Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

Jadi Tukang Sapu Mesti Bayar Rp 10 Juta, Pelajar SMA Ini Mengadu ke Bupati Brebes

Lanang (tengah) ditemani aktivis sosial menemui Bupati Brebes Idza Priyanti menyampaikan keluhan terkait dugaan pungutan liar oleh oknum petugas UPT Pasar Induk Brebes. /Ist

Brebes, detiKawanua.com
- Berniat menghidupi keluarga dengan meneruskan pekerjaan Ayah, pelajar SMA di Brebes ini malah 'diperas' oknum pengelola pasar.

Itulah pengaduan Lanang (20), seorang pelajar kelas XII SMA negeri di Brebes, Jawa Tengah, saat memberanikan diri menghadap Bupati Brebes Idza Priyanti.

Lanang saat ini tengah menunggu kelulusan SMA. Tekad Lanang hanya satu, yaitu ingin menjadi tukang sapu di sekitar Pasar Induk Kabupaten Brebes. Dirinya harus 'menggantikan' tugas ayahnya sebagai petugas kebersihan, karena Sang Ayah tercinta telah m meninggal dunia. 

Namun, beberapa hari terakhir ini, ia resah. Warga Kelurahan Pasar Batang, Kecamatan Brebes, itu mendapat informasi dari sesama petugas kebersihan bahwa untuk menjadi tukang sapu tetap menggantikan sang ayah, dia harus membayar sejumlah uang kepada oknum pengelola pasar setempat.

"Saya dapat informasi dari teman sesama petugas kebersihan kalau saya harus membayar sejumlah uang yang nantinya akan diserahkan kepada oknum UPT Pasar sebesar Rp 10 juta. Uang itu katanya sebagai syarat agar saya bisa menjadi tukang sapu di UPT Pasar Induk Brebes," ujar Lanang seperti dikutip Tribun Jateng, Jumat (29/4).

Informasi soal pungutan itu juga sayup-sayup terdengar dari oknum petugas UPT Pasar Induk Brebes. Petugas itu, kata Lanang, menyarankan agar ia menghadap bendahara dinas yang mengayomi pasar tersebut untuk memperoleh keringanan.

"Di sana saya diberi tahu soal pungutan liar itu, katanya mau dipinjami dulu, tetapi nanti pembayarannya dipotong gaji bulanan," kata dia.

Setelah menemui bendahara itu, besaran pungutan yang awalnya sebesar Rp 10 juta diturunkan menjadi Rp 2,5 juta. Lanang gundah, ia masih pikir-pikir untuk mengiyakan permintaan itu.

"Kalau memang prosedurnya seperti itu, ya sudah saya pasrah saja. Enggak apa-apa jika pembayarannya nyicil dipotong gaji bulanan saya," ujar dia.

Selama menggantikan tugas ayahnya sebagai tukang sapu, Lanang sudah pernah mendapatkan gaji satu bulan Rp 900.000. Sejak ayahnya meninggal, Lanang harus menjadi tulang punggung keluarganya.

Karena merasa resah, Lanang memutuskan mendatangi Kantor Bupati untuk bertemu dan mengadu kepada Bupati Brebes Idza Priyanti. Ia ingin ada jalan keluar atas masalahnya tersebut.

"Saya bingung harus bagaimana bisa membayar sejumlah uang itu. Makanya, saya ke sini dan alhamdullilah bisa bertemu Bu Bupati langsung," kata Lanang di Kantor Bupati Brebes, Kamis (28/4) kemarin.

Saat berdialog dengan Idza, Lanang ditemani aktivis sosial Aris S. Mereka menyampaikan keluhan tersebut dan mendapat respons langsung dari Idza.

"Alhamdullilah, Bupati langsung merespons dengan mendengarkan keluhan saya. Ibu Bupati juga langsung memberikan rekomendasi agar saya bisa jadi tukang sapu setelah saya lulus sebentar lagi," kata Lanang. (*/kmp/dkc)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Jumat, 29 April 2016 ,

0 komentar for "Jadi Tukang Sapu Mesti Bayar Rp 10 Juta, Pelajar SMA Ini Mengadu ke Bupati Brebes"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional