Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

Opini: Revitalisasi Dunia Pertanian di Simpang Jalan

Oleh : Muslimin Syahrijal
Penulis adalah Ketua Umum HMI (MPO) Cabang Mataram


detiKawanua.com - Pertanian adalah pohon kehidupan. Pernyataan ini searah dengan kondisi negri ini yang sudah lama dijuluki sebagai Negara Agraris. Tentu term “Agraris” tidak lah lahir diruang yang hampa. Fakta menujukan bahwa Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumberdaya alam (SDA), Indonesia memiliki potensi dibagian kemaritiman, sumberdaya hutan dan sektor pertambangan dab beberapa potensi lainya.

Diakui atau tidak, fakta dilihat dari sisi konteks kondisi sosial kemasyarakatan menujukan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia rata-rata banyak bertani. Hal ini searah dengan catatan WHO bahwa 20 juta masyarakat masih mendominasi wilayah pertanian (baca: masyarakat tani). Pada tahun 2003 kita masih memiliki petani sebesar 26,13 juta rumah tangga yang bergerak disektor pertanian dari jumlah total rakyat Indonesia sekitar 250 juta jiwa. (kompas 12, 2015).

Dalam kondisi demikian pertanian tidak bisa dianggap sepele akan kedudukan membangun perekonomian Negara. Berdasarkan BPS tahun 2002 sektor pertanian meyediakan sekitar 44,3 % sector lapangan pekerjaan meskipun hanya menyumbang 17,3% dari total Pendapatan Domestik Bruto Nasional. (blogspot.pertanian).

Realitas kondisi sokial seakan fakta akan keberadaan pertanian terkesan tidak mampu kita ilhami secara serius sebagai tameng Negara untuk mengeluarkan kita dari labirin kemiskinan. Ditengah melemahnya legitimasi ihtiar politik menjadi bukti bahwa keberadaan sektor pertanian tidak ditempatkan sebagai hal yang serius untuk membantu perekonomian Negara dengan jalur mewujudkan kedaulatan pangan. 

Kedaulatan Negara di tengah ambiguitas kondisi perkonomian yang tidak menentu, kematangan dan ketidakkejelasan arahnya, membuat urusan perekonomian masyarakat tani semakin terbelenggu, ditambah dengan minimnya dukungan politik yang serius untuk mengembangkan pembangunan sektor pertanian.

Ironis kemudian inisiasi pembangunan  tidak secara kontekstual bersamaan hilangnya pengakuan potensi daerah yang berbasis pertanian. Dengan sendirinya potensi pertanian terkikis, mata pencaharian masyarakat tani atas alih fungsi lahan dengan pola pembagunan gedung-gedung dan perumahan didaerah perkotaan  maka dengan sendirinya pontensi pertanian menjadi tersisihkan dari panggung percaturan peningkatan perekonomian.

Diakui atau tidak sebenarnya kita masih belum bisa memahami secara mendalam substansi dari pada “pembagunan berbabasisi kontekstual” (kontekstualisem devlomentalisem).  Minimal dalam kerangka sederhana  menempatkan potensi dari berbagai daerah adalah wahana kekayaan yang perlu dilestarikan. Dengan memberikan pengakuan untuk dikembangkan tanpa upaya sentralisasi secara merata dan buta dari berbagai daerah.

Dari fase pergantian kepemimpinan, Revitalisasi dunia pertanian menjadi hal yang tidak terlalu ditempatkan menjadi hal yang utama untuk dikembangkan dibiarkan berjalan seperti air yang mengalir tanpa ada upaya maksimalisasi pengembangan yang lebih serius. (Darman 2012) Ironisnya, kita lebih sibuk mengurus urusan demokrasi  yang tak kujung usai, terkesan menghamburkan ongkos negara yang banyak belum lagi hasrat berkuasa, gila jabatan dan menjadi realitas baru berada dibalik layar proses demokratisasi kita.

Mainset pembagunan rakyat dirasuki berubah ditopangi oleh tradisi hingga sadar atau tidak mainset pragmatispun terbentuk dan terbangun menggiring perkembangan perubahan masyarakat hingga dengan sendirinya dunia pertanian berada “disimpang jalan”  revitalisasi laiknya nyayian para eliti ketika menarik ulur hati rakyat untuk percaturan proyek opini memperubutkan kekuasaan dan jabatan.
Relitas dunia pertanian kita

Dalam konteks fakta meminimal ada beberapa hal yang membuat kita mendiskretkan dunia pertanian. Pertama kurangnya dukunga  politik. Para politisi lebih sibuk mengurus parai politik, kursi kekuasaa serta koalisi partai dan urusan demokrasi yang takunjung usai dibahas dimeja perbincangan kelas elit dan arus bawah.

