Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

HARDIKNAS; Mengurai Benang Kusut Pendidikan di Hari Bersejarah

Oleh: Syahrul, S.Pd

detiKawanua.com - Pagi-pagi buta suara handphone saya berdering kuat di tengah aktivitasku menyeruput kopi sambil membuka lembaran-lembaran buku bertemakan pendidikan. Di layar handphone kulihat nama yang tak asing lagi. Ternyata yang menelpon saya di minggu pagi ini tak lain adalah Bapak Kepala Sekolah yang merupakan Pimpinan saya di sekolah. Setelah mengucapkan salam, beliau langsung pada inti pembicaraan bahwa besok tepat di tanggal 2 Mei 2016 berdasarkan surat edaran dari Dinas Pendidikan setempat bahwa semua Guru untuk wilayah Pemerintahan Kabupaten Bolaang Mongondow diinstruksikan untuk menghadiri upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional yang berpusat di lapangan Kantor Bupati Bolaang Mongondow. Dengan segera kujawab siap pak, sebagai bentuk ketaatan dan loyalitas seorang bawahan kepada pimpinan yang seperti diketahui bahwa kebanyakan Kepala Sekolah di wilayah ini, berprinsip sedikit bicara banyak instruksi dan harus segera disikapi dengan kerja, kerja dan kerja, yang konon katanya ini bagian dari revolusi mental yang coba diterjemahkan lewat kinerja para Aparat Sipil Negara. Entahlah ... !!!

Harapan besar kembali bergelora di dada ini, sambil berkata di dalam hati, semoga kegiatan pelaksanaan hari bersejarah kali ini tidak sekedar kegiatan seremonial semata dengan berbagai kosakata dan retorika belaka, serta janji-janji yang menjadi syurga telinga bagi para pengabdi pendidikan yang selalu disampaikan oleh pemimpin Negara ini, mulai dari level pusat hingga daerah, dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, dimana peran guru menjadi sangat vital dalam membangun masa depan generasi bangsa. Namun Ironisnya, ancaman terhadap masa depan generasi muda Indonesia saat ini berada pada titik yang mengkhawatirkan. Secara nyata berbagai permasalahan sudah menerpa generasi muda Indonesia, seperti kasus begal yang melibatkan siswa-siswa sekolah, kasus kenakalan remaja seperti gang motor, vandalisme, tawuran antar pelajar, tingginya kasus narkoba termasuk di dalamnya Lem Ehabond dan Komix yang dikonsumsi secara berlebihan, ancaman terorisme yang melibatkan generasi muda, virus korupsi dan berbagai tindakan intoleransi akibat rapuhnya nilai-nilai kebangsaan, dan tak mampunya pendidikan dalam menciptakan generasi yang sadar akan perannya di masa akan datang.

Pelajar belum memiliki posisi tawar yang cukup memadai untuk menggambar kehidupan mereka sendiri. Mereka masih sangat terpinggirkan secara sosial, budaya, ekonomi, maupun politik.  (Syahrul)

Sekolah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi seseorang dalam menuntut ilmu, dan di sisi lain sampai hari ini pelajar masih menjadi kelompok bisu, bahkan di beberapa kesempatan terkadang pelajar menjadi komunitas yang sangat meresahkan. Seharusnya pendidikan itu bersifat memotivasi dan mendorong kreatifitas pelajar untuk mampu mengekspresikan dirinya secara positif, sehingga mereka betul-betul mampu untuk menjadi sang penerus generasi bangsa. Akan tetapi pendidikan yang ada kini, justru malah bertindak sebaliknya. Pendidikan saat ini yang dirasakan oleh pelajar bagaikan sebuah penjara dan menjadi sebuah kosa-kata yang paling tidak mengenakkan di telinga para kaum pelajar. Sehingga motivasi dan dorongan para kaum pelajar itu semakin berkurang, dan mengakibatkan kreatifitas mereka tidak mampu mereka kembangkan. Pelajar belum memiliki posisi tawar yang cukup memadai untuk menggambar kehidupan mereka sendiri. Mereka masih sangat terpinggirkan secara sosial, budaya, ekonomi, maupun politik. Mereka dieksploitasi, dijual karena keserakahan para pemangku kebijakan, mereka terabaikan karena keluguan dan ketakberdayaan mereka. Mereka menjadi generasi yang frustasi dan bermasalah karena adanya konstribusi signifikan dari sistem, mungkin saja sistem dan kultur yang membuat mereka menjadi seperti sekarang karena suatu sistem pendidikan yang buruk,  sehingga kreatifitas mereka berbuah menjadi sebuah kenakalan bahkan kejahatan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Itulah slogan yang sering kita dengar di republik tercinta ini. Pahlawan tidak selalu identik dengan mengangkat senjata dan berperang, meski sebagian besar penafsiran menyatakan, bahwa pahlawan adalah orang yang berjasa membela negara melalui medan perang. Namun sesungguhnya, siapa saja yang telah berjasa membawa bangsa ini menuju kemajuan baik di bidang sosial, budaya, teknologi, kesehatan, pendidikan dan lain-lain, yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia, maka patut kiranya kita beri julukan sebagai Pahlawan. Salah seorang yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia, adalah Ki Hajar Dewantara. Ia lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dan diberi nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, yang berasal dari keluarga di lingkungan keraton Yogyakarta. Saat usianya genap 40 tahun, ia berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Sejak saat itu Ki Hajar Dewantara tak lagi menggunakan gelar kebangsawanan Raden Mas di depan namanya. Hal ini bertujuan agar ia bisa bebas dekat dengan kehidupan rakyat tanpa dibatasi oleh ningrat dan darah biru kehidupan keraton. Atas jasanya dalam merintis pendidikan umum di Indonesia, Ki Hajar Dewantara dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 tertanggal 28 November 1959, hari kelahiran Ki Hajar Dewantar yaitu tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Dari waktu ke waktu iklim pendidikan berubah. Hal ini menyesuaikan dengan kebutuhan baik kebutuhan lokal maupun mengadaptasi perkembangan global. Kebutuhan industri (dunia kerja) dan perkembangan sosial budaya juga berperan dalam perubahan ini. Saat ini pendidikan Indonesia menuju pendewasaan yang entah kapan mencapai kemapanan. Berbagai peningkatan yang dilakukan seakan pencarian bentuk yang tiada usai. Kurikulum berubah dari waktu ke waktu, namun belum menunjukkan kemapanan dalam pencapaian. Bahkan, Guru, orangtua dan peserta didik menjadi bingung dengan berbagai perubahan ini. Karya-karya Ki Hajar Dewantara yang menjadi landasan dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia di antaranya adalah kalimat-kalimat filosofis, seperti "Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri hadayani" yang artinya "Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan", menjadi slogan pendidikan yang digunakan hingga saat ini. Adapun metode yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love) sehingga melahirkan “Manusia Merdeka”. Yang dimaksud dengan manusia merdeka, adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya, dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu, bagi Ki Hajar Dewantara, pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the head, the heart, and the hand”.

Lalu bagaimanakah makna hari pendidikan nasional sekarang ini? Apakah kita masih harus berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak? Tentu saja jawabannya iya. masih terlampau banyak permasalahan pendidikan yang hingga kini belum terpecahkan dengan baik, mulai dari terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, penyelenggaraan UN yang syarat kontroversi, hingga biaya pendidikan perguruan tinggi yang menjulang tinggi. Rasanya, dunia pendidikan kita semakin suram. Hampir setiap kali peringatan hari pendidikan nasional, mahasiswa, siswa, guru, dan orang tua selalu berdemo menuntut murahnya biaya pendidikan bahkan gratis, hapuskan UAN, sejahterakan para guru. Untuk itu, marilah melalui Hari Pendidikan Nasional (Hadiknas) tahun ini kita jadikan momentum introspeksi untuk mengoreksi diri, serta lebih memacu semangat berinovasi dan berkreasi guna penyelenggaraan pendidikan ke depan yang lebih baik.

Kegalauan terhadap dunia pendidikan kita memang penting. Kegalauan itu mengandung sifat yang reformis. Namun ia perlu diasah agar menjadi revolusioner. Yaitu dengan mendorong kegalauan tersebut ke level yang lebih radikal dan holistik. Menggunakan pembacaan yang historis dan dialektik terhadap kegalauan tersebut, akan jauh lebih bermanfaat untuk memperkaya diskursus kritis kita terhadap kondisi pendidikan hari ini. Dan pada akhirnya kita perlu menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggung jawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian dan ini menjadi PR kita bersama, Semoga ....!

Selamat Hari Pendidikan Nasional Untukmu Para Pengabdi, Penggiat dan Pelakon Pendidikan.
Bolaang Mongondow, 2 Mei 2016. (#)


Penulis adalah Guru Matematika di SMA Negeri 2 Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Senin, 02 Mei 2016

0 komentar for "HARDIKNAS; Mengurai Benang Kusut Pendidikan di Hari Bersejarah"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional