Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

Penegakan Perda Dinilai Tebang Pilih, Pemerintah Dianggap Diam di Tempat

Nampak terlihat beberapa kendaraan roda empat terparkir di Lapangan Sparta Tikala. Foto: v1c/dkc

Manado, detiKawanua.com - Lapangan Sparta Tikala yang disinyalir telah beralih fungsi menjadi lahan parkir kendaraan roda dua dan empat, dinilai salah satu pengamat politik pemerintahan Kota Manado sebagai contoh, bahwa, Pemerintah Kota (Pemkot) Manado tidak tegas dalam hal penegakkan Peraturan Daerah (Perda).

Penilaian tersebut datang dari Terry Umboh. Sebagai pengamat dan juga warga Kota Manado, Dirinya sangat menyayangkan tindakan yang dianggapnya sebagai tindakan "diam di tempat".

"Lapangan itu kan jelas bukan tempat parkir, lalu kenapa dibiarkan begitu saja para pengendara memarkir kendaraannya? Apakah pemerintah tidak melihatnya, ataukah memang sengaja dibiarkan?," kata Terry kepada detiKawanua.com, Rabu (25/05) tadi.

Selain itu, dirinya juga mencontohkan penegakkan Perda yang menurutnya, tajam ke bawah, namun tumpul ke atas.

"Pemerintah, kalau yang melanggar Perda adalah rakyat miskin, langsung ditindak. Bahkan cara penindakannya terkesan tidak manusiawi. Tapi kalau yang melanggar Perda adalah orang kaya, mereka dibiarkan. Pemerintah seakan-akan menutup-nutupi kesalahan mereka. Inilah penegakkan yang tajam ke bawah, namun tumpul ke atas," ungkap Terry.

Ditambahkannya, bukti kongkrit bahwa Pemerintah tebang pilih serta pilih kasih dalam menegakkan aturan, adalah penebangan pohon di Kelurahan Tuminting, Lingkungan II, Kecamatan Tuminting, pada beberapa waktu lalu.

Dijelaskannya lagi, karena yang melakukan penebangan adalah seorang pengusaha ternama di Kota Manado, maka pemerintah tidak memberikan sangsi sebagaimana yang telah diatur dalam Perda Lingkungan Hidup No. 19 tahun 2002.

"Dalam Perda Lingkungan Hidup Nomor 19 tahun 2002, apabila ada yang menebang pohon yang ditanam oleh pemerintah dengan sengaja, maka dikenakkan denda sebesar-besarnya lima juta rupiah (Rp500 000). Nah! Teman-teman pers kan juga mengikuti kasus tersebut. Dimana, karena Si penebang adalah orang kaya, maka tidak dikenakkan sangsi atas sebelas pohon yang telah ditebang," jelas Terry.

Terry pun berharap Pemkot Manado memperhatikan hal-hal seperti ini. Itu dilakukan agar supaya nantinya takkan ada kesenjangan sosial di tengah warga Kota Manado.

(v1c)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Kamis, 26 Mei 2016 ,

0 komentar for "Penegakan Perda Dinilai Tebang Pilih, Pemerintah Dianggap Diam di Tempat"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional