Headlines
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
  • data:post.title
Pratinjau
Pratinjau
Pratinjau

OPINI: Kemerdekaan Akademik dan Pendidikan Kambik (Membaca Suku Moi dalam Setingan Alam Pikiran)

Oleh: Yuliana AMtbw, SPd, MPd


Pengetahuan itu melakukan perubahan 
tetapi imajinasi itu akan mengalami loncatan dan perubahan besar

Muqqadimah

detiKawanua.com - Realitas hidup akan diperhadapkan dengan dua misi besar dalam pandangan penulis, antara lain adalah misi evaluatif dan misi transformatif. Ini menjadi perenungan dalam desain dan mainstream kehidupan yang terus berdinamis. Memang kata pendidikan jika menjadi hal yang sangat seksi dan menjadi alat vital jika perkara ini dikaitkan dalam pandangan M. Foucault  tentang politik tubuh. Analogi politik tubuh dalam perspektif tubuh adalah lokus dan tubuh yang sensitif, tetapi kemanusiaan itulah pendidikan.

Pendidikan hangat dibicarakan dimana-mana dan jauh lebih wibawa ketika kultur pendidikan ini dihidupkan. Gagasan dasar/fundamental karakter dalam kemerdekaan akademik itu sendiri tidak harus berada pada pendidikan yang berlevel tinggi dan bergelar Profesor, tetapi dalam kemerdekaan akademik bisa memberikan pandangan yang bisa menciptakan kedamaian jiwa atau dalam pandangan Platonisme jiwa berkolega.

Baca juga: ARTIKEL: Mengenal (Beberapa) Raja Kaidipang, bagian terakhir

Sekolah kapan saja orang belajar dari luar institusi sekolah, dan bahkan di negeri ini bisa membantu kita dalam mempertegas sebuah perjuangan, bahwa orang yang tingkat pendidikannya rendah tetapi bisa berprestasi, karena berkat kerja kerasnya.Jadi tesis tentang menjadi pemimpin harus orang bersekolah dan pendidikan tinggi itu semua terbantahkan dengan adany sosok pemimpin yang kita sebut saja ibu Susi Pudjiastuti, yang memberikan kuliah umum di salah satu kampus ternama di negeri Paman Sam. Fakta ini menjadi gambaran dari kebebasan akademik, narasi profesionalisme dalam ruang publik edukasi.

Imajinasi Kemanusiaan (Pendidikan Humanis)

What is Kambik? Sebelum kita menarasikan tentang "Pendidikan Kambik" (pendidikan adat suku Moi). Hal yang penting penulis sampaikan bahwa, orang Moi adalah suku asli Papua yang berposisi di kepala burung pulau Papua sampai dengan nyili Raja Ampat (Baca: Ulim). Orang Moi banyak memiliki falsafah hidup, bahwa: hidup itu sesungguhnya menghidupkan orang lain. Falsafah hidup itulah sangat berpengaruh pada kedamaian dan toleran tinggi.

Penulis memaknai kemerdekaan akademik, adalah kebebasan berbicara wilayah keilmiahan, menyelamatkan pemikiran, menyelamatkan ketidak tahuan, mendorong keterlambatan berfikir dan progresif aktivitas dan bukan romantisem semata.tafsir ini tidak terbatas dan absulut memiliki kebenaran, tetapi tafsir ini sebagai silogisme pemikiran dalam membaca suatu kontek.

Simak juga: (ARTIKEL) Pertemuan denganmu kecintaan diriku, Melihatmu keperluanku

Kambik adalah sistem pendidikan Moi, sistem pendidikan yang menciptakan sumberdaya yang bisa berefek kepada kepentingan masyarakat atau orang-orang Moi. Pemilik ulayat di tanah Sorong Raya ini, telah ratusan tahun menyimpan potensi dan memiliki sistem pendidikan yang luar biasa dengan mempertegas dan mengajarkan tentang hakekat kehidupan. Sistem pendidikan Moi ini penulis teringat dengan pendapat yang disampaikan oleh Ibnu Khadun (Baca: Bustamin), bicara pendidikan ada dua hal yang pertama, pola pendidikan yang belajar dari alam dan pola pendidikan yang diajarkan oleh para ulama dan guru. Penjelasan ini kontennya sama persis seperti orang-orang Moi berimajinasi dalam mencari kemuliaan.

Pendidikan adat orang Moi secara usia ratusan tahun yang lalu sebelum model pendidikan modern masuk setelah perang dunia  (PD) kedua. Sistem pendidikan kambik, diikuti jika anak yang sudah beranjak dewasa dan proses pendidikan kambik itu sendiri sangat selektif dan terseleksi. Pendidikan kambik ini sangat ditekankan kepada beberapa hal yang menjadi dasar hidup sehingga alumnus dari pendidikan kambik itu bisa bermanfata bagi orang-orang Moi itu sendiri. Pendidikan Kambik mengajarkan tentang manajemen kepemimpinan (generasi pewaris pucuk pimpinan/kepala suku), pengobatan penyakit (ramuan dan bahasa hakikatnya), mempelajari tentang kondisi alam (cosmologi analisis), dan belajar tentang adat istiadat. Model pendidikan ini sangat mendasar dalam memiliki metode pengetahuannya, instrumen, beridiologis dan keyakinan tinggi.

Semangat pendidikan Kambik ini bisa memberikan propaganda positif terhadap potensi dan peningkatan kemampuan generasi orang-orang Moi ke depan. (Yuliana)

Pendidikan Kambik (pendidkan sakral Moi), mendesain dan memiliki alumnus sesuai dengan tingkatannya masing-masing, misalnya: Ulibi (lulusan sekolah dasar) dan diberikan gelar Unsulu, ini gelar terendah. Sedangkan gelar tingkat berikutnya adalah Untlan dan Kmaben adalah tingkatan tertinggi yang mengakhiri proses pendidikan Kambik. Kelas tertinggi ini adalah akhir dari pada sistem pendidikan kambik yang dalam pandangan orang-orang Moi ini berada pada dua alam kemestaan. Orang-orang yang mokam tinggi dan berada pada dimensi realitas rasional dan realitas mistisisme (alam hakekat), dan produk pemikiran ini bukan berada pada dimensi rasionalitas-empirik yang diharapkan Cartesian dan Empiric Locke. Atau dalam alam pemikiran Aristoteles (baca: Doni Gahral Adian) disebut sebagai; “yang ada sebagai yang ada” (being qua being) yang kemudian hari dikenal dengan ontologism. Pendidikan Kambik memiliki dasar kamar dalam pandangan epistimologi yang kuat dengan kekuatan alam sebagai sumber pengatahuan, akal sehat dalam alam pikiran mereka.

Rutinitas pendidikan Kambik ini dalam pandangan gerakan gender tidak membebaskan, alasan yang sangat mendasar adalah dalam sistem pendidikan Kambik wanita/perempuan tidak diperbolehkan untuk mengikuti pendidikan sakral tersebut. Ada satu hal yang dijadiakan alasan, karena dianggap perempuan/wanita itu dikhawatirkan mereka menikah/berkeluarga dengan suku selain Moi itu akan terbongkar rahasia di dalam rahasia orang Moi. Argumentasi lain, bahwa itu adalah pendidikan rahasianya seorang lelaki sehingga tidak diketahui oleh suku lain.

Pengakuan sebagai respon yang positif sebagai kontra prestasi, sistem pendidikan Kambik dilakukan berjenjang ada yang 6 bulan, 12 bulan dan paling lama adalah 18 bulan, itu semua direncanakan melalui sosial kesepakatan dari tokoh-tokoh adat yang memiliki relasi kuasa kemanusiaan. Pendidikan sakral ini telah diamanahi dan sudah mengidiologis dan amanah kuno, sehingga marga Ulimpa sebagai marga yang bertanggung jawab atas hak deontologisme sakral melaksanakan pendidikan Kambik. Pelasanaan pendidikan Kambik di desa/kampung Klaben, yang disedihkan adalah sistem pendidikan Kambik ini sudah tidak lagi dilaksanakan pada tahun 1942 sebelum Indonesia merdeka paska perang dunia (PD) kedua.

Pendidikan Kambik (Melampaui Ambang Batas)

Orang Papua melampaui ambang batas. Kalimat ini tidak menjadikan kita sombong dalam narasi. Tetapi ini setelah observasi dan wawancara dan berbagai referensi. Orang Moi sebelum sentuhan pendidikan modern mereka sudah bisa mengelolah model pendidikan kultur, lebih lagi ketika kita bicara masalah bettcur tradisonal, model pengelolaan sistem politik dengan menggunakan simbolisasi kepala suku sebagai pemimpin adat mereka. Nah penjelasan itu memberikan gambaran mereka memiliki peradabannya sendiri, dialektika peradaban ini membutuhkan sistem pendidikan yang menkontruksi wilayah kesadaran mereka dalam desain sistem sosial politiknya.

Sebagaimana sebelumnya pendidikan kambik mendidik generasi tentang kepemimpinan, berobat secara tradisonal, peramalan dengan pendekatan alam semesta dan memahami eksistensi diri. Dalam kajian tarekat islamdiknal dengan wilayah Ma'rifatullah, dengan metode dan model sendiri. Semangat pendidikan Kambik ini bisa memberikan propaganda positif terhadap potensi dan peningkatan kemampuan generasi orang-orang Moi ke depan. Meraka mampu berfikir untuk membentuk kekuatan edukasi melalui kesepakan di forum adat, semangat ini merupakan roh dan spiritnya kearifan lokal (local wisdom). Roh kebersamaan sosial bagian dari pada nenek moyang sosialism itu sendiri yang di jelaskan oleh Tan Malaka (baca: Tan Malaka), bahwa kebersamaan sosial itu berbagai bidang itulah karakter kehidupan kita yang sosialis purba mengedepankan kebersamaan.

Bicara pendidikan Kambik dalam data banyak menyebutkan bahwa, pendidikan kultur ini diberikan otoritas sakral kepada salah satu marga untuk bertanggung jawab dalam hal pengelolaan. Marga Ulimpa adalah marga yang bertanggung jawab dalam mengelola pendidikan Kambik itu sendiri. Dilihat dari perspektif ini orang-orang Moi (Papua), sudah mendesain model pendidikan dengan membagikan wilayah kerja.Kajian pendidikan Kambik (culture education) dalam pandangan Habermas (baca: Dalam Diam Kita Tertindas) Knowledge and Human Interest, ada tiga hal; pertama, Interpretation Knowledge; kedua, Instrument Knowledge; ketiga Critical/Emancipation Knowledge. Jadi pada poin ketiga, critical/emancipation knowledge (kesadaran transfomatif-red) yang dibicarakan oleh Habermas, patut kita tularkan kepada kaum perempuan Moi, bahwa sesunggunya mereka harus mendapatkan kemerdekaan dan pembebasan dari kebodohan dan ketidaktahuan. Sehingga sistem pendidikan yang dibangun oleh orang Moi menyentuh pada substansi mendesain alam pikiran yang dimaksudkan penulis pada tema di atas.

Catatan penting dari narasi kedoxan ini, semangat dalam membangkitkan pendidikan Kambik ini harus dihidupkan kembali. Walau hegemoni dan penyebaran pemikiran modernitas Barat yang terus menggurita. Orang-orang Moi sekarang di dunia pendidikan tidak bisa diremehkan proses pendidikannya, baik dari sarjana, masgister dan doktoral pun bermunculan. Semangat dalam melangsungkan pendidikan di generasi Moi terus saja mengalirkan produk politisi, ilmuan, birokrat dan bahkan bupati. Itu menggambarkan bahwa peran pendidikan Kambik orang-orang mendesain pemimpin masa depan. Penulis sependapat dengan tulisan Pastor Josep L Sena tentang, “Saatnya Orang Moi Jadi Pemimpin: Sebuah Provokasi Positif Jelang Pilkada 2017”. (www.radarsorong@gmail.com).

Ruang pendidikan Kambik, jika kita sandingkan dalam teori wacana Foucault (baca: Rizal Efendi), analisis ini menggunakan kekuatan postrukturalisme yang berada dengan strukturalis, hal yang positif sebagai gagasan alternatifnya adalah penerapan pembedaan yang sehat itu bagian dari pada batas-batas kebiasaan tertentu dan membutuhkan keberanian yang berbeda. Orang Moi bisa menggandengkan kekuatan pengetahulan modern, agama dan pendidikan kulut berbasis kearifan lokal sebagaimana yang dilakukan oleh Surawardi dan M. Sadra dalam menafsirkan filsafat Islam kemodernan.

Penyebutan sarjana di kalangan orang Moi tidak diragukan lagi, tingkatan-tingkatan pendidikan sampai doktoral. Yang harus disadari adalah jangan melupakan semangat awal dalam berpendidikan yaitu pendidikan kambik, karena sistem pendidikan Kambik adalah pendidikan kultur yang bisa disandingkan dengan sistem pendidikan formal. Atau diantara keuda model pendidikan ini bisa berjalan bersama dan semua berada pada posisi yang strategis. Sejujurnya banyak generasi Moi yang berstatus sebagai mahasiswa (responden) jika kita Tanya tentang sistem pendidikan Kambik justru mereka tidak mengatahuinya, mereka binggung harus menjawab apa, mata merak bergerak menunjukan persis mereka tidak tahu. Hal ini gambaran bahwa tingkat kelupaan dan ketidak tahuan terhadap generasi tentang pendidikan Kambik semakin mengakar. Kebijakan dan sosialisasi tentang sistem pendidikan Kambik menjadi penting di sekolah-sekolah dan publik, sehingga ini menjadi ingatan pengetahuan masyarakat. (#)


Penulis adalah Pedagogik di FKIP UM-Sorong

Di Postkan Oleh Info detiKawanua | Selasa, 22 Maret 2016 ,

0 komentar for "OPINI: Kemerdekaan Akademik dan Pendidikan Kambik (Membaca Suku Moi dalam Setingan Alam Pikiran)"

BERITA TERBARU

MITRA

KOTAMOBAGU

----->SOSIAL/BUDAYA

----->OLAHRAGA

Lingkungan

Internasional