Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

Belajar Yakin dari Kekalahan Barca

Oleh: Jufra Udo.

Penikmat literasi. Tinggal di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
 
detiKawanua.com - Dunia seakan kaget. Kala itu, Atletico Madrid tampil meliuk-liuk di bawah kaki raksasa dunia, kaki raksasa itu seringkali tertipu oleh gerakannya sendiri.

Tak sadar, bola sudah bergerak menyasar area pertahanan sendiri, tentu repot dan tak bisa dijeda. Begitu jagonya Atletico Madrid mengelabui raksasa.

Takdir itu telah berbahasa dengan caranya sendiri. Barcelona gigit bibir, kalah dan tertahan takdir untuk meneguk kehormatan juara.


Gelar prestisius itu termuntahkan bak permen yang belum puas dilumat. Dan Atletico Madrid berubah menjadi pembunuh beraliran darah dingin.

Sekejap juga lini massa media sosial, tampil bak pengamat siang bolong. Bersahutan omelan, cemoohan yang mengganggu mata, dan perasaan pendukung Barca, panggilan mesra klub raksasa itu.

Saya pun yang terlanjur idolakan klub ini, lebih-lebih sama trio Messi, Neymar, dan Suarez (MSN), tak menyangka kejadian ini terjadi.

Apalah daya. Yang dianggap kuat seringkali disebut tetap kuat atas mereka-mereka yang lain. Saking kuatnya, teman-teman dekat saya, yang baru saja telan ludah pahit,  acap sesumbar, klub Barca diklaim tak terkalahkan. Akhirnya klaim sesumbar beroleh trah tersendiri, menjadi mimpi buruk.

Lihat juga: (Opin) Pembibitan Radikalisme di Mesjid Kampus

Seperti itulah adanya. Bahwa di alam raya ini, kekuatan anggapan jangan mengelabui mata kita yang selalu tunduk pada mayoritas.

Anggapan mayoritas boleh saja menentukan sebagai sumber yang terkuat. Tapi, tidak berhak menunjuk diri sebagai rujukan yang paling benar. Begitu juga, bagi yang minoritas, jangan terlalu pesimis. Tak ada kebenaran mutlak dalam anggapan.

Dalam relasi sosial, anggapan itu dualistik. Seperti halnya jajak pendapat, siapa pun yang mendapatkan belahan jajak terbesar, ialah yang berhak diputuskan sebagai sumber yang kuat karena mayoritas.


Pada realitasnya, setiap minoritas juga punya rujukan yang diklaimnya valid dan benar. Karenanya, ke-minoritasan itu dianut kuat sebagai hal yang shahih.

Pada dasarnya, letak keyakinan yang bertolak pada anggapan adalah usaha untuk mencapai orientasi anggapan. Karenanya tidak boleh diputuskan sebagai yang paling benar, jika sekedar didasarkan pada  mayoritas. Usaha selalu saja dinamis dan berubah.

Akhirnya, usaha Atletico Madrid berhasil mengalahkan anggapan kita. Sebagai klub yang terbilang kelas menengah, sukses merobohkan si raksasa klub sepakbola kenamaan dari Spanyol tersebut, Barcelona.

Mari kita ngopi sama-sama, menanti mayoritas lain ditumbangkan! (*)

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Jumat, 15 April 2016

0 komentar for "Belajar Yakin dari Kekalahan Barca"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional