Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau

"Pemuda Sulut Harus Menjadi Corong dalam Mengatasi Global Warming dan Climate Change"

Suasana dialog kebangsaan tentang Pemanasan Global dan Perubahan Iklim yang digelar GMKI, Jumat lalu.

Minahasa, detiKawanua.com -
Dampak pemanasan global harus diseriusi. Perubahan iklim tidak menentu sehingga membuat manusia sulit menerka apa yang akan terjadi, maupun dalam kurun waktu yang sukar diprediksi. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) menjadi garda terdepan menyuarakan ke masyarakat luas, terkait pentingnya menjaga lingkungan sekitar. 

Hal ini terungkap saat dialog kebangsaan GMKI bersama Surat Kabar Harian Manado Post, di aula ret-ret Wenas Kaaten Tomohon, Jumat (31/03) kemarin. Dialog bertemakan 'Dimensi Politik dan Sosial Pemanasan Global' ini, dihadiri beberapa unsur baik akademisi, gereja, aktivis, insan pers, pemuda dan mahasiswa.

Direktur Pasca Sarjana UKIT, Dr Welky Karauwan MSi membeberkan, masalah perubahan iklim telah merambah Sulut. Ya, lokasi yang seharusnya tidak terjadi banjir seperti di Perum Walian Kota Tomohon, menjadi bukti.  "Terkait permasalahan lingkungan, pemerintah jangan berorientasi sebatas masa kepemimpinan. Masalah ini akan bermuara ke anak cucu kita. Otomatis ini menjadi perhatian seluruh pihak untuk merumuskannya," tegas Karauwan.

Ketua Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sulut, Meidy Tinangon mengusulkan sebuah inovasi dengan menggalakan mapalus ekologi mengatasi hal ini. "Dengan mengangkat kearifan lokal yang ada, menjadikannya kekuatan mengatasi pencemaran lingkungan. Terpenting yakni komitmen bersama," terang Tinangon, yang juga ketua KPU Minahasa ini.

Sedangkan mewakili peran gereja, Sekretaris Umum Badan Pekerja Majelis Sinode GMIM, Pdt Dr Hendry Runtuwene ikut menyorotnya. "Empat hal yang menjadi target GMIM yakini pemberantasan kemiskinan, radikalisme, ketidakadilan hingga pencemaran lingkungan. Diperlukan, implementasi jelas untuk lebih intens diperhatikan apa yang menjadi isu lingkungan saat ini," tegas Runtuwene.

Berkaitan hal tersebut, peranan pers dalam menyuarakan perang pencemaran lingkungan juga dibahas. "Pers selalu mewujudkannya lewat pemberitaan masalah lingkungan baik banjir, longsor. Sengaja dilakukan agar masyarakat sadar pentingnya menjaga lingkungan sekitar," terang Kapantouw. 

GAMKI Minahasa-Tomohon dan KNPI Minahasa-Tomohon sepakat menyuarakan pemuda harus menjadi pelopor pelestarian lingkungan. "Hasil diskusi berupa rekomendasi wajib ditindaklanjuti eksekutif dan legislatif," tegas Ketua KNPI Minahasa Nicky Sajow, diamini Ketua KNPI Tomohon Arther Wuwung, Ketua GAMKI Minahasa Rendy Umboh.

Di mata kacamata aktifis sosial Dr Charles Tangkau, penerapan peraturan daerah yang pada dasarnya mengatasi masalah lingkungan, sepertinya sebatas angan-angan semata. "Perda yang dibentuk masih jauh dari harapan bila dilihat dari penerapannya, perlu ada penegasan kembali dengan menyuarakan ke pemangku kepentingan," tutur Tangkau.

Perwakilan GMKI pusat, Ruben Frangky Oratmangun menyimpulkan beberapa gagasan dalam diskusi, sangat positif. Bukan hanya untuk Tomohon-Minahasa atau Sulut, melainkan seluruh Indonesia. "Komitmen bersama dan berusaha mewujudkan GMKI menjadi corong bagi gerakan lainnya untuk terus berjuang mengatasi masalah global warming dan climate change ini," kunci Sekretaris Fungsional Hubungan Internasional PP GMKI, diamini Ketua GMKI Cabang Tondano Hanry Liunsanda dan Ketua GMKI Tomohon Michael Hansang. (*/Sandy)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Sabtu, 01 April 2017 , , , ,

0 komentar for ""Pemuda Sulut Harus Menjadi Corong dalam Mengatasi Global Warming dan Climate Change""

BERITA TERBARU

MITRA

TALAUD

KOTAMOBAGU

SOSIALBUDAYA

Lingkungan

Internasional