Posisi perpolitikan kita lemah menginterfensi lahirnya beberapa kebijakan yang mendongkrak dan membentengi urusan kebijakan harga pertania, penetapan dan pengaturan dimana pasar (prosusen) dan rakyat tani (konsemen)  tidak dirugikan . Seringkali hal ini diabaikan hingga menggiring kepermukaan seolah bangsa lemah dalam memahami memenejmen dalam membagun Negara.

Politk kebijakan harga dengan melakukan intervensi pada alur kebijakan pasar hingga dengan sendirinya harga menjadi stabil. Sering kali mencuat adanya pembiaran oleh Negara dalam mengeluarkan perda dan permen dalam mengatur uursan harga sehingga para tengkulak jauh mengintervensi urusan stabilitas harga. railitas harga seringkali menjadi kendala yang terjadi hingga tak jarang bahan pertanian menjadi santapan dan lalapan para tengkulak dalam memaminkan harga tanpa ada pengawalan serius dalam menagangani dan memahami permasalahan ini.

Kedua adalah lahan. Revitalisasi lahan semakin hari seakin berlanjut, lahan produktif beralih sekitar mencapai 100 hektar pertahun dengan jumlah lahan persawahan yang ada sekitar 8,1 juta hektar. (kompas. Sel, 21 Aprl 2015). Jika tingkat pengalihan ini berlajut dengan tingkat pertumbuhan sekitar 1,6 % pertahun maka Negara akan lbih serius melihat kondisi pengalihan ini adalah penyakit serius yang mesti harus dihentikan.

Kondisi realitas kita mengancam keberlangsungan ekosisitem dunia pertanian, sementara yang terjadi dilapangan pengalihan lahan yang dialakukan seringkali mendapatkan lahan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dengan keberlanjutan proses pertanian kedepan dengan tingkat kesuburan lahan yang minim dan perawatan yang lama serta tingkat kepemilikan lahan Inilah fakta masa transisi yang panjang dari perkembangan dunia pertanian kita.

Ketiga adalah ambivalen dalam membina petani dan diskursus dalam pengunaan teknologi. Pegarahan dan pembinaan seringkali lamban terutama dalam hal pembinaan berbasis responsif terhadap teknologi baru dan bahkan konteks pembinaan tidak kontekstual.

Era kekinian merupakan era dimana masyrakat tani berada pada kondisi masyrakat melek informasi (senang mengabdet informasi) akan tetapi tidak berbanding lurus pada konteks persediaan dan pengunaan teknologi yang baru untuk penggunaan teknologi masyarakat.

Perkembangan dunia pertanian kita masih berada pada warisan oleh titipan nenek moyak dari jaman kolonial sampai sekaarang. hal ini mesti menjadi salah satu aspek yang mesti untuk diperhatikan secara serius untuk mengembangkan dunia pertanian kita hingga dengan sendirinya dalam era masayrakat global. Inilah kehawatiran masyarakat tani  kita akan tertinggal dengan sendirinya.

Keempat. Masalah pasar dan politik harga. Masyarakat kita masih belum mengerti persoalan pemasaran barang hasil tani mereka, seringkali sistem ini tidak diketahui secara mendalam hingga berujung pada monopoli oleh tengkulak. Tengkulak tidak hanya sekedar mengambil alih rantai pemasaran tetapi lebih dari dari itu mereka menguasai dan memainkan harga.

Ketersediaan pasar seringkali berujung pada kehilangan harga yang maksimal. Dengan pengertian lain masyarakat tani kebingungan menjual barang oleh karena kesediaan pasar khusus untuk persediaan barang yang tidak jelas. Dalam konteks ini para petani kita terpaksa akan menjual barang mereka dengan harga yang murah karenena prinsip barang pertanian tidak ada yang tahan lama.

Di lain sisi dalam kontes permasalah pasar dan harga ini semakin tidak menuai kejelasan disebabkan kurangnya proteksi harga oleh pemerintah dengan sendirinya masyarkat tani ibarat singgel fakter ditengah masyarkat global. Berjuangan dengan keterbatasan tanpa ada upaya yang mendalam dari beberapa pihak menelaah urusan dunia pertanian kita.

Dari beberapa persoalan di atas semestinya harus menjadi barometer untuk mengukur agaimana memahami dunia pertanian dan membagun kedepan. hal inilah yang memuat pertanian kita erada disimpang jalan.

