Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

Simak, Polemik Tapal Batas Bolmong dan Bolsel Berujung Tak Selesai

Sengketa Tapal Batas (Ist) 

Bolmong, detiKawanua.com - Menyimak Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), saat ini masih berupaya untuk menyelasaikan persoalan tapal batas, pada titik 31 sampai 36 yang terletak di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolmong, kompleks eksplorasi tambang emas milik PT JRN (J Resources Nusantara).

Menurut Asisten I Pemkab Bolmong, Drs Chris T Kamasaan MM, memang 2014 lalu, ada pertemuan antara Bolmong dan Bolsel untuk membahas tapal batas.  Namun, belum ada titik temu terkait penyelesaian dalam mempertahankan posisi yang ada. "Bolmong mengacu ke perjanjian adat yakni itum-itum dan Bolsel mengacu pada UU Pemekaran,” ungkap Kamasaan.

Ia menambahkan, dengan tidak adanya titik temu itu, Pemprov Sulut langsung mengambil alih terkait perosalan tapal batas. “Karena mengacu pada PP (Peraturan Pemerintah) nomor 76 menyangkut tapal batas, apabila dalam tiga kali pertemuan terkait kesepakatan menyangkut tapal batas, otomatis langsung diserahkan ke Gubernur,” tambahnya.

Maka dari itu lanjut Kamasaan, antara Bolsel dan Bolmong langsung menandatangani berita acara tersebut. “Makanya dalam kesimpulan rapat tersebut langsung diserahkan ke Gubernur. Saya selaku ketua tim telah menandatangani berita acaranya,” lanjutnya.

Ia mengaku, sampai saat ini Pemkab Bolmong masih berjuang untuk proses penyelesaian tapal batal tersebut. “Masih diupayakan,” singkatnya.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Bolmong, Moh Syahrudin Mokoagow menuturkan, dalam pertemuan Senin (20/10) tahun 2015 lalu, justru tidak mengetahui kalau berita acara tersebut telah ditandatangani oleh Asisten I Pemkab Bolmong. “Setahu saya dalam rapat di ruangan Sekprov (Sekretaris Provinsi) itu tidak ada hasil. Tapi anehnya telah ada keputusan yang ditandatangani oleh Asisten I,” ujar Mokoagow.

Ia  menjelaskan, jika Permen terkait tapal batas bisa keluar otomatis ke depan yang dirugikan adalah Kabupaten Bolmong. “Bisa bayangkan jika royalty sebesar Rp18 miliar tidak masuk ke Bolmong. Padahal anggaran tersebut bisa diarahkan pada kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.

Sementara, terkait hal itu, salah satu tokoh masyrakat Desa Bakan (Desa yang menjadi persoalan soal tapal batasnya antara Bolmong dan Bolsel Red) Aden K Podomi, menjelaskan, memang masalah soal tapas batas ini, masih belum ada putusan tetap. Dilihat dari Pemerintah Bolsel, mereka memegang soal titik koordinat yang berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2008.

Nah, di Bolmong sendiri, pada awalnya, saat dimekarkan menjadi Lima Kabupaten dan Satu Kota, sudah pernah membahas soal tapal batas dengan Bolsel. “Kala itu, pemerintah desa pinolosian tengah, kecamatan pinolisian, kabupaten bolsel (dulunya masih masuk daerah Bolmong), bersama kabag hukum bolmong, pemerintah desa bakan dan dibantu pemerintah kecamatan Lolayan, telah sepakat batas wilayah antara Bolmong dan Bolsel dititik 31 sampai 36 itu masih masuk wilayah Bolmong. Maka dibuatlah tanda batas dengan menggunakan Kayu Tawaang (Tumbuhan yang biasa hidup liar di Hutan, dan biasa dingunakan sebagai tanda batas pada zaman dulu). Namun, pada saat ini batas tersebut sudah dibuat dengan menggunakan semen,”aku Podomi, yang saat itu turut mengukur tapal batas antara Bolsel-Bolmong.


Ditambahkannya, seharusnya Pemerintah Bolsel, tidak bisa memepersoalkan tapal batas ini. Karena wilayah Bolsel itu kan hanya hasil pemekaran dari Kabupaten Induknya (Bolmong). “Seyogianya, Pemerintah Bolsel bisa menerima soal luas wilayah yang dikasih oleh Kabupaten Induknya. Kami juga masyarakat disni, menginginkan masalah ini agar cepat selesai. Dan kami maunya wilayah tersebut, masih masuk dalam wilayah Kabupaten Bolmong,” tandas Podomi. (Tri Saleh)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Kamis, 16 Juni 2016 , , , , ,

0 komentar for "Simak, Polemik Tapal Batas Bolmong dan Bolsel Berujung Tak Selesai"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional