sosial namun dekat pada kepentingan-kepentingan individual.

Gaya pendidikan yang mengabdi pada pasar, cenderung menganggap ruang kelas sebagai lahan “mencari ijazah”. Mereka yang terdidik pun pada akhirnya cenderung menutup diri pada problem-problem sosial disebabkan lebih peka pada standar nilai yang telah ditetapkan dunia kerja. Dari sini dapat dirasakan bahwa atmosfir pendidikan yang demikian dikapitalisasi dengan dalih modal finansial semata, minus modal sosial. Sehingga kelak tidak mengherankan, akan ada generasi yang bersekolah hanya untuk menggantungkan diri pada dunia pasar.

Di samping itu, formalisasi pendidikan yang kaku di dalam kelas, tanpa “responsibilitas” yang cukup, hanya mengantarkan proses pendidikan sebagai sirkuit mengejar ranking tanpa paham pada realitas. Padahal tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia yang lain, atau pula menyelesaikan persoalan sosial yang memilih satu cognate dengan mencerdaskan “kehidupan bangsa” .

Di tengah dinamisnya perkembangan zaman dewasa ini, menjadikan pendidikan-pun harus mengadaptasikan diri dengan segala realitas yang terjadi. Menurut John Dewey, bahwa education is the means of social continuity  of life,  “pendidikan adalah alat kontinuittas sosial”. Semuanya dalam rangka menjawab tantangan zaman maupun menangkap peluang yang sedang terjadi.  Sehingga pendidikan tersebut, ‘peka” dan “hidup” di ruang-ruang sosial-kemanusiaan.

Kita memang tak menghindari peran sekolah, namun hanya membutuhkan keseimbangan peran sekolah dengan kebutuhan peserta didik secara psikologi. Di samping mempertimbangkan kebutuhan pendidikan agar relevan dengan masalah-nasalah sekitar kita. Sehingga sekolah-sekolah yang melaksanakan proses belajar, tidak hanya berhenti pada dunia kerja, namun turut menghasilkan peserta didik yang siap “bekerja untuk dunia”. (#)


Penulis adalah praktisi pendidikan dan INGAGErs dari Kota Ambon

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Senin, 19 Juni 2017 , ,

0 komentar for "Beban Sosio-Psikologis Full Day School"

BERITA TERBARU

KESEHATAN

SOSIALBUDAYA

Lingkungan

Internasional