Peran dan Menumbuhkan Petani

Membicarakan posisi petani dan dunia pertanian kita secara mendalam adalah kerja keras dari berbagai kalangan. Minimal merumuskan arah baru dan pengambilan peran baru untuk mempertahankan para petani dan dunia pertanian kita ditengah kondisi pertarungan masyarakat global.

Minimal sekarang kita harus akui bahwa ancaman mengikis dunia pertanian kita. Maka perlu pengkajian dari berbagai kalangan untuk membicarakan kembali arah pertanian kita. 

Dalam konteks revitalisasi pertanian kita minimal harus diprioritaskan dua hal yang harus tekankan untuk dikembangkan. Pertama adalah mendorong dan memagun paradigma masyarkat tani agribisnis kreatif. Masyarakat tani keratif adalah jalan baru untuk pemberdayaan masyarkat di tengah himpitan krisis lahan pertanian dan ketatnya persaingan masyarakat global.

Masyarakat tani kreatif adalah upaya memperdayaakan lahan yang sempit sebagai lahan potensial. Misalnya masyarSkat tani punya lahan 1 are ditanami dengan padi, tentu hasilnya sedikit dengan waktu yang sangat lama. Dan seandainya lahan tersebut ditenami dengan tanamani dengan tanaman yang memiliki umur yang pendek (sayuran, dll) maka hasilnya akan menjajikan dengan waktu yang relatif pendek. 

Konteks pembentukan masyarakat agribisnis kreatif juga harus diawali dengan pola peruahan cara pandang para petani yang tidak semestinya harus kita buat mereka terjebak pada pola gaya lama. Yang semestinya petani kita harus sudah  siap mengilhami kemajuan dan mengedepankan kreatif dalam bekerja dan memperdayakan diri mereka untuk terus berkarya dan menghasilkan prodak olahan baru.

Karakternya yang mau memperdayakan segala otensi kekayaan alam. Barang kerajinan dari hasil produk pertanian, hasil limbah perkebunan dan peternakan itu kemudian diolah menjadi hasil karya yang kemudian tetap mengambil posisi tawar dalam pasar lokal dan pasar nasional. maka perlu jalur ini sebagai jalan pintas untuk mengejar ketertinggalan dengan mengedepankan paradigma masyarakat agribisnis kreatif.

Kemudian kedua selanjutnya adalah protekteksi dari pemerintah untuk mengeluarkan dan segera merumuskan perda (peraturan daerah) untuk melegitimasi pembuatan  pasar pertanian dengan jalur kordinasi dan pengawalan oleh pemerintah sebagai jembatan. Dengan sendiriya masyarakat tani akan tetap bersemangat untuk melakukan proses kegiatan bertani dengan mengedepankan semangat di bawah perlindungan pemerintah.

Secara bersamaan legitimasi itu sendiri harus memberikan batasan pada tengkulak untuk beroperasi lebih jauh dalam menginterfensi jalannya jalur pemasaran dan permaianan harga yang membuat masyarakat tani tani akan mengalami kerugian yang besar. Dalam kondisi ini tengkulak tidak memiliki kewenangan dan tidak menjadi momok yang menakutkan bagi para petani.

Kemudian selanjutnya legitimasi yang fundamental adalah perlu adanya kontekstualisasi arah kebijakan peraturan daerah dan pusat untuk meletakan dasar dimana setiap wilaya dari berbagai daerah untuk segera memberikan kewenangan dan pengakuan terhadap potensi alam (potensi daeri setiap daerah). 

Pontensi jika diakui dengan jujur dengan sendirinya pola rekayasa pembangunan tidak akan memberikan kemerdekaan tersendiri untuk tidak terjebak pada logika sentalisasi dan hasrat pembangunan atas legitimasi kekuasaan. Dengan pengertian lain daerah tidak diseragamkan dan disamakan akan potensi dan kualitasnya dan tidak ada upaya industrialisasi yang memdorong kita terjebak pada pemahaman itu sendiri.
jalan sutra atas mimpi yang besar dengan usaha yang nihil harusnya kita sudahi hingga membuat kita terbenam dalam revitalisasi setengah hati, terpental dunia pertanian hingga berada di simpang jalan. Dan kembali terbangun untuk merumusakn jalan tengah untuk kembali mengedepankan dunia pertanian sebagai salah satu aikon untuk membangun perekonomian Negara. Semoga. (#)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Senin, 25 April 2016

0 komentar for "Opini: Revitalisasi Dunia Pertanian di Simpang Jalan"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional