Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

"Kemerdekaan (Semu) dalam Ruang Simulakrum ala Jean Baudilard”

Oleh: La Fendi Tulusa

detiKawanua.com - Pukul 12.00 siang di sebuah taman yang berada di Ibukota Kabupaten penghasil beras (Baca: Bolaang Mongondow), duduk seorang bapak yang menjual bendera negara yang berwarnah merah dan putih. Ku dekati bapak tersebut dan kuajak berbincang-bincang tentang hari kemerdekaan yang akan jatuh tanggal 17 Agustus. Sambil menikmati hembusan angin selatan yang bertiup sepoi-sepoi, kami bercerita tentang sejarah perjuangan kemerdekaan yang tidak terlepas dengan pengorbanan darah dan nanah. Sipenjual bendera bertanya padaku dengan dialek daerah, “pak..kiapa Indonesia bagini trus kang??” (artinya: pak.,mengapa ya Indonesia begini terus?). Pertanyaan sipenjual bendera membuatku menarik nafas dalam-dalam,  ternyata sipenjual bendera ini turut risau dengan kondisi Indonesia. Saya jawab dengan penuh optimis, “Indonesia pasti akan menjadi negara maju pak.. asalkan pendidikan di Indonesia menjadi perhatian serius oleh pemerintah, kita tinggal menunggu waktu saja untuk itu” kataku.

Negara yang dihuni 200juta lebih Manusia yang tersebar dari Sabang-Merauke, dari Rote-Miangas, kemerdekaanmu yang ke 71 dipertanyakan oleh penghunimu. Usiamu bukan lagi seperti bayi yang belajar merangkak, tetapi seharusnya sudah mampu berjalan sendiri tanpa didikte oleh pihak lain. Presidenmu sudah yang ke 7 tapi kondisimu seperti manusia yang tidak mampu lagi berjalan karena sakit oleh penyakit yang semakin akut.


Setiap tahun kemerdekaan diperingati oleh anak-anak bangsa dengan penuh nasionalisme, rumah-rumah dan jalan-jalan dihiasi dengan bendera dan panji-panji Merah-Putih untuk mengenang para pejuang yang rela mati demi kemerdekaanmu yang bernamaINDONESIA. Kibaran bendera dilakukan dimana-mana, di laut maupun digunung sebagai kebanggan bahwa engkau dicintai oleh Rakyatmu.

Abad 21, Indonesia berada pada zaman kemerdekaan Hiperealitas, kemerdekaan yang dicapai bukanlah yang sesungguhnya. Perayaan/peringatan setiap tahun hanyalah momen agar tidak terlewatkan, bahwa di tanggal 17 Agustus ada sebuah Negara yang bernama Indonesia pernah mengalami fase kemerdekaan dari penjajah yang bernama Kolonial. Tetapi pada hakekatnya kemerdekaan yang dicapai adalah semu. Saya berani mengatakan demikian karena makna kemerdekaan yang sesungguhnya adalah terbebas dari segala bentuk intervensi dari pihak lain, baik itu presidennya maupun pemimpin lainnya di Negara ini.

Indonesia bukanlah negara kecil dengan sesuka hati diobrak-abrik, pemimpinnya di setir, pemimpinnya sering curhat di dunia maya, semakin banyak curhat semakin kelihatan cengengnya pemimpin. Kemerdekaan Indonesia tidak didapat melalui perjungan dunia maya melainkan lahir dari peluru-peluru yang sengaja dilepaskan oleh para pemuda lewat gerakan-gerakan gerilya.

Indonesia seperti negara simulasi dan menjelma menjadi suatu budaya sendiri, negara coba-coba, presidennya membuat kebijakan coba-coba, mengangkat para Mentri coba-coba, maka jadilah kemerdekaan yang hanya menampakkan keangkuhan elit politik. Ulang Tahun yang ke 71 bukanlah usia yang lagi muda, tetapi Indonesia harus berada pada zaman kematangan dan kemandirian, bukan lagi seperti bayi yang masih menyusui pada ibunya.

Laju perkembangan teknologi tidak bisa di rem, akibatnya generasi muda Indonesia terjebak dalam kubangan simulacrum karena pemimpinnya hanya sibuk dengan hal-hal kecil di negara ini. Kemerdekaan yang dipenuhi dengan tanda, warna, citra, gaya, nuansa namun tanpa makna, fungsi dan tujuan yang semakin membuat ruang maya menjadi satu arena simulasi yang menyebabkan suatu bentuk kekacauan.

Kemerdekaan Indonesia didominasi oleh simulacrum, yaitu tiadanya lagi batas antara yang nyata dan yang semu. Indonesia telah menjadi negara Imajiner dimana segala sesuatunya bersifat futuristik dan mimpi-mimpi. Dunia maya merupakan pemujaan berhala paling mutakhir yang dilakukan oleh generasi muda Indonesia pada umumnya bersifat konsumtif, rela menghabiskan rupiah untuk memenuhi hawa nafsunya yang bersifat semu, dan kemudian terpecah-pecah menjadi individu-individu yang aktifitasnya itu-itu saja.

Indonesia yang berada dalam jebakan simulacrum menciptakan hiperealitas komunikasi, media dan makna menciptakan suatu kondisi dimana kesemuanya dianggap lebih nyata daripada kenyataan, dan kepalsuan dianggap paling benar daripada kebenaran. Isu lebih dipercaya ketimbang informasi, rumor dianggap lebih benar ketimbang kebenaran. Kita tidak dapat lagi membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, antara isu dan realitas. Apabila dibiarkan maka racun simulacrum akan menjadi bius mematikan bagi bangsa Indonesia yang menyerang para generasi muda dengan mengabaikan nilai-nilai etika dan moral yang menjadi misi semua agama di Bumi.

Kemerdekaan menjadi tersandra oleh dunia simulasi yang dimainkan oleh para majikan pengambil kebijakan lewat mainan dunia maya yang mudah di akses dan diterima oleh  pecandu dunia maya yang sebagian besar adalah generasi pemegang estafet nasib bangsa.

Semoga Indonesia bisa keluar dari kungkungan kemerdekaan yang bersifat hiperealitas yang begitu mendominasi pemimpin dan seluruh penghuninya, sehingga negara ini tetap menjadi negara yang memelihara nilai-nilai luhur yang telah diperjuangkan oleh para leluhurnya.

#SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 71 INDONESIAKU


*) Penulis Adalah Mantan Ketua Umum HMI Cabang Gorontalo periode 2011-2012

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Rabu, 17 Agustus 2016

0 komentar for ""Kemerdekaan (Semu) dalam Ruang Simulakrum ala Jean Baudilard”"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional