Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

Be(r)kas; KH. Arifin Assagaf, Sang Maestro Pelayan Kemanusiaan

Satu Tahun Haul KH Arifin Assagaf


Oleh: Indra Asiali
(Manusia Biasa yang Mancari Hidop di Kota Manado)


Nol itu wilayah komunikasi, wilayah konsepsi, dan wilayah pengertian.
Nol tidak bernilai matematis dalam kenyataan, tanpa ada nilai 1-9 yang menyertainya.
Tetapi sebaliknya, dalam kesadaran, Nol merupakan penentu 'benilai atau tidaknya' tindakan kita.
(Aminuddin Terune el-Shagir alias AA Ates alias Awan)


detiKawanua.com - Sekitar tahun 2000, saya diajak seorang kawan untuk belajar ilmu-ilmu sosial di 'Warung 2000'. Saat itu, sebagai anak desa yang menuntut ilmu di Kota Manado, saya kagum pada sosok pemikir muda, Amato Assagaf. Di mata saya (ketika itu), Amato berhasil memadukan nilai-nilai Marxisme dan tradisi-tradisi Islam, dan membantu mahasiswa-mahasiswa muda 'membongkar' pakem yang selama ini 'membebani' kebebasan berpikir.

Kekaguman terhadap ide-ide Amato itulah, yang mengantarkan saya bertemu (dan pada akhirnya berguru) pada almarhum KH Arifin Assagaf, ayahanda dan guru pertama Amato.

***

KH Arifin Assagaf, yang lahir tanggal 6 Januari tahun 1931 dan meninggal tanggal 13 April tahun 2015, merupakan sosok 'pelayan' (baca: pemimpin) yang kharismatik dan bersahaja. Dirinya mampu mengayomi segala 'kenakalan' kami (para muridnya) serta membimbing 'kecerobohan' kami (yang mengenalnya), tanpa memandang suku, agama, ras, golongan, jabatan, harta, dan segala bentuk perbedaan lainnya.


Kyai Arifin, begitu Beliau sering dipanggil, menggelar majelis mingguan di rumahya di Kelurahan Malendeng, Kecamatan Tikala, Kota Manado. Dan di sanalah, beberapa kali saya dan teman-teman seide mendapatkan beberapa 'pencerahan'.

Pendekatan dalam kajian agama yang diberikan Kyai Arifin, sangat pluralis. Sehingga bisa diaplikasikan dalam ruang yang lebih heterogen. Topik 'isi tapi  kosong, kosong tapi isi' di atas salah satunya. Menurut Habib Arifin, manusia terkadang memandang remeh terhadap sesuatu yang dianggap 'tidak ada' sehingga begitu terlena mengejar sesuatu yang 'ada'. "Keterlenaan itulah, yang mengakibatkan manusia, memandang rendah kelompok-kelompok yang berbeda dengannya, dan itu adalah malapetaka kemanusiaan yang terbesar yang pernah dialami umat manusia," demikian penjelasan Habib Arifin, saat itu.

Almarhum Aminuddin alias Awan (salah satu teman diskusi saya), ketika kami selesai mendiskusikan topik tersebut dengan Kyai Arifin, begitu terpesona dengan penjelasan Beliau. Bahkan, dirinya 'enggan' menyentuh kembali 'Renungan Fisika'-nya Dimitri Mahayana, sumber awal pertanyaannya tentang ide 'Nol/Satu'. Dirinya lebih tertarik menuangkan penjelasan Kyai Arifin dalam cerpen 'Kubaca Kau Selingkuh', dan mempromosikannya pada Buku 'Bukan Sekedar Cerpen' karyanya, di tahun 2006.

Bahkan Awan 'menantang' saya untuk keluar dari zona nyaman sebagai 'orang bawah' dan berani tampil menjadi 'orang atas', untuk mengejawantahkan ide-ide Habib Arifin tersebut. Saat itu, saya cuek saja dengan ocehan Awan, dan lebih fokus bermain 'petak umper' di Kampus Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Tantangan tersebut, baru coba diaplikasikan, ketika Awan meninggal dunia pada tahun 2007.

Kembali ke sosok Habib Arifin. Walau Beliau sangat pluralis, tetapi Almarhum begitu setia dalam menegakkan syariat agama, baik di dalam kehidupannya maupun dalam berbagi bersama umat. Kecintaannya terhadap agama Islam dan masa depan ummat Muhammad, tak akan pernah terlupakan oleh memori kolektif dari mereka yang mengenalnya. Salah satunya dengan mendirikan sekolah Islam, sebagai wadah untuk mendidik akhlak generasi Muslim di Kota Manado.

"Saya masih ingat, pada tahun 1985, saya bersama beliau menjadi menjadi pelopor berdirinya Al-Khairat di Kota Manado dan juga pesantren Al-Khairat. Karena pesantren Al-Khairat belum memiliki guru bahasa Inggris, almarhum bersedia menjadi guru bahasa Inggris. Bukan itu saja, almarhum juga menjadi guru matematika. Begitu besar peran almarhum dalam membangun akhlak masyarakat, yang takkan pernah saya lupakan," ujarnya Ketua MUI Sulut Abdul Wahab Abdul Gafar, ketika menggambarkan sosok Beliau.

Yah, Habib Arifin habiskan usianya untuk melayani kemanusiaan, dan tidak ada pelayan sebaik Beliau di Kota Manado. Beliau adalah pelayan ummat yang melayani tanpa pamrih. Maestro Pelayan Kemanusiaan di Indonesia pada umumnya, dan Sulawesi Utara pada khususnya.

***

Tulisan ini memang BE(R)KAS. Terserah Anda membacanya seperti apa. Yang jelas, dalam pemahaman saya, sebuah 'bekas' bisa ditemukan dalam 'berkas'; dan sebuah data (misalkan 'berkas') memiliki nilai walau sudah usang (dan dianggap 'bekas'). Seperti KH Arifin Assagaf. Beliau adalah be(r)kas bagi eksistensi saya di Kota Manado.

Dan hari ini 13 April 2016, tepat satu tahun Haul (baca: wafatnya) KH Arifin Assagaf. Tulisan sederhana ini, sengaja dibuat untuk me-refresh ingatan kita bersama, akan sosok Beliau. Walau pasti, tulisan ini, jelas tak mampu mengurai segala kebesaran dan pengorbanan Beliau dalam melayani kemanusiaan.

Seperti kata Muhammad Nur Andi Bongkang, "Tak banyak yang bisa kami ingat dari karya-karya Beliau", namun yang pasti, petuah Beliau di antaranya 'Jangan Suka Berdusta, Jangan Mengambil Hak-hak Orang Lain, dan Menyayangi Sesama', menjadi amanah yang harus kami patuhi dan amalkan.

Salam untukmu, Sang Maestro Pelayan Kemanusiaan.
Salam penuh kasih untukmu, Wahai Guru.
Shalawat serta salam teruntuk kekasihmu dan datukmu Rasulullah Saww. [#]


Wahai guru
Wahai sayyidi
Wahai habibi
Wahai cahaya pelayanan
Wahai samudera cinta
Tak kan kulupakan petuah-petuah dan jalan yang telah engkau rintis berkat Ridha Allah SWT.
Jalan panjang yang engkau sibakkan kembali menyambung jalan utama yang dibuka oleh kekasihmu dan Datukmu yang agung Rasulullah Muhammad Saww dan ahlul baitnya.
Kan ku jaga petuahmu
Kan ku jaga warisanmu
Kan ku arungi jalan-jalanmu
Kan ku sambung jalan-jalanmu
Agar dengannya ada yang bisa melewatinya dan menikmati keindahan jalanmu.
Biarlah dan ridhailah aku menjadi pelayan bagi warisanmu, agar Allah SWT meridhaiku menjadi pelayan.
Aku mungkin tidak bisa menjadi pelayan yang baik seperti dirimu, tapi setidaknya aku sudah berupaya untuk menjadi pelayan.
Mewarisi dirimu menjadi pelayan kemanusiaan di antara banyaknya pelayan-pelayan yang ada.
Agar kelak di hari akhir aku bisa berdiri di belakangmu di antara banyaknya para pelayan.
(Muhammad Nur Andi Bongkang)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Rabu, 13 April 2016

0 komentar for "Be(r)kas; KH. Arifin Assagaf, Sang Maestro Pelayan Kemanusiaan"